YOUR INDONESIA CITIES GUIDE

banner-image

Gadis Pramugari Part 2

Note : 21+ Only

 

“Baik mas, hati-hati selama penerbangan ya mas, tolong sampaikan permintaan maafku sama ayah dan ibu karena belum bisa menjenguk ayah mas”.


“Baik dek, nanti mas sampaikan”.

Kemarin malam, terakhir kali Laras mendapat kabar dari Raka. Bahkan setelah sampai di Solo Raka tidak memberikan kabar kepada Laras. Sehingga ia memutuskan untuk menelepon ibunda Raka untuk menanyakan keberadaan kekasihnya.

“Iya ndok, Raka tadi sedang mandi waktu ibu menemani ayahnya Raka di kamar. Sepertinya Raka keluar rumah ketika ibu lagi di kamar. Memangnya kamu Ndak diberi tahu Raka pergi kemana ndok?”


“Mungkin mas Rakanya belum sempat ngabarin saya Bu, nanti juga mas Raka hubungin Laras. Atau nanti Laras yang hubungi mas Raka lagi Bu”


“Mungkin anak itu pergi makan dengan lettingannya ndok”


“Iya Bu tidak apa – apa, oiya Bu… bagaimana keadaan Ayah, apakah sudah lebih baik Bu? Laras minta maaf ya Bu karena belum bisa menjenguk ayah. Rekan dokter Laras di rumah sakit sedang cuti melahirkan, jadi belum ada dokter pengganti Bu selama sebulan ke depan”


“Iya ndak apa – apa ndok, kamu konsentrasi saja sama pekerjaan kamu, ibu bangga sekali mendapat calon menantu seperti kamu”


“Saya yang bahagia Bu, bisa menjadi calon istri mas Raka dan mendapatkan ibu mertua sebaik ibu”


“InsyaAllah minggu depan ayah dan ibu akan segera datang menemui orangtuamu. Ayah dan Ibu sudah tidak muda lagi, pingin cepat-cepat menimang cucu. Nanti ibu bilang sama Raka untuk mempercepat pengajuannya ke kantor, jangan nunggu – nunggu lagi”


“Iya Bu, Laras nurut saja sama Ibu”
Laras menutup panggilan telepon itu dengan tersenyum bahagia. Ia merasa sangat bahagia, sebentar lagi mimpinya menjadi pendamping hidup Raka akan segera terwujud.

✈ ✈ ✈

Ketika hari menjelang malam Raka belum juga mengabari Laras, sehingga ia memutuskan untuk menghubungi Raka kembali.

Setelah panggilan yang kesepuluh, terdengar lah suara Raka diseberang sana.

“Iya dek, ada apa?”


“Mas Raka lagi dimana?”


“Aku lagi dijalan, mau ketemu senior”


“Kamu nanti pulang jam berapa mas, biar nanti aku hubungi lagi”


“Kamu tidur duluan saja, seniorku ngajak kumpul-kumpul, bisa – bisa larut malam aku baru pulang”


“Iya mas, hati-hati dijalan, jangan pulang malam-malam mas”


“Iya dek”


“Mas aku…”

Tut … belum sempat Laras mengakhiri kalimatnya, panggilan telepon itu terputus dengan cepat.

Laras pun bergumam pelan “Aku cinta kamu”

Laras menghela nafas panjang, ia membatin “Kenapa firasatku nggak enak begini ya, tetapi tidak mungkin mas Raka berbohong kepadaku”

Firasat Laras semakin diperkuat dengan pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya, Elizabeth, yang masuk satu jam kemudian.

“Ras, apa kabar? kamu lagi ngapain? kalau kamu lagi nggak sibuk tolong hubungin aku ya”


“Hallo Beth, apa kabar?”


“Kabarku baik, kamu apa kabar say?”


“Alhamdulillah baik Beth, kamu masih di Solo Beth”


“Iya Ras aku masih di Solo”
jawab Elizabeth dengan cepat, tidak sabar menanyakan pertanyaan berikutnya.

“Ras, kamu lagi dimana nih sekarang”


“Aku lagi di kamar Beth”


“Kamar kamu yang dimana say? di rumah Solo atau di Jakarta?”


“Di rumah orangtuaku yang di Jakarta, kenapa sih Beth? kok kayanya penasaran banget nanya-nanya rumah”


“Trus pacar kamu lagi dimana?”


“Mas Raka?”


“Memangnya kamu punya berapa pacar Larasati”
Elizabeth terdengar mulai tidak sabar dengan sahabatnya yang dinilai agak naif ini.

“Ya satu lah! mas Raka aja dari dulu sampai sekarang. Mas Raka lagi di Solo, ayahnya sakit Beth. Kenapa sih dari tadi nanyain posisi kita terus Beth” Laras mulai merasa penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan Elizabeth.

“Engga sih Ras, aku tadi kayanya ngeliat pacarmu deh di warung Gudeg Ceker Bu Mari, tau kan kamu warung Gudeg 24 jam yang di jalan Gatot Subroto?”


“Oh iya mas Raka memang suka makan di warung itu, iya mungkin benar itu mas Raka, tadi dia bilang dia mau pergi kumpul-kumpul sama seniornya”

Lama tidak terdengar suara Elizabeth.

“Hallo… Hallo Beth.. Hallo”


“Ras, kamu jangan marah yaa sama aku”


“Marah? Sama kamu? memangnya kenapa aku harus marah sama kamu Beth”


“Mmmm.. kayanya mas Raka bohong deh sama kamu”


“Bohong bagaimana maksudnya Beth?”
Suara Laras terdengar sedikit meninggi karena tidak terima pacarnya dituduh berbohong.

“Aku lihat tadi mas Raka bersama dua perempuan cantik di warung itu”

Deg.. Bagai tertusuk pisau jantung Laras mendengar perkataan sahabatnya.

“Kamu yakin itu mas Raka Beth?


“Iya aku yakin itu tadi pacarmu Ras, kan aku dan bang Sitanggang yang ngenalin ke kamu”


“Iya Beth, tadi mas Raka bilang mau kumpul sama seniornya, mungkin itu istri atau pacar seniornya Beth”
Laras masih berusaha berpikir positif mengenai Raka.

“Iya mungkin juga sih Ras, toh mereka bertiga, bukannya hanya berduaan” Elizabeth yang merasa tidak enak hati berusaha menenangkan sahabatnya. Meskipun ia sangsi Raka bersama istri atau pacar seniornya. Elizabeth melihat bahwa Raka terus memandangi perempuan berambut panjang dihadapannya dengan tatapan yang berbeda. Tatapan yang berkesan intim.

“Kamu memang nggak menyapa mas Raka tadi Beth?”


“Aku tadi ribet banget say, adik-adik bang Sitanggang kan lagi liburan di Solo dan bang Sitanggang lagi ikut PORAD jadi aku sendiri yang nganter mereka makan tadi. Lagipula kita sudah hampir selesai saat aku lihat mas Raka baru mulai pesan makanan, jadi aku pergi duluan deh karena adik-adik iparku sudah minta pulang terus”


“Iya Beth nggak apa-apa, aku yakin mas Raka nggak mungkin mengkhianati aku Beth, mas Raka bukan tipe yang seperti itu”
Laras membela laki – laki yang dicintainya itu.

 

“Iya say, mas Raka yang aku kenal selama ini bukan tipe cowok yang jelalatan kok. Nggak mungkin bang Sitanggang mengenalkan cowok mata keranjang sama sahabatku. Mungkin juga itu kenalan dia di Solo yang kebetulan bertemu di situ Ras”

“Iya mungkin saja Beth, oya Beth kapan kamu ke Jakarta? Aku sudah kangen banget ketemu kamu?” Laras mencoba mengalihkan pembicaraan mereka ke topik yang lebih menyenangkan.

“Kamu saja Ras yang ke sini sekalian ambil cuti ngunjungin calon mertua biar cepet dikasih restu hehehe… Kalau nungguin aku yang ke Jakarta agak sulit say, lagi banyak kegiatan di sini, ibu komandanku kan sudah lama sakit jadi sebagai ibu wakil aku yang mewakili beliau di setiap kegiatan”


“Ga papa Beth biar cepet ketularan jadi ibu komandan hehehe…”


“Amin..”


Setelah berpamitan Laras menutup panggilan teleponnya. Meskipun tadi ia berkata kepada Elizabeth bahwa ia percaya kepada Raka tetapi hati kecilnya terus membisikkan keraguan.

✈ ✈ ✈

 

Suh, bagaimana kabar bokap lo?” Adrian bertanya kepada Raka yang baru saja kembali dari Solo.

“Bokap udah mendingan, tapi masih belum dikasih ngantor sama dokter Suh”


“Trus lo kapan ngelamar Laras Suh?”

Tiba-tiba raut wajah Raka berubah malas, ia enggan membahas semua hal yang berkaitan dengan Laras.

“Ya nanti kita lihat saja nanti, bokap gw juga masih belum sembuh total Suh”.

Terdengar ring tone Raka berbunyi dan tertera nama Gadis di layar ponselnya. Raka tersenyum dan segera menjauhi Adrian untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.

“Mas Raka sudah sampai mess?” suara merdu Gadis membuat Raka tiba-tiba merasa rindu.

“Iya sayang… mas baru saja sampai, kamu terbang kemana hari ini?”


“Aku terbang ke Medan mas, ini lagi nunggu mobil jemputan. Jam 4 sore aku sudah landing di Jakarta lagi karena hanya terbang vendel saja mas”


“Aku sudah nggak sabar mau bertemu dengan kamu sayang. Benar-benar aku sudah nggak sabar untuk melihat wajahmu yang cantik”


“Hahaha … Gombal! Mas Raka sekarang jadi jago banget ngegombal ya”
Gadis tertawa senang mendengar rayuan Raka.

“Kamu itu yaa… nggak percaya banget kalau aku nggak suka ngegombal. Memang kamu cantik, wanita tercantik dihatiku” Raka kembali terkekeh senang.

“Iya deh, mas Raka juga laki-laki paling ganteng di dunia”


“Masa sih, bukannya banyak pilot yang lebih ganteng dari aku?”
Tiba-tiba terbersit rasa cemburu di hati Raka.

“Hmmm… ”


“Kok ga jawab?”


“Memang nanya apa?”
Gadis pura-pura tidak mengerti maksud Raka.

“Bukannya banyak pilot lebih ganteng dari aku” Raka mengulangi pertanyaannya dengan tidak sabar.

“Hahaha” Gadis tertawa senang mengetahui Raka mencemburuinya.

“Kenapa tertawa, aku serius”


“Iya mas Raka tersayang, walaupun banyak pilot ganteng tapi Gadis ini hanya milik kamu”

Deg… Raka merasa jantungnya berdesir halus mendengar pernyataan cinta dari gadis yang dicintainya itu.

 

“Iya terima kasih yaa cantik” Raka yang sedang kasmaran melupakan fakta bahwa ia sudah memiliki kekasih bernama Laras.

“Sayang nanti mas kabari lagi ya … I love you Gadis”

Raka yang menyadari Adrian sedang menguping pembicaraannya dengan Gadis segera memutuskan percakapannya. Dan ia menepuk pundak Adrian yang sedang mencuri dengar.

“Suh, ngapain sih lo ngendap-ngendap gitu kaya mau penyergapan aja”

“Habis lo mencurigakan banget Suh” Adrian melakukan pembelaan.

“Mencurigakan bagaimana maksud lo?”


“Tadi bukan Laras kan?”

Raka terdiam enggan menjawab.

“Gila lo Suh, bener kata orang kalau mau nikah itu memang banyak cobaannya”


“Ah sok tau lo Suh”


“Ayooo sama siapa lo selingkuhin Laras?”


“Mau tahu aja kamu Suh Suh.. namanya juga bujangan hehehe”


“Gendeng kamu Suh, kurang apa Laras? diacantik, baik, dokter belum lagi babe nya Jendral. Ya saran aja nih Suh sebagai teman letting, kalau mau main-main lo liat – liat… jangan sampai babenya Laras denger, bisa dibuang Lo ke ujung dunia”
. Adrian panjang lebar menasehati Raka.

“Kurangnya satu Suh, aku nggak cinta sama dia, aku cintanya sama orang lain”


“Ah sok romantis kau”
Adrian buru-buru melempar handuk ke wajah Raka.

“Sudah ah gw mau mandi dulu, dasar bajul kamu Suh!” Adrian mengambil kembali handuk yang ia lempar ke wajah Raka tadi.

“Ya udah bangunin aku ashar ya suh, mau shalat dan ngerjain tugas”


“Siap Suh”
Adrian pun berlalu menuju kamar mandi.

✈ ✈ ✈

“Dis, nanti malam kamu ada acara nggak?” Captain Hendra yang hari ini menjadi Pilot in command penerbangan Medan vv menahan Gadis yang sedang melakukan pre-flight check di Galley depan.

“Maaf Captain, nanti malam saudara saya mau menginap di tempat saya” Gadis menghindari Captain Hendra dengan berbohong.

“Kalau besok bagaimana Dis? kamu libur kan?” Captain Hendra terus mengajukan pertanyaan menahan Gadis untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Iya saya off Captain, tapi saudara saya meminta saya menemani dia untuk check up ke rumah sakit”


“Lantas kapan kita bisa bersama babe? Aku sudah kangen banget sama kamu”


“Maaf Captain… tapi aku nggak enak kalau sampai membatalkan janji yang sudah aku buat dengan saudaraku”
lagi – lagi Gadis berbohong demi menghindar dari Captain Hendra.

“Kamu mau yaa kalau aku request schedule terbang bareng ke crew scheduling?” Captain Hendra tetap memaksa Gadis untuk terbang menginap bersamanya agar dapat menghabiskan waktu bersama.

“Iya Captain” Gadis mengiyakan permintaan Captain Hendra demi menjaga hubungan baik antara Captain dan dirinya sebagai seorang crew. Gadis sudah berjanji kepada dirinya untuk setia kepada Raka meski dia tidak tahu sampai kapan surga kecil ini dapat ia miliki. Karena Gadis tahu jurang pemisah itu akan selalu ada diantara mereka. Dan untuk sementara ini dia cukup menikmati cintanya tanpa perlu menuntut lebih.

✈ ✈ ✈

Burung besi itu baru saja mendarat di Bandara Soekarno Hatta, matahari sudah mulai bersembunyi di balik awan. Pramugari menarik kopernya dengan anggun menuju terminal kedatangan, layaknya seorang selebriti yang sedang berjalan di karpet merah. Semua mata tertuju kepada mereka. Rasa lelah, capek dan bad mood tidak terlihat sedikit pun di wajah mereka. Itulah salah satu kelebihan seorang Pramugari, ia harus selalu mengutamakan profesionalisme di setiap situasi dan kondisi. Bahkan pada saat berjalan menuju mobil jemputan, mereka harus selalu tampil profesional dan anggun demi menjaga nama baik perusahaan. Begitu pula dengan Gadis dan crew-nya, mereka berjalan dengan anggun sambil menarik koper menuju jemputan masing – masing yang akan mengantarkan mereka kembali ke kediamannya.

Tepat jam 5 sore, ketika Gadis baru saja sampai di apartemennya, telepon genggam Gadis bergetar, tertera nama mas Raka di layarnya. Ia tersenyum dan segera menyapa Raka di seberang sana.

“Hallo sayang lagi apa?”


“Aku baru bangun tidur, habis mimpiin kamu”
suara Raka terdengar merajuk.

“Mimpinya apa?” tanya Gadis.

“Mimpi dipeluk kamu … dicium kamu dan di….”


“Ayo pasti mimpiin aku yang enggak-enggak ya?”
Gadis menggoda Raka dengan suaranya yang manja.

“Hahaha enggak, aku mimpi disuapin sama kamu, kamu jangan Omes deh cantik”


“Eh namaku Gadis loh bukan Cantik, kayanya mas Raka salah sebut nama wanita lain deh”
Gadis merajuk manja.

“Jangan marah donk kalau aku salah sebut” Raka menggoda Gadis.

“Biarin” Gadis kembali merajuk.

“Jangan marah donk Cantik eh Gadis” Raka tertawa bahagia mendengar Gadis semakin merajuk.

“Nggak ah marah aja kecuali…..”

“Kecuali apa sayang?”


“Kecuali mas Raka ngajak aku dinner”


” Dinner? Dinner apa sih Yang?”
Raka menggoda Gadis.

“Masa mas Raka nggak tau dinner? Dinner itu loh… makan malam – malam”


“Oh bukannya malam-malam makan ya!”
Raka menertawakan candaannya sendiri.

“Ih mas Raka, kalau malam-malam makan namanya ngangkring mas”.

 

“Hehehe.. iya iyaa aku tahu kok dinner, kamu maunya kapan aku ajak dinner?”


“Besok aku libur”
Gadis mengajukan penawaran.

“Besok mas harus ke Bandung, ada penataran 3 hari, malam minggu saja ya, mas sudah di Jakarta kok hari Sabtu”


“Iya mas Raka ku, mas Raka aku kangen kamu!”
Gadis mendesahkan suaranya, membuat jantung Raka berdegup kencang.

“Iya aku juga” Raka menjawab cepat.

“Nggak sabar aku menunggu hari Sabtu tiba”


“Iya aku juga, sayang… mas mau shalat Ashar dulu ya”


“Iya mas, jangan lupa doain aku ya”


“Mas selalu mendoakan kamu di setiap shalat mas”


“Terima kasih mas, I love you”


“Me too… muaaahh”


“Muaaahhh…”
Gadis menutup panggilan teleponnya dengan memberikan ciuman mesra untuk Raka.

✈ ✈ ✈

Hari Sabtu yang ditunggu Raka dan Gadis tiba. Malam itu Gadis mengenakan sebuah gaun malam yang sangat cantik. Gaun yang memperlihatkan keseksian lekuk tubuhnya membuat Raka yang datang menjemputnya, kehilangan kata-kata karena terpesona dengan kecantikannya.

Raka mengajak Gadis ke sebuah restoran mewah di hotel berbintang lima. Mereka menghabiskan makan malam dengan berbincang-bincang mengenai masa lalu mereka di sekolah dulu. Dan sambil sesekali, saling menggoda satu sama lain. Ketika selesai menghabiskan makan malam, Raka mengantarkan Gadis kembali ke apartemennya.

Ini kedua kalinya Raka berada di apartemen Gadis. Malam ini ia berada di sana dengan suasana yang jauh berbeda. Jika dulu Raka datang dengan perasaan tidak menentu, antara rasa marah, bahagia dan bingung semua bercampur menjadi satu, tetapi sekarang ia datang dengan satu perasaan bahagia yang meliputinya.

“Mas Raka mau aku ambilin minuman?”


“Aku lagi nggak mau apa-apa, aku cuma mau ada di dekat kamu saja”
Raka menepuk sofa empuk itu, tanda ia menginginkan Gadis untuk duduk di sampingnya.

“Sejak kapan mas Raka jadi puitis begini” Gadis segera menyusul untuk duduk di samping Raka.

“Sejak aku kenal kamu” Raka merangkul pundak Gadis agar wanita itu bersandar ke bahunya.

“Hmmm” Gadis hanya bergumam manja.

Keheningan tercipta sesaat.

Kemudian Gadis menjauhkan kepalanya dan menatap wajah Raka dengan serius.

“Mas harus pulang atau menginap disini?”


“Kamu maunya aku bagaimana?”


“Aku maunya mas Raka bobo disini karena aku takut tidur sendirian”


“Loh biasanya kan juga tidur sendiri, kenapa sekarang takut!”


“Takut ah, tadi siang habis nonton film horor”


“Hahaha… gitu aja takut. Iya aku temani kamu disini biar ga takut tidur sendirian. Lagipula hari ini aku IB kok. Tapi aku tidur dimana nanti?”
Raka berusaha bercanda sambil mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak kencang.

“Ya tidur di kamar aku donk, masa mau tidur diruang tamu, sama aja donk aku tetap takut sendirian di kamar” Gadis merajuk manja.

“Iya aku temani” Raka mencoba menutupi debaran jantungnya yang kacau dengan senyuman.

“Kita pindah ke kamar ya mas” Gadis meraih tangan Raka dan menuntunnya masuk ke kamar tidurnya.

Baru pertama kali Raka memasuki kamar seorang wanita, bahkan kamar Laras pun belum pernah ia kunjungi. Raka memandangi kamar tidur Gadis dengan seksama, kamar tidur khas seorang pramugari, rapi bersih dan harum. Kamar tidur utama yang ditempati Gadis memiliki kamar mandi dalam dengan fasilitas shower dan bath up. Raka memilih untuk duduk bersandar di ranjang yang sangat nyaman itu, sedangkan Gadis pergi untuk berganti baju di dalam kamar mandi.

Gadis memilih memakai gaun tidur berwarna hitam. Ia menyemprotkan parfum di seluruh tubuhnya.
Ketika Gadis keluar dari kamar mandi, ia melihat Raka sedang asyik membaca salah satu buku manual penerbangan yang ada di kamar Gadis. Menyadari kehadiran Gadis, Raka segera menaruh buku yang sedang dibacanya, jantungnya berdebar kencang matanya tidak dapat lepas memandang makhluk indah dihadapannya.

Mas Raka mau tidur di sisi sebelah mana?”


“Terserah kamu saja Dis”
Raka menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.

Gadis mendekati ranjang itu, dengan cepat Raka meraih tangan Gadis dan menarik tubuh Gadis ke dalam pelukannya. Raka mengecup lembut bahu Gadis yang terbuka karena gaun tidurnya yang sedikit tersingkap.

“Sayang .. kamu cantik sekali” suara Raka terdengar parau berbisik di telinga Gadis. Perlahan Gadis melepaskan diri dari pelukannya. Tangan Gadis membelai lembut rambut Raka dan menelusuri garis wajah Raka yang tegas dan mendaratkan bibirnya di bibir Raka.

Tubuh Gadis bergetar ketika Raka mulai melepaskan gaun tidurnya.

✈ ✈ ✈

Raka yang pertama terbangun mengecup bahu Gadis. Sadar tidurnya terganggu karena kecupan – kecupan Raka, Gadis mengubah posisi tidurnya sehingga berhadapan dengan Raka. Gadis memegang wajah Raka dengan kedua tangannya dan mereka kembali berciuman.

“Kamu mau pergi kemana sayang?” Raka menarik kembali tubuh Gadis yang hendak bangun dari tempat tidur.

“Aku mau mandi dulu mas, terus buatin kamu makanan, mas Raka mau minum teh atau kopi?”


“Aku mau minum apa aja yang kamu buat sayang. Jangan lama-lama yaa, kalau lama nanti aku susul kamu loh”


Siap Pak Gadis mencium bibir Raka dan segera bangun menuju kamar mandi.

✈ ✈ ✈

Gadis membasahi rambutnya dan mulai menyabuni tubuhnya. Raka yang menyusul masuk ke dalam kamar mandi memeluk tubuhnya dari belakang.

“Ah mas Raka, aku sedang mandi” Gadis merasa jengah berdiri di hadapan Raka.

“Sini mas bantu” Raka membalikkan tubuh Gadis perlahan, matanya menatap lekat keindahan dihadapannya. Dan seolah tidak cukup hanya melihat, Raka menarik tubuh Gadis mendekat, menjauhi pancuran air.

✈ ✈ ✈

Mereka menghabiskan waktu dengan makan bersama dan menonton film. Gadis membelai lembut kepala Raka yang berada di pangkuannya, Raka menatap Gadis dengan mesra

“Gadis.. Gadis mau nggak jadi Gadisnya mas Raka?”


“Memangnya sekarang aku bukan Gadisnya mas Raka?


“Ya sudah sih… tapi maksud mas, Gadis mau nggak ketemu sama ayah dan ibunya mas Raka?”

Deg… jantung Gadis seperti tertusuk pisau mendengar permintaan Raka.

“Memangnya ayah dan ibunya mas Raka, ngebolehin Gadis bertemu mereka mas?”


“Ya kita coba sayang… memangnya Gadis nggak mau jadi istri mas?”


“Hmmm….”


“Jadi nggak mau nih?”


“Kata siapa nggak mau?”


“Kata aku tadi”
Raka meledek Gadis.

“Ya udah mau deh!”


“Loh kok kepaksa sih?


“Iya aku mau mas jadi istri kamu”
Gadis yang gemas menunduk dan menciumi wajah Raka bertubi-tubi.

Mereka bersenda gurau, saling menyentuh, memuji, menggoda, seolah-olah keduanya adalah candu bagi satu sama lainnya. Ketika sore menjelang, Raka berpamitan, menyudahi kebersamaan mereka hari ini.

“Sayang mas pulang dulu yaa ke mess karena nanti malam mas harus apel malam”


“Mas memangnya harus pulang sekarang ya? Nggak bisa besok aja mas? Atau aku bisa nggak ikut pulang sama mas Raka?”
Gadis tersenyum usil menggoda Raka.

“Ok boleh, tapi kita langsung ke KUA sekarang ya! Jadi mas bisa langsung bawa pulang kamu ke rumdis” Raka menjawab tantangan Gadis.

“Waduh, kayanya aku nggak bisa dech, besok aku kan harus terbang. Bagaimana kalau di undur lusa aja?”.

 

“OK SIAP KOMANDAN” kemudian keduanya tertawa lepas.

“Yuk, Aku temanin mas turun ke bawah ya. Jangan sampai nanti mas di cariin tentara sebatalyon lagi”

Gadis meraih tangan Raka dan Raka menyambutnya dengan menggenggam erat tangan kekasihnya, seolah enggan untuk berpisah. Sesampainya mereka di tempat parkir mobil, Raka mengecup kening Gadis dengan lembut dan berpamitan pulang.

✈ ✈ ✈

 

“Assalammualaikum mas Raka… mas sedang sibuk tidak? Kalau mas sudah tidak sibuk, bisakah mas menghubungi aku please?”

Entah sudah berapa kali Laras mencoba menghubungi Raka baik lewat telepon maupun pesan, namun Raka tidak bergeming untuk membalasnya. Namun hari ini Raka bertekad untuk mengakhiri hubungannya dengan Laras. Hanya dengan begitu Raka merasa adil terhadap Laras, Gadis dan dirinya.

“Assalammualaikum dek, Bisa mas bertemu dengan kamu? ada yang mau mas sampaikan. Kita bertemu di Resto Palem jam 7 malam ya!” Pesan Raka membuat Laras merasa risau, perasaannya mengatakan bahwa selama seminggu belakangan ini, Raka telah menghindarinya. Dan malam ini Laras akan segera mengetahui jawabannya.

Restoran itu tampak lenggang oleh pengunjung, Raka yang datang lebih dahulu berdiri mempersilahkan Laras untuk duduk di hadapannya. Ia mencoba membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Dek… sebelumnya mas mau meminta maaf, kalau selama ini mas telah banyak menyakiti kamu. Mas merasa tidak pantas untuk menjadi pendampingmu” Laras terdiam mendengarkan Raka.

“Mas telah banyak berpikir… sebaiknya kita berpisah sebelum mas semakin menyakitimu”

“Kenapa mas, kenapa kamu tidak merasa pantas menjadi pendamping hidupku? Atau sebenarnya aku yang tidak pantas untuk menjadi istrimu? Apa itu maksud kamu? Laras gagal menahan dirinya untuk tidak meluapkan emosinya.

Aku minta maaf dek Raka kembali meminta maaf.

Apakah hanya Gadis yang pantas menjadi istrimu?” Laras mulai menangis.

Raka meraih tangan Laras, mengenggamnya dan mencoba untuk menenangkan Laras.

“Maafkan mas yang harus mengambil keputusan ini”.

Laras menepis tangan Raka dan menangis terisak “Kamu anggap apa selama ini hubungan kita mas, kamu telah berjanji menikahi aku didepan orang tua kita mas! Minggu depan orangtuamu akan datang ke Jakarta untuk melamarku dimana pikiranmu mas?”

“Aku akan jelaskan kepada ayah dan ibuku, aku akan meminta maaf kepada orangtuamu bahkan kalau perlu aku akan menerima apapun konsekuensinya, tetapi maafkan aku… Aku tidak bisa menikahimu!”

“Tetapi kenapa mas, kenapa di saat kita akan segera menikah kamu bersikap seperti ini, apakah kamu tidak mencintaiku?”


“Maafkan mas, dek”
Raka hanya dapat tertunduk meminta maaf dihadapan Laras.

“Tidak aku tidak terima dengan keputusanmu mas, kamu akan tetap melamarku, aku tidak akan membatalkannya, Aku akan memohon kepada ibu agar mas Raka menikahiku” Laras menggebrak meja dihadapannya.

“Dek… tolong jangan bersikap seperti ini, mas tidak bisa menikahimu. Tolong maafkan aku”


“Aku tidak mau mendengar penjelasanmu lagi mas, kamu sedang bingung sekarang, kita akan bertemu saat kamu dan orangtuamu datang melamarku”
Laras berdiri bersiap pergi.

“Dek… tolong mengerti, tolong jangan bersikap seperti ini” Raka mengejar Laras yang pergi meninggalkan restoran.

“Seharusnya mas Raka yang ngertiin aku!” Laras menepis tangan Raka yang mencoba menahannya pergi. Ia masuk ke dalam mobil dan segera melaju cepat.

✈ ✈ ✈

Sesampainya dikamar, Laras menghubungi ibunda Raka dan menceritakan semua yang terjadi.

“Sudah ndok, tidak usah menangis lagi, kami akan tetap datang ke Jakarta minggu depan untuk melamar. Nanti ibu yang bicara dengan Raka. Biasa itu kalau mau menikah pasti bertengkar kecil dengan pasangan” Ibunda Raka mencoba menenangkan Laras yang masih menangis tersedu.

“Iya Bu, Laras mengerti perasaan mas Raka. Mas Raka bimbang karena bertemu kembali dengan mantan kekasihnya Bu”

“Gadis itu lagi” batin ibunya berkata.

“Wess Ndak usah dipikirkan lagi ndok… nanti ibu yang bantu selesaikan. Sekarang kamu istirahat saja jangan sampai sakit ya nduk”


“Bu… Laras mohon… bantu Laras Bu”


“Iya nduk Ibu berjanji akan membantu kamu agar menikah dengan Raka”


“Iya Bu, Laras mohon agar Ibu mau membantu Laras Bu”
Laras menutup teleponnya dan berharap ibunda Raka menepati janjinya.

✈ ✈ ✈

Raka melihat layar telepon genggamnya dan segera mengangkat panggilan telepon dari ibunya.

“Le, Laras sudah menceritakan semua kepada ibu. Ada apa dengan kamu nak? kenapa kamu bersikap seperti itu kepada Laras? Ibu dan ayah akan ke Jakarta minggu depan untuk melamar Laras sesuai rencana kita”


“Raka tidak bisa menikahi Laras Bu”


“Raka!!! kenapa sekarang kamu menjadi anak pembangkang!”


“Maaf Bu tetapi Raka tidak ingin menikah dengan Laras”


“Apakah karena Gadis itu lagi kamu menjadi seperti ini?”


“Iya Bu, Raka ingin menikahi Gadis”


“Tidak, sampai kapanpun Ibu tidak akan setuju”


“Tapi Bu, Raka cinta sekali sama Gadis”


“Lalu Laras? Apa selama ini kamu tidak mencintai Laras?

Raka terdiam.

“Ibu tidak mau tahu pokoknya kamu harus menikah dengan Laras. Ayah dan ibu sudah berjanji akan menikahkan kamu dengan Laras”


“Tapi Bu Raka tidak bisa Bu”


“Ingat Raka ketika Gadis itu hilang meninggalkan kamu, siapa yang ada di samping kamu, membantu kamu kembali menatap masa depan?”


“Maafkan Raka Bu… Raka tidak bisa menikahi Laras, Raka mencintai Gadis Bu”


“Ibu dan ayah tidak akan menyetujui hubungan kalian, kamu harus menikahi Laras”


“Bu maafkan Raka Bu, Raka mencintai Gadis Bu”


“Ibu dan ayah akan ke Jakarta Minggu depan untuk melamar Laras dan kamu tetap akan menikahinya”

Kemudian terdengar nada panggilan telepon diputuskan oleh ibunda Raka.

“Aku harus tetap meyakinkan ibu dan ayah, aku tidak bisa menikahi Laras dan kehilangan Gadis kembali” Raka memutuskan dengan mantap setelah lama berpikir.

✈ ✈ ✈

Telah dua hari Raka tidak memberikan kabar kepadanya, sehingga Gadis kembali mencoba menghubunginya.

“Hallo sayang, kamu lagi sibuk ya? Sudah dua hari ini aku coba hubungi kamu, tetapi tidak pernah diangkat. Hari ini aku day off , temenin aku shopping yaa?”


“Maaf ya dua hari ini aku lagi banyak kerjaan. Iya aku temani, sekalian ada yang mau aku bicarakan juga. Memangnya kamu mau shopping dimana?”.

“Di PIM saja ya mas, aku mau beli baju buat training. Memangnya kamu mau bicara apa sama aku?”


“Nggak ada yang serius kok, aku cuma mau tanya pendapat kamu aja, nanti aku bicarakan langsung kalau kita ketemu ya!”


“Ya sudah, kita ketemuan di PIM saja ya mas, biar kamu nggak bolak balik kalau mesti jemput aku di apartemen”


“Iya”
Raka menjawab singkat.

Sudah dua hari ini Raka merasa bimbang, bagaimana caranya memberitahu Gadis mengenai keadaannya saat ini. Mengenai paksaan orangtuanya untuk melamar Laras. Tetapi Raka telah bertekad memberitahukan kebenarannya kepada Gadis. Ia tidak akan menyembunyikannya lagi.

Setelah lama berkeliling pusat perbelanjaan itu, mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran Korea favorit Gadis.

“Makasih ya sayang sudah nemenin aku hari ini, aku seneng banget”

Raka tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Gadis. Kemudian raut wajah Raka berubah serius ketika sebuah pesan masuk. Ibu dan ayahnya telah tiba di Jakarta dan sedang bersama Laras. 5 menit kemudian telepon genggamnya berbunyi.

“Sayang, aku harus keluar sebentar ada telepon dari kantor, kamu tunggu disini dulu yaa”


“Ok”
Gadis menjawab dengan ceria.

Raka berjalan keluar restoran dan berhenti di dekat pintu toilet pria, setelah merasa cukup aman pembicaraannya tidak terdengar oleh Gadis, Raka segera menghubungi ibunya.

“Assalamualaikum Bu”


“Kamu lagi dimana Le? kok ibu telepon-telepon tidak diangkat”


“Saya lagi di kantor Bu”


“Nanti malam kamu ke rumah pak dek Surjo, ayah dan ibu menginap di sini”


“Iya Bu nanti malam Raka ke sana Bu”


“Ya sudah, jangan sampai tidak datang ya Le!”


“Baik Bu”

Raka menghela nafas panjang setelah menutup percakapannya dengan ibunya di telepon. Ia tahu kedua orangtuanya akan tetap memaksanya untuk melamar Laras, namun ia bertekad akan menolaknya. Ia harus dapat meyakinkan kedua orangtuanya untuk dapat menerima pilihan hatinya.

✈ ✈ ✈

“Mas Raka kok nggak dimakan topoki nya? mas nggak suka ya?”


“Enggak kok, mas suka tapi mas lagi kepikiran kerjaan aja”


“Oya… katanya ada yang mau mas sampaikan ke aku?”


“Besok kamu ada waktu nggak sayang, aku mau mengenalkan kamu sama orang tuaku”

Gadis meletakkan gelas air minumnya dan menghela nafas panjang.

“Besok aku ada reccurent mas di training center, selesai training jam 5 sore dan mungkin sampai di apartemenku sekitar jam 7 malam. Memangnya orangtuamu sedang di Jakarta mas?”


“Iya mereka baru saja sampai dan menginap di rumahnya pak de ku”


“Bagaimana kalau lusa saja mas, aku terbang malam ke Denpasar, jadi siangnya kamu bisa jemput aku di apartemen”


“Iya nanti aku jemput kamu, sekarang kita selesaikan makan kita dan aku anter kamu pulang ya”


“Siap Pak”
Gadis menirukan sikap hormat ala militer yang disambut oleh tawa Raka yang hangat.

✈ ✈ ✈

 

“Woii Suh kusut banget muka kau! Kurang ya???” Adrian menepuk pundak Raka yang sedang melamun di ruangan kantornya.

“Kurang apaan maksud kau Suh?” Raka mengerenyitkan dahinya tanda tidak mengerti maksud perkataan Adrian.

“Kurang IB nya maksud gw, ambil cuti sana! Oo Iyaa sudah sampai mana persiapan pernikahan Lo, kapan rencananya pengajuan ke kantor ?”


“Nah itu lah yang bikin gw mumet dari kemarin Suh”


” Lah memang kenapa lagi Suh?”

 

“Kan kamu tahu aku baru ketemu cinta pertamaku lagi Suh”


“Siapa? Kayanya kau nggak pernah cerita deh Suh!”


“Gadis namanya Gadis Suh. Cinta pertamaku. Waktu itu gw pernah cerita tapi lo nya molor kali”


“Nah Lo Suh, terus Laras mau lo kemanain?”

Raka hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Adrian. Mengambil nafas dalam kemudian mulai bercerita, awal pertemuannya dengan Gadis sampai dengan akhir keputusannya untuk membatalkan pertunangannya dengan Laras.

“Gendeng Lo Suh” Adrian geleng-geleng kepala mendengarkan cerita Raka.

“Apa kau sudah bicara dengan Laras mengenai hubungan kau dengan Gadis?” Adrian bertanya kepada Raka.

“Aku sudah coba jelaskan ke Laras, tetapi dia tetap nggak mau mendengar penjelasanku. Dia tetap memaksa untuk minta dinikahi” terang Raka.

“Hmmm… apa kamu sudah mantap Suh dengan pilihanmu?”


“Gw sudah yakin Suh, gw akan coba jelasin ke orangtua gw nanti malam, terus gw akan ngadep ke bokapnya Laras secepatnya”


“Lebih baik Lo pikirin lagi deh Suh, Lo benar-benar harus yakin dengan pilihan lo! Pilih pendamping hidup yang bisa menunjang kita ke depannya, letnan-letnan baru kaya kita begini masih panjang ke depannya. Belum lagi kalau lihat gaji kita suh, mau nggak Gadis hidup dengan gaji segitu? Berat loh Suh jadi istri tentara”


“Iya Suh ini gw juga udah mikirnya sampai buntu otak gw. Gw juga kalau bisa nggak mau menyakiti salah satunya Suh”


“Ya sudah gw doakan yang terbaik buat lo Suh, kalau lo perlu apa-apa bilang aja mungkin gw bisa bantu Suh”


“Iya Suh makasih yaa, bantu doa aja. Eh ada dech yang kau bisa bantu buat aku Suh!”


“Apaan tuch Suh?”


“Tolong beliin gw kopi dong di kantin”


“Suek lo Suh!
Adrian melempar Raka dengan ballpoint yang dipegangnya.

“Udah ah gw mau kerja dulu”

Raka menghindar lemparan tersebut dengan cepat dan menjawab kekesalan Adrian dengan tawa kemenangan.

✈ ✈ ✈

Malam itu Raka memenuhi janjinya menemui orang tuanya di rumah Pak De Surjo.

Rumah besar itu tampak sunyi dari luar gerbang, Raka masuk ke dalam dan menuju ruang keluarga. Ayahnya sedang menonton berita yang ditayangkan di televisi. Melihat kedatangan Raka, ayahnya mengecilkan volume suara televisi tersebut.

“Assalammualaikum yah… Bagaimana kabar ayah? Apa ayah sudah sehat?” Raka mencium tangan ayahnya dan memilih duduk disofa bersama ayahnya.

“Alhamdulillah Ka… ayah sudah lebih sehatan, tapi masih belum diperbolehkan beraktifitas terlalu banyak oleh dokter”


“Alhamdulillah yah, Raka senang mendengarnya. Ibu dimana yah?”


“Ibu lagi keluar sebentar dengan pakde dan budemu. Tadi pakde mu telepon katanya sebentar lagi sudah mau sampai rumah”


“Bagaimana kerjaanmu di kantor Ka?”


“Lagi sibuk Raka yah, karena mau ada Sertijab minggu depan jadi banyak kerjaan numpuk”


“Sibuk itu biasa buat yang muda-muda seperti kamu Ka, waktu zamannya ayah dulu Ka setiap hari kita siaga 1, tidak bisa seperti kamu sekarang ini IB, pesiar atau cuti dengan mudah. Jadi kalau sibuk-sibuk sedikit ndak papa lah”


“Iya yah”


“Ayah juga mau mengingatkan kamu sebagai perwira muda, kamu harus banyak-banyak menjaga diri, jangan membuat pelanggaran, karir kamu masih panjang ke depannya Ka”


“Iya Yah”


“Dan untuk masalah Laras, sebenarnya ayah dan ibu tidak mau ikut campur dalam masalah kamu memilih calon istrimu. Tetapi ayah tidak ingin kamu salah melangkah. Ayah dulu pernah muda juga, ayah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta dan bagaimana berapi-apinya anak muda tetapi ingat Ka ini adalah tentang masa depanmu. Masa depan keluarga kita juga nantinya Ka”

Ayah Raka memandang putranya dengan tatapan tajam dan dengan suara yang tegas berwibawa melanjutkan “Kamu akan memilih perempuan yang akan kamu jadikan pendamping kamu seumur hidup”

“Iya yah”


“Laras itu perempuan baik dengan bibit bobot bebet yang baik, kamu juga sendiri yang membawanya ke rumah, memperkenalkannya kepada ayah dan ibu. Kamu juga yang berjanji menikahinya Ka. Ingat Ka janji itu adalah hutang, hutang yang akan ditagih di akhirat kalau kamu tidak menepatinya. Pernikahan juga meliputi keluarga besar Ka, ayah dan ibu sudah kenal baik dengan orang tua Laras, mereka orang baik yang menganggap kamu sebagai anak mereka sendiri. Apakah kamu mengerti maksud ayah nak?”


“Iya Raka mengerti Yah. Tetapi Yah… Raka mencintai Gadis”

Ayah Raka menghela nafas panjang dan menepuk bahu Raka.

“Dengarkan ayah Ka, selama ini Raka tidak pernah sekalipun mengecewakan ayah dan ibu. Raka selalu menjadi putra yang selalu ayah banggakan. Dan ayah harap untuk masalah ini pun kamu menuruti permintaan ayah dan ibu. Kami ini orang tuamu pasti menginginkan yang terbaik buat kamu.


“Maafkan Raka Yah, Raka benar-benar tidak bisa menikahi Laras. Dan ini sudah Raka pikirkan matang-matang Yah


“Raka…!!!ayah dan ibu sudah berjanji kepada orangtuanya Laras”
Suara ayah Raka mulai meninggi.

“Iya yah Raka tahu tetapi bagaimana bisa Raka menikahi Laras kalau Raka mencintai perempuan lain yah”


“Raka kamu tahukan siapa bapaknya Laras itu dan apa posisinya sekarang dijajaran TNI ? Apa kata keluarganya Laras kalau kamu yang sudah berjanji menikahi anak mereka membatalkan semuanya. Dimana pertanggung jawabanmu? mau taruh dimana muka orang tuamu ini Raka”


“Yah tolong mengerti Raka juga Yah”
seru Raka.

“Tidak kamu tetap harus menikahi Laras, Ayah tidak mau menanggung malu karena perbuatanmu yang pengecut” ayah Raka berdiri dan berteriak dengan lantang.

“Yah Raka tidak mau menikahi Laras” Raka pun ikut berdiri seolah menantang perintah ayahnya.

Dengan kemarahan yang terpicu ayah Raka berteriak “Kalau kamu tetap nekad menikahi perempuan itu, jangan harap ayah dan ibu akan tetap menganggap kamu sebagai anak kami lagi”


“Ayah… Raka cinta sekali sama Gadis, dengan atau tanpa restu ayah dan ibu Raka akan tetap menikahi Gadis”
Raka tetap bersikukuh dengan keputusannya.

“Raka…Kamu.!!!!” sehabis berteriak ayah Raka terduduk memegangi dadanya, nafasnya tersengal dan wajahnya memucat.

“Yah… ayah… ayah… ayah kenapa???”

Raka panik dan segera merebahkan ayahnya ke sofa. Raka segera menelepon dokter untuk datang dan memeriksa ayahnya.

Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter menyampaikan kondisi kesehatan ayah Raka. “Keadaan ayah anda sudah tidak apa-apa, faktor kelelahan saja. Saya sudah resepkan multivitamin dan tolong pasien untuk lebih banyak istirahat dan jangan sampai kelelahan”


“Baik terima kasih dokter”
Raka berjalan mengantarkan dokter ke pintu keluar.

Raka menghampiri ayahnya yang terbaring lemah dan dengan suara parau mengatakan.

“Yah.. sudah ayah jangan banyak berpikir dulu, ayah beristirahat saja. Besok Raka akan ikut ayah dan ibu”

✈ ✈ ✈

 

Keesokan paginya Raka terbangun dengan perasaan kacau, ia duduk dan merasa lelah, kepalanya terasa penuh memikirkan kembali kejadian tadi malam. Ia terpaksa menyetujui perintah ayahnya untuk melamar Laras.

Semalaman ini ia hanya sempat memejamkan mata sepersekian menit dan kembali terjaga. Kemudian otaknya kembali memaksanya untuk berpikir dan berpikir tetapi ia tidak memiliki pilihan lain selain menyerah kepada keadaan, memutuskan takdir membawanya menjauh kembali dari cintanya.

Raka kembali mencoba memejamkan matanya namun lagi – lagi pikirannya mengkhianatinya … Gadis … Hanya wajah itu nama itu yang berputar-putar terus di pikirannya, cintanya yang harus kembali kandas karena orang tua. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada Gadis, dirinya yang meminta Gadis untuk mempercayainya, berjuang bersama meminta restu dari orang tuanya. Dan ia lah orang terakhir yang dipikirnya akan mengkhianati Gadis dan cintanya. Tetapi kenyataan berkata lain.

Telepon genggamnya berdering, Gadis yang memenuhi isi kepalanya memanggilnya melalui telepon, seolah tahu bahwa Raka akan segera melakukan pengkhianatan terbesar terhadapnya. Dua panggilan masuk dan tidak terjawab kemudian masuk satu pesan manis ala Gadis.

“Mas Raka ayoo bangun… Jangan lupa shalat dan sarapan yaa aku kena revised terbang Singapore gantiin teman yang sakit. Landing Singapore aku telepon kamu yaa.. I Miss you

Raka pun menimbang untuk membalas pesan tersebut atau tidak dan ia memilih untuk menuruti akal sehatnya yaitu bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi.

✈ ✈ ✈

Ibunda Raka mengetuk pintu kamarnya dan langsung masuk ketika mendengar tidak ada jawaban dari dalam kamar.

“Le ini ibu sudah minta Bik Inah untuk setrika kan kemeja batik kamu”


“Iya terima kasih Bu”


“Gagahnya anak ibu”
ibu Raka memuji Raka yang sudah selesai berpakaian.

“Senyum dong Le… ini hari besar kamu selangkah menuju masa depan” Raka tersenyum lelah menuruti permintaan ibundanya.

“Nah begitu dong anak ibu, kalau sudah rapi… ayo Le kita berangkat! ayah, Pak De dan Bu De mu sudah menunggu kita di depan”


“Baik Bu”
Raka berat melangkahkan kakinya mengikuti ibundanya yang membimbingnya keluar dari dalam kamar.

✈ ✈ ✈

Siang itu pertunangan antara Raka dan Laras berlangsung. Rumah megah Laras dihiasi dengan dekorasi bernuansa pink Salem dan dipenuhi oleh bunga-bunga berwarna putih. Laras tampak cantik dengan kebaya merah muda duduk bersanding dengan Raka yang tampak tampan dan gagah. Kebahagiaan terpancar dari wajah Laras, beberapa kali ia mencuri pandang kepada Raka yang sedang tersenyum menanggapi pembicaraan salah seorang anggota keluarga Laras. Laras tersenyum bahagia dan berpikir “akhirnya kamu menjadi milikku mas dan kita akan bahagia selamanya”.

 

Raka berusaha keras untuk bertindak seperti biasa, seolah-olah perasaannya tidak hancur memikirkan Gadis yang akan ditinggalkannya. Telepon genggamnya bergetar berkali-kali tanpa perlu ia lihat, ia tahu itu adalah panggilan dari gadis yang dicintainya. Ia telah memilih Laras sebagai calon istrinya dan ia akan bertanggung jawab dengan pilihannya. Meski ia tahu ia akan kembali menyakiti Gadis dan mengkhianati hatinya.

“Maaf aku tidak bisa lagi menjalin hubungan denganmu” pesan itu datang ketika Gadis baru saja menyalakan telepon genggamnya ketika berada di terminal kedatangan. Gadis menunggu berada di mobil jemputan untuk menghubungi Raka. Hampir puluhan kali ia mencobanya tetapi panggilan itu semua tidak terjawab. Ia mencoba mengirimkan pesan tetapi pesannya pun tidak berbalas. Merasa janggal dengan keadaan ini Gadis menunggu untuk dapat menghubungi Raka kembali.

Tepat seminggu Gadis berusaha menghubungi Raka tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban. Gadis mengirimkan berpuluh-puluh pesan, dari pesan yang dikirimkan dengan nada merajuk sampai pesan bernada ancaman bahwa ia akan mendatangi mess Raka untuk menemuinya. Tetapi tetap tidak mendapatkan balasan. Bercampur aduk perasaan Gadis, merasa tidak percaya bahwa Raka dapat melakukan ini kepadanya, memutuskan hubungan hanya melalui sebuah pesan singkat. Merasa terkhianati Gadis memutuskan untuk menemui Raka untuk mendapatkan penjelasan.

“Aku sudah di depan mess kamu, kamu temui aku atau aku masuk ke dalam” sehabis mengirimkan pesan tersebut Gadis mencengkram erat kemudi mobilnya yang ia parkir di seberang mess perwira itu.

“Tidak usah ke mess, ada coffe shop di dekat situ tunggu aku disitu, selesai aku pulang kantor jam 7 malam” setelah sepuluh menit akhirnya pesan Gadis pun berbalas.

Sudah dua gelas macchiato dihabiskan Gadis menunggu kedatangan Raka. Berkali-kali ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 19.20, ketika hendak mengirimkan pesan kembali, ia melihat laki-laki itu berjalan ke arahnya. Raka tampak kusut, kuyu dan lebih kurus dari biasanya, di hati Gadis timbul silih berganti rasa rindu, marah dan iba.

“Apakah kamu sudah lama menunggu saya?” Raka menarik kursi dan duduk kaku di hadapan Gadis.

“Saya” kata yang sengaja disebutkan Raka untuk membuat jarak diantara mereka.

Gadis menggigit bibir bawahnya menahan emosi yang meluap.

“Iya… cukup lama aku menunggu”

Melihat gelas minuman Gadis yang sudah kosong, Raka menawarkan minuman kepadanya.

“Apakah mau saya pesankan minuman lagi untukmu?”


“Tidak terima kasih”
Gadis menjawab singkat.

Raka menaruh tangannya diatas meja, Gadis tersentak hebat melihat cincin yang melingkar di jari manis Raka. Gadis menunduk menahan tangisnya, pikirannya kacau, suaranya getir.

“Mas… Kenapa kamu jahat sekali sama aku!!!” Raka hanya terdiam menunggu Gadis selesai meluapkan perasaannya.

Gadis melanjutkan dengan suara tertahan “Kamu yang memberi semua mimpi itu. Kamu yang datang kepadaku… membual tentang semua cinta, harapan dan mimpi-mimpimu kepadaku. Sekarang tiba-tiba kamu berubah” tanpa terasa air mata gadis menetes satu persatu membasahi wajahnya.

Raka tidak kuasa melihat air mata Gadis, ingin rasanya ia merengkuh Gadis ke pelukannya dan menenangkannya dengan kata-kata cinta, tetapi ia urung melakukannya karena ia tahu kalau ia melakukannya maka pertahanannya akan runtuh. Saat itu juga ia akan melarikan Gadis bersamanya, pergi kemana pun menjauh dari dunia. Hanya Gadis dan Raka.

Pikiran Raka terputus dengan suara Gadis yang berteriak lantang “Lalu yang kemarin itu kamu sebut apa, Pengecut!!!”

Raka menatap Gadis berusaha tidak terpengaruh dengan rasa sakit yang dilihatnya di mata Gadis dan berkata dengan tegas.

“Saya rasa pesan saya sudah jelas, saya tidak bisa menjalin hubungan lagi dengan kamu! Saya akan segera menikah! Saya harap kamu bisa menemukan orang yang lebih baik lagi dari saya”


“Kenapa kamu melakukan ini padaku mas… Aku cinta sama kamu Raka Wardhana… Apakah kamu tidak mencintaiku?”


“Itu hanya sebuah kesalahan.. saya minta maaf”


“Apakah karena orang tua mu atau karena aku… kamu melakukan ini?”


“Bukan keduanya, tapi karena saya. Saya mencintai wanita lain”


“Kamu sungguh sangat keterlaluan mas!!!”
Gadis kembali terisak.

“Sekali lagi saya minta maaf, saya harap kamu mengerti. Saya pamit… saya harus apel malam” Raka meninggalkan Gadis yang menangis.

Ia tidak boleh menoleh, ia tidak bisa menoleh atau ia akan semakin menyakitinya.

Malam ini kutanggalkan hati, jiwa dan cinta.

Mengabdi atas nama tanggung jawab dan janji.

Meinggalkan Gadis terkoyak deraian air jiwa.

Malam ini kutanggalkan hati, jiwa dan rindu.

Mengabdi ayah bunda ibu tercinta.

Meninggalkan Gadis terberai kesunyian kelam.

Malam ini kutanggalkan hati, jiwa dan mimpi.

Mengabdi pada harapan semu.

Meninggalkan Gadis dengan seribu luka.

“Selamat tinggal Gadis…”

✈ ✈ ✈

 

Sudah tiga hari Gadis mengurung diri di apartemennya. Menolak menerima kenyataan, cintanya telah pergi.

“Raka…” Jantungnya kembali terhujam pisau tidak kasat mata yang pelan menusuk mili per mili sehingga membuatnya sakit, menjerit berteriak menggila dan menyumpah serapahi Raka. Membuang semua benda pemberian Raka dan menghancurkan semua barang yang teraih olehnya. Membuat kamar yang biasa terjaga rapi menjadi porak poranda.

Cinta datang tanpa mengetuk
Menuliskan tinta menggores rasa
Tertawa menangis mengiba
Menorehkan kembali luka
Apakah ini nelangsa…
Aku Rindu..
Aku ingin kamu…
Aku ingin Cinta…
Cinta datang tanpa bicara
Bisu tuli buta senyap
Pecahkan kesadaran jiwa
Apakah ini luka atau nestapa…
Aku Rindu…
Aku ingin Cinta…
Aku ingin Kamu…

“Raka…”


Jeritnya pilu, ia mengambil telepon genggamnya, menekan tombol panggil mencari candunya menuntaskan dahaga. Tidak ada jawaban tetap tidak menjawab.

Mengirim berpuluh pesan mengiba dan membenci dan lagi-lagi tidak berbalas. Diam dan dingin terasa menusuk hatinya semakin dalam. Menangis dan terus menangis hanya itu yang dapat mengurangi rasa sakitnya.

Hanya satu yang masih membuat kesadarannya timbul panggilan jiwanya untuk bertugas yang datang keesokan harinya.

✈ ✈ ✈

“Mbak Gadis apakah sudah siap boarding?” Captain Andreas membuyarkan lamunan Gadis yang sedang termenung di tengah kabin.

“Iya Captain sudah siap” Gadis menjawab kikuk.

“Ok kita boarding yaa” Captain Andreas segera berjalan menuju flight deck.

Menunggu penumpang di panggil boarding oleh ground staff, Gadis kembali teringat Raka dan dadanya menjadi sesak, tanpa terasa air matanya jatuh berderai. Ia segera menghapus dengan cepat dan memanggil Melani Fa juniornya untuk menggantikan posisi boardingnya dan ia pun segera berlari ke lavatory depan. Lagi – lagi ia terisak, ia berusaha menahan air matanya untuk jatuh hingga dadanya terasa sesak.

“Aku harus kuat” Gadis menguatkan hatinya ia segera kembali menuju ke dalam kabin.

Setelah selesai melakukan serving makanan kepada penumpang, Gadis yang telah lelah menangis diam-diam di dalam lavatory sepanjang penerbangan ini, memilih untuk beristirahat di galley belakang. Virna memperhatikan keadaan seniornya yang terlihat kurang baik dan menanyakan keadaannya.

“Mbak Gadis lagi nggak enak badan yaa mbak?”

Gadis menggelengkan kepalanya “Aku lagi PMS aja Na”

“Ya sudah, mbak Gadis duduk saja mbak sebentar lagi juga kita sudah mau landing” Virna mempersilahkan Gadis duduk di jump seatnya.

“Nggak papa Na.. aku juga mau cek kabin dulu sekalian aku mau ke depan” Gadis menepuk bahu Virna meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.

“Mbak Gadis nanti aku izin keluar hotel yaa mau mba, aku mau keluar sama temen ku. Mbak Gadis mau ikut kita nggak?”


“Makasih Na.. aku mau tiduran di kamar aja. Tapi besok jangan sampai terlambat ya kita leaving hotel jam 10 pagi”


“Iyaa mbak, aku cuma mau diajak makan malam aja mbak, nggak dugem kok mbak kita”


“Iya Na hati-hati yaa, jangan lupa izin Captain juga ya”


“OK mbak, makasih yaa mbak”

Gadis menjawab dengan anggukan kepala dan ia pun segera berjalan menuju kabin

✈ ✈ ✈

Gadis merebahkan badannya yang penat di ranjang hotel. Pikirannya melayang “Raka…” Jemari nya lincah mengetik nama Raka Wardhana di akun Instagram miliknya. Account milik Raka tidak di private sehingga Gadis dengan leluasa dapat melihat isinya “Raka.. “ rindu seketika menderanya. Ketika dia hendak melihat lebih jauh lagi, Gadis terkejut melihat tag terbaru sebuah foto Raka dengan seorang perempuan cantik, wajah Raka tersenyum bahagia bersanding dengan perempuan itu, sebuah caption dibawahnya bertuliskan “My Fiancee” hal itu menghentikan detak jantungnya, membakar cemburu. Hatinya terasa sakit, ia menangis hebat, tubuhnya gemetar. Gadis menangis hingga lelah dan jatuh tertidur.

Hanya pekerjaan yang mampu membuat ia bertahan. Ia menjalani hidup seperti seolah Raka tidak pernah hadir di hidupnya, meskipun semua hal mengingatkannya pada Raka. Walaupun ia berusaha untuk bersikap profesional ketika mengenakan seragam, tetapi hati tidak dapat berbohong, Gadis yang biasanya ceria dan suka bersenda gurau dengan rekan kerjanya seolah menjadi pribadi yang tertutup. Dan ketika penawaran pindah tugas ke base Bali ditawarkan kepadanya Gadis tanpa pikir panjang segera menyetujuinya. Pelarian adalah obat terbaik bagi orang yang patah hati. Dan di pulau ini lah Gadis akan memulai semuanya kembali.

✈ ✈ ✈

“Mas… Mas… Mas… Mas Raka… kamu suka yang warna hijau atau yang warna peach” Raka tersentak dari lamunannya melihat Laras yang sedang menyodorkan dua pilihan bahan gaun pengantin kepadanya.

“Yang mana saja kamu pilih, aku ikut kamu saja” Raka menjawab dengan setengah hati.

“Ya sudah… aku pilih yang warna hijau muda saja ya mas, kan seragam kamu juga hijau jadi terlihat lebih serasi”


“Iya bagus”
lagi – lagi Raka menjawab singkat.

“Minggu depan kata ibu undangannya sudah siap mas, nanti kamu temanin aku untuk anter undangan ya”


“Minggu depan ya? Hmmm… Minggu depan kayanya aku ada latihan luar dek, kamu ditemani ibu aja ya”
Raka berbohong kepada Laras, ia butuh untuk menjauh sejenak melupakan semua hal mengenai pernikahan yang hanya tinggal menghitung minggu saja. Ia perlu waktu menyendiri untuk melamunkan cintanya – Gadis.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan hari itu pun tiba. Nampak gagah Raka mengenakan seragamnya, Laras sang pengantin melingkarkan tangannya ke lengan Raka. Senyum sumringah terpasang di wajah keduanya, mereka berjalan menuju pelaminan dengan tradisi pedang pora.

Gedung resepsi yang megah itu dihiasi dengan dekorasi modern yang mewah, chandelier kuning keemasan yang dipadukan dengan kain berwarna sama dan sulur tanaman menjadikan ruangan itu terlihat megah. Ratusan bunga lili, mawar, krisan dan anggrek membuat pelaminan Raja dan Ratu semalam semakin cantik terlihat.

Ribuan tamu menyalami mereka berdua mengucapkan ucapan selamat, mendoakan agar mereka selalu bahagia dan cepat diberi momongan. Ayah dan Ibunda Raka tampak bangga mendampingi putranya bersanding dengan menantu impian mereka.

Lalu pesta itu selesai tepat pukul 23.00, mereka berpamitan kepada orang tua mereka, menuju hotel yang telah dipersiapkan untuk menghabiskan malam pertama mereka sebagai suami dan istri.

“Kamu masuk ke mobil duluan ya dek, mas mau angkat telepon dari senior mas dulu… mungkin mau mengucapkan selamat” Laras pun mengiyakan dan masuk ke dalam mobil.

“Iya Bang terima kasih ucapan dan doanya, nanti saya rencana bulan madu ke Lombok sampai di sana saya menghadap Abang… Iya Bang… Siap… Terima kasih bang”

 

Tidak lama Raka menutup telepon, sebuah pesan masuk.

“Apakah kamu bahagia sekarang! Tega sekali kamu mempermainkan perasaan saya” Raka hanya membaca dan menghapus pesan dari Gadis. Ia segera menyusul Laras masuk ke dalam mobil.

Masuk ke dalam kamar hotel Laras meminta izin untuk terlebih dahulu membersihkan diri.

“Mas aku mandi duluan ya”


“Iya dek”
Raka melepas jasnya dan menggulung kemeja lengan panjangnya. Menunggu Laras selesai membersihkan diri, ia duduk di atas ranjang dan melihat layar telepon genggamnya, ia membaca pesan yang kembali masuk “Aku terluka mas, aku ingin mati saja rasanya” kembali Raka menghapusnya. Entah sudah berapa pesan dari Gadis yang telah Raka hapus, hal itu ia lakukan agar ia kuat bertahan dengan keputusan yang sudah ia pilih. Raka berbaring menutup mata dan meletakkan tangannya diatas keningnya. Terdengar langkah kaki Laras mendekat.

“Mas Raka ayo mandi dulu mas, aku sudah siapkan pakaian dan air hangat untuk mas mandi”


“Iya dek”
Raka pun menuju kamar mandi.

Selesai membersihkan diri, Raka mengajak Laras untuk shalat berjamaah.

“Kita shalat dahulu dek” selesai shalat Raka duduk di tepi ranjang dan memanggil Laras untuk duduk di sampingnya.

“Duduk di sini dek” Laras pun mendekat dan duduk berdampingan dengannya. Raka memandangi Laras. Raka bergumam dalam hati “Ini sudah menjadi pilihanku, mulai malam ini Laras lah yang akan menjadi pendampingku selamanya”. Laras menatap Raka dengan penuh cinta, ia mengecup lembut bibir Raka. Raka membalas ciumannya, kini ia adalah suami Laras dan kewajibannya untuk memenuhi hak Laras sebagai seorang istri. Keesokan harinya mereka terbang ke Lombok untuk berbulan madu, membuat memori indah bersama. Dan perlahan Raka menghapus nama Gadis dari hati dan pikirannya.

✈ ✈ ✈

 

Gadis terbangun dengan hang over yang hebat, kepalanya berdenyut-denyut pusing.

“Kok gw nggak inget ya gw pulang sama siapa?” gumam Gadis pelan.

“Mak Lo udah bangun belum, lo stand by loh hari ini mak…” suara laki-laki bernada feminim berkumandang di kamar itu.

“Ah yaa gw inget sekarang… gw balik sama si banci fiiiuuuuhh…” Gadis bernafas lega dia tidak pulang dengan sembarang laki-laki.

“Iyaa bawel!!! Inget gw… by the way babe.. lo punya aspirin nggak?? Kepala gw pusing banget”


“Ya iyalah orang lo minum long island udah kaya lo minum air putih! Kalau kurang nanti gw tambahin lagi segalon tu long island .. metong.. metong dech lo!”


“Iiihh bawel banget sih nie banci kaya emak- emak aja dech lo!”


“Emang gw emak rempong… emang kenapa??”


“Yaaa nggak kenapa-kenapa sih. Cin gw jadi yaa pindah ke kosan sebelah lo, besok dech pas day off gw pindahan”


“Iye gw udah bilang sama Pak Made yang punya kosan. Lo temen gw, pramugari baru pindah base bali lagi cari kosan, katanya lo boleh pindah kapan aja lo mau. Eh ke pantai yuk ! liat yang seger seger”


“Ok dech tapi cari aspirin dulu ya cin”

Enam bulan sudah Gadis pindah base ke Denpasar, hampir setiap malam ia habiskan pergi ke club bersama sahabatnya. Walaupun di keramaian Gadis tetap merasakan kesepian, ia merasa luka itu terus menderanya.

“Babe… kita landing nanti, malamnya dugem yaa?” Gadis yang terkena revised terbang DPS – PER -DPS bersama Derry yang sedang berbincang di galley belakang.

“Ok Mak… buat Lo apa sih yang enggak!! Yuk ah cek kabin dulu udah prepare for arrival nih” Derry bersiap berjalan ke kabin depan.

Dentuman musik yang dimainkan DJ menambah euforia pada diri Gadis.

“One shot lagi Girl…” Gadis meneguk sloki itu dengan sekali teguk. Merasa sloki itu terlalu lambat membuatnya mabuk, ia mengambil botol Jhonny Walker itu dan langsung meminumnya. Malam ini Gadis mengajak Derry dan juniornya Fitri untuk berparty bersenang-senang.

“Hey hey slow down girl… Bisa langsung blackout nanti kamu babe” Derry pramugara melambai itu merebut botol dari tangan Gadis, menahannya menghabiskan isinya yang sudah setengah tandas.

“I want more….” Gadis yang sudah mabuk meracau dan tertawa cekikikan. Tubuhnya limbung, mencoba berdiri tegak dengan berpegangan pada counter bar dan berteriak meminta kembali botol yang berhasil di rebut Derry.

“Udah nggak waras nich Gadis! Sudah yaa babe jangan kaya nggak pernah mabora dech! Sudah sini dance aja dance aja biar lo nggak jackpot bikin malu gw lagi entar” Derry menarik Gadis ke dance floor meliukkan badan bersamanya atau lebih tepatnya menopang tubuh Gadis yang sudah tidak bisa tegak karena pengaruh alkohol.

“Fit.. bantuin gw dong bopong senior lo nie, bantuin gw bawa ke mobil biar dia tiduran di mobil aja, gw tadi liat liatan sama lekong deket bar, gw kan baru aja putus sama gadun gw jangan Sampe lepas deh tuh calon Gadun . Duh jadi curcol dech gw ah… Udah bantu angkat yuk!”


“Mbak Gadis, Fitri beliin Aqua dulu yaa mbak Gadis tunggu di mobil dulu sebentar yaa mbak”
Fitri segera menuju mini market di seberang jalan.

“Mbak Gadis ini diminum dulu airnya” Fitri membantu Gadis untuk minum.

Gadis menolak air minum tersebut “Nggak mau… Raka jahat” dan ia pun mulai menangis tersedu-sedu “Aku.. aku” dan seketika Gadis pun tertidur pulas, meninggalkan Fitri yang terkejut.

✈ ✈ ✈

“Hey mak.. lo kalau mabora jangan kampungan dech! Gw udah dikiiiitt… lagi ngedapetin tuh Buleleng. Kalau nggak gara-gara si Fitri itu yaa… panik liat lo nangis-nangis terus pengsan, pasti sekarang gw udah bobo cantik di hotel sama tuh Buleleng plus dapet bank berjalan baru. Lagian lo kenapa sih mak? Setiap dugem mabok nangis mabok nangis dikira kunti apa… jangan-jangan lo suka kesurupan yaa kalau lagi mabora?”

Gadis mengambil gelas dan menuangkan air putih di meja dan meminumnya.

Melihat Gadis cuek, Derry melanjutkan ceramahnya “Memangnya kenapa sih lo Mak? Malu tau sama junior-junior diliatnya, kita kan senior yaa.. jaga wibawa sedikit dong Mak”

“Tau nih babe.. gw lagi patah hati”


“Hah sama siapa? Kok bisa? Elo patah hati ???? Alemong!!!!”


“Berisik ah… cari makan aja yuuk gw laperrr”
Gadis mengambil kunci mobilnya dan beranjak keluar kosan Derry.

“Tunggu dong Mak cerita dulu!” Derry mengejar Gadis ke mobilnya.

“Enggak ah Lo kan ember… Bisa bisa satu company tau. Yuk ah cusss laperrr nich”


“Ayo dech Mak, gw yang setir ya!!! Lo kan abis mabora takut gw”
Derry merebut kunci mobil dari tangan Gadis.

Mereka pun memilih untuk makan di warung ACC Minang yang berada di dekat bandara I Gusti Ngurah Rai.

“Babe makannya jangan banyak-banyak nanti perut Lo buncit nggak pede lagi pakai seragam ! Oyaa babe nanti malam ada birthday party ikut gw yuuk!”


“Duh nanti malam gw standby. Emang party dimana Mak?”
Derry bertanya penasaran.

“Alah gampang nyakit aja, minta surat dokter di klinik 24 jam beres kan!”


“Boleh tapi cariin gw dokter yang ganteng ya?”


“Emangnya lo mau nyakit apa cari jodoh cong! Suka kadang-kadang dech!”


“Gw kan jomblo Mak, gw nggak mau kaya lo patah hati terus nggak move on move on”
Derry mencibirkan bibirnya dan melanjutkan

 

“Emang partynya siapa sih sampe gw mesti nyakit segala?”


“Temen gw Maria dia ngadain party di Hardrock, tenang aja bukan crew kok dia… Eh babe bukannya lo naksir sama manager di sana ya? si Bule ganteng itu? Udah lo temenin gw aja, nggak mungkin ada orang kantor main ke sana kok”


“Iya deh gw temenin lo, udah lama nih gw ngga di F word… kali aja tuh Buleleng khilaf jadi sekong whahaha…”


“Ajak Fitri juga yuk”


“Gw tau deh biar kalau lo mabora ada yang jagain kan?”


“Ya nggak lah babe, semalam kan dia udah bantuin gw”


“Duh tumben baik banget lo, biar aja dia nggak ngeluh kok Mak”


“Biar aja ngga papa makin rame makin bagus… makin nggak sepi hehe…”


“Aneh juga Lo Mak mana ada tempat cafe sepi kalau kuburan yaa iyaa lah wajar sepi dong”


“Hahaha…”
Gadis menjawabnya hanya dengan gelak tawa.

Malam itu Gadis menggunakan mini dress berwarna hitam dengan potongan dada yang sangat rendah memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.

“Dress baru ya Mak? Bagus banget bikin Lo tambah seksi. Udah ga usah patah hati lama-lama…cari aja yang baru nanti”


“Iya ah bawel”


“Yee mana ada banci ga bawel, rempong deh”


“Fitri langsung ke sana katanya Mak di anter Gadun baru”


“Iri aja lo babe nggak bisa liat orang seneng.. orang berondong kok dibilang Gadun”


“Gw iri ?? pliss!!!”

✈ ✈ ✈

“Happy Birthday yaa Maria” Gadis memeluk dan mencium pipi Maria “Gw ngajak temen-temen gw .. itu Derry dan Fitri” Gadis memperkenalkan teman-temannya.

“Hi nice to meet you all” Maria menyalami semuanya dan mempersilahkan mereka memesan minuman yang mereka inginkan.

“Kita duduk disitu aja yuk” Gadis menunjuk tempat yang sudah di reserve untuk tamu Maria.

“Eh Gw buka botol yang tequilla aja mau nggak? Yang nggak doyan pesen aja yang lain, gw lagi pengen minum tequilla”


“Gw ikut aja Mak”
Derry menyetujui usulan Gadis.

“Aku minum cola aja mbak Gadis”


“Kamu nggak suka tequilla ya Fit?”


“Aku nggak bisa minum alkohol mbak, alergi. Nanti badan ku gatal gatal dan merah-merah”


“Ya sudah kamu pesen cola aja biar aku yang pesanin ya”

Pesanan mereka datang, Gadis pun segera menuangkan minuman ke sloki Derry “ok babe kita cheers yaa.. buat “single but i’m happy”

“Yeay buat single ladies”


“Cheers”

Hahaha mereka pun tertawa bersama.

“Mak kita ngedance yuk gw liat ada cowok indo ganteng duduk di arah dekat toilet”


“Males ah…”
Gadis menghabiskan sloki nya.

“Temenin gw lah pliss… basi kalau gw ngedance sendirian”


“Berdua Fitri aja cong”


“Yuk Fit kita kesana cari lekong… biar aja si drunken master pengen mabora sendirian disini”


“Sudah sana pergi nanti keburu diambil orang loh”


“Iya… Mak lo disini aja yaa.. jangan kemana-mana kalau udah mabora”


“Sip”
Gadis mengacungkan jempolnya tanda setuju kembali menuangkan minuman ke slokinya.

Entah sudah sloki keberapa yang akan hendak diminumnya, tiba – tiba sebuah teguran menghentikannya.

“Dis…”

Karena pengaruh alkohol membuat kabur pandangan Gadis, ia berusaha fokus untuk melihat sumber suara tersebut.

“Dis kamu disini?” Suara yang sangat dikenalnya itu membuat sedikit kesadarannya terkumpul dan berhasil melihatnya dengan jelas.

“Raka!” Gadis setengah bergumam dan berpikir mana mungkin Raka ada disini, mungkin itu cuma imajinasinya saja.

“Dis kamu disini sama siapa?”

Tetapi pertanyaan Raka yang diulang kembali membuat Gadis yakin, itu benar-benar laki-laki brengsek itu.

“Kamu sendirian?” Tanya Raka kembali, Gadis tidak menghiraukannya dan kembali meminum sloki yang sudah ia pegang.

Raka memandangi Gadis dari atas sampai bawah, tertegun melihat penampilan Gadis yang jauh dari sopan dan ia menghela nafas ketika melihat Gadis meraih botol tequilla dan mulai menghabiskan isinya.

Derry dan Fitri kembali setelah dua lagu selesai menghentak-hentak dance floor.

“Seru banget yaa Ma… oooww siapa ini mak?” Derry terkejut melihat laki-laki tampan berpotongan tentara berdiri dihadapan Gadis. Setengah berbisik dia menambahkan “iiiiiii… Ganteng bener Mak”

Gadis melihat sekilas pada Raka tanpa menganggap penting kehadirannya dan berkata kepada Derry “Cabut yuk babe .. disini mulai basi!!! Lo ambil mobil duluan babe gw pamit sama Maria dulu”


“Dis… tunggu Dis”
Raka mengikuti Gadis keluar dari tempat itu, setengah dirinya penasaran dan bingung bertemu Gadisnya kembali.

Berdiri di samping mobilnya, Gadis membuka pintu mobil kemudian berbalik menoleh kepada Raka “Mau ikut?” kepalanya ditolehkan ke dalam mobil mengisyaratkan Raka untuk masuk. Tanpa berpikir panjang Raka masuk ke dalam mobil, Gadis mengikuti, sambil menutup pintu ia menginstruksikan Derry untuk melaju. “Cuss ke la favela babe”

“Ok Mak, cuss…” Derry menjawab sambil melirik Gadis dari kaca spionnya. Sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang bersuara, mereka merasa canggung dengan kedatangan tamu yang tidak diundang itu.

Raka menoleh sesaat kepada Gadis dan mengeluarkan ponselnya mengirimkan pesan.

“Suh gw cabut duluan ada urusan mendadak tolong bilang sama lettingan ya” Raka duduk diam disamping Gadis tanpa sepatah kata pun.

Ketika mereka telah sampai ke club itu, Raka hanya mengekor mengikuti kemana Gadis pergi. Dengan suasana club yang sangat padat, mereka memilih untuk berdiri didepan main bar.

“Fit turun yuk” mengerti situasi Derry menarik tangan Fitri untuk turun ke dance floor dan menjauhi Gadis serta tamu misteriusnya itu.

Gadis memesan Jack D coke dan menoleh kepada Raka “lo mau minum apa?”


“Saya tidak minum”
Raka menjawab menatap Gadis yang sedang menghabiskan minumannya.

“Kenapa kamu jadi begini Dis?”

Gadis tidak menjawab dan balik menatap Raka dan berkata “Ah basi Lo” kemudian ia berjalan menuju ke tengah kerumunan untuk turun ke dance floor. Raka hanya diam mengamati. Gadis yang meliukkan tubuhnya dengan seksi mengikuti hentakan musik mengundang perhatian laki-laki di sekitarnya. Seorang laki-laki asing berambut pirang mendekatinya dan berdiri tepat dihadapannya, menggerakkan badan bersamanya mengikuti musik yang membuat suasana makin bertambah panas. Laki-laki itu terlihat memegang pinggul Gadis dan mulai berdansa bersama, tangannya mulai memeluk Gadis dengan intim. Ia menggiring Gadis menuju sudut dan mulai menciumi lehernya, Gadis pun membiarkannya. Raka yang tidak tahan melihat hal tersebut maju menerobos kerumunan dan segera menarik Gadis menjauh dari laki-laki itu.

“Hey what’s wrong with you man” pria asing itu berteriak marah.

“None of your business” hardik Raka keras dan segera membawa Gadis keluar dari tempat itu.

Raka memanggil taksi yang lewat didepan mereka dan bertanya dimana Gadis tinggal.

“Kita pulang! alamat kamu dimana?” Gadis hanya diam tidak menjawab, supir taksi hanya dapat menunggu dengan sabar pertikaian sepasang kekasih itu menurutnya.

“Ayo… cepat beritahu kamu tinggal dimana?” Gadis hanya diam, tidak sudi menjawab.

“Jawab atau saya anter kamu ke hotel?” Gadis menyerah dan memberikan alamatnya kepada supir taksi itu.

Ia turun dari taksi dan segera membanting pintu taksi dengan keras tepat didepan wajah Raka yang hendak turun dari taksi, tanda secara tidak langsung mengusirnya pergi. Mengerti bahwa Gadis menolaknya, Raka pun pergi bersama taksi itu.

Raka pulang ke rumahnya, merenung dan terdiam seperti habis melihat hantu, ya hantu dari masa lalunya… Gadis. Gadis yang sungguh sangat berbeda dengan Gadis yang ia kenal dulu.

Lamunannya terpecah “Mas kamu mau mandi atau makan dulu?”


“Eh iya dek, mas mau mandi dulu saja”
Raka menghampiri Laras mengecup keningnya dan segera menuju kamar mandi sebelum istrinya bertanya lebih lanjut.

✈ ✈ ✈

 

Sepulang bulan madunya bersama Laras, Raka mendapatkan surat penunjukan untuk sekolah di Bandung. Dan selama itu pun mereka berpisah untuk sementara waktu karena Laras harus bertugas di Jakarta.

Setelah sekolah Raka rampung, ia mendapatkan penugasan di tempat baru yaitu di Denpasar Bali. Laras segera mengajukan pindah tugas mengikuti suaminya.

“Mas Raka ini kopinya sudah Laras buatkan. Kopi hitam tanpa gula kesukaanmu mas” Laras tersenyum berpikir bahwa Raka akan merasa heran bahwa ia mengetahui kesukaan-kesukaannya. “Untung aja aku sudah nanya-nanya sama ibu tentang makanan dan minuman kesukaan mas Raka, sampai band favoritnya juga aku tahu” batin Laras senang. “Besok aku mau buatin ayam goreng kesukaan mas Raka biar ia makin cinta sama aku” Laras bergumam bahagia, membayangkan Raka akan mengecup keningnya mesra, salah satu hobi Raka yang baru sejak memperistri Laras.

✈ ✈ ✈

“Raka… Bapak titipkan Laras ya, baik-baik kalian di sana. Kalau kamu ada kesulitan segera kabari bapak nanti bapak usahakan bantu” Ayah Laras berpesan kepada Raka ketika mengantarkan mereka ke bandara.

“Baik pak, bapak dan ibu juga selalu jaga kesehatan di Jakarta, Raka dan Laras pamit yaa pak, ibu” Raka mencium tangan kedua mertuanya.

Raka dan Laras segera menuju ke pesawat, Laras menggenggam erat tangan Raka. Raka pun membalasnya dengan mengecup puncak kepala Laras meyakinkan Laras bahwa mereka akan baik – baik saja memulai kehidupan baru mereka di kota lain.

“Mas Raka senang nggak pindah ke tempat baru?”


“Iya mas senang, asalkan bersama Adek… mas pasti merasa senang di mana aja”
Raka menjawab dengan cepat pertanyaan Laras.

Dan tiba-tiba wajah Raka terlihat terkejut “Ada apa mas?” Laras bertanya dengan heran.

Raka dengan cepat merubah ekspresi wajahnya dengan senyuman.

“Ah bukan dia” batin Raka dan segera menepis kekhawatirannya ketika melihat seorang pramugari yang mirip dengan Gadis sedang melayani penumpang memberikan makanan.

“Mas nanti mau punya anak berapa?” Laras bertanya dengan manja.

“Aku mau sebanyak-banyaknya dong” Raka menjawab dan menarik Laras mendekat merebahkan kepalanya ke bahu Raka.

“Aku cinta kamu suamiku” Laras mengungkapkan perasaan bahagianya.

“Iya” Raka menjawab dengan mencium puncak kepala Laras.

✈ ✈ ✈

Takdir kembali mempertemukan Raka dengan Gadis. Raka tertegun melihat Gadis berada di Hard Rock Cafe ketika ia mengadakan kumpul-kumpul dengan lettingannya. Merasa tidak percaya dengan penglihatannya Raka datang menghampiri Gadis dan menyapanya. Namun Gadis tidak bergeming dan menganggap dirinya sebagai bayangan. Ia melihat Gadis dari ujung kepala dan ujung kaki, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Penampilan Gadis yang jauh dari sopan dan melihat bagaimana Gadis menenggak habis minuman keras itu dalam hitungan menit. Ingin rasanya Raka merebut botol itu dan menjauhkannya dari tangan Gadis. Gadisnya yang tampak rapuh membuat hati Raka iba.

“Akulah penyebab semua ini” batinnya dalam hati.

Sehingga tanpa berpikir panjang ia mengikuti Gadis kemana-mana ia pergi bahkan mereka pun berpindah lokasi menuju club lain.

Ketika berada di sana juga, ingin rasanya Raka menjauhkan Gadis dari minuman jahanam itu Terlebih ketika Gadis berdansa intim dengan pria asing yang tampak sama mabuknya dengan dirinya. Ketika pria itu mengambil kesempatan dengan menciumi tubuh Gadis, Raka tidak dapat menahan perasaannya dan segera menarik Gadis keluar dari tempat itu dan segera membawanya pulang. Meskipun Gadis diam seribu bahasa selama perjalanan menuju rumahnya, Raka dapat merasakan bahwa Gadis menahan dirinya untuk tidak meledak dihadapannya. Ia bahkan tidak terkejut ketika Gadis membanting pintu taksi tepat dihadapan wajahnya ketika ia hendak mengantarkan gadis itu ke depan pintu rumah kosnya.

“Aku pantas mendapatkannya atas apa yang telah aku perbuat kepadanya” batin Raka sedih dan kemudian memilih untuk pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, Raka masih merasakan kepedihan melihat Gadis yang hancur karenanya. Ia tidak menyangka bahwa Gadis akan menenggelamkan kesedihannya dengan alkohol dan merusak hidupnya dengan berparty di club malam. Ketika dalam hati ia bertekad akan membantu Gadis untuk memperbaiki dirinya yang hancur, suara Laras menyadarkannya bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki seorang isteri. Menekan rasa bersalahnya Raka pun mendekat dan mengecup lembut kening isterinya dan segera berlalu pergi.

✈ ✈ ✈

Raka terus teringat sorot mata Gadis yang terluka sehingga membuat ia tidak dapat berkonsentrasi bekerja. Malam ini ia memutuskan untuk menemui Gadis, mencoba membantunya pulih dari keterpurukan.

“Dek… mas ada kegiatan di luar sebentar, Adek tidur duluan saja besok Adek harus praktek kan?” Raka meminta izin istrinya untuk keluar malam ini.

“Kegiatan apa mas, kok malem banget mas?” Laras bertanya dengan nada khawatir.

“Urusan kantor biasa dek, mas nggak malam -malam kok pulangnya. Mas bawa kunci jadi Adek tidur duluan aja”


“Iya mas hati-hati”


“Iya dek… Mas berangkat yaa”
Raka meraih kepala Laras dan mencium keningnya lembut.

Raka segera membawa mobilnya menuju rumah kos Gadis. Rumah itu tampak sepi dari luar, Raka mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Gadis itu, setelah nada dering ketiga telepon itu diangkat dan terdengar suara laki-laki menjawab.

“Hallo.. saya bartender la Favela, mbak pemilik telepon ini mabuk berat kalau bisa anda menjemputnya disini”

Raka terkejut mendengar kabar tersebut dan segera menuju ke tempat Gadis berada.

Raka pun membawa pulang Gadis ke kamar kosnya, ia mencari kunci kamar Gadis di tas kecilnya dan membuka pintunya, membopong Gadis menuju kamar, menidurkannya di ranjangnya.

Ketika Raka hendak melepaskan tubuhnya, Gadis menarik Raka ke pelukannya dan menciumnya dengan bertubi. Ia membalikkan posisi badannya sehingga tubuhnya duduk menindih Raka.

Merasa terkejut Raka mencoba menolak Gadis.

“Jangan Dis… kita tidak boleh begini” Gadis yang sudah setengah sadar segera………………… dan kemudian berguling ke samping tubuh Gadis. Mereka kemudian jatuh tertidur.

Gadis yang terbangun lebih dulu memandang Raka yang terbaring di sampingnya. Kepalanya berdenyut-denyut nyeri. Ia mengambil kaos yang berukuran besar dan memakainya. Ia membuat kopi untuk meredakan nyeri kepalanya. Ia pun duduk memandangi Raka dengan tenang, tangan kanannya memegang mug kopi dan tangan kirinya memegang ponsel mengecek schedule nya hari ini.

Raka terbangun dan memandangi sekelilingnya, merasa asing terbangun bukan dikamar tidurnya.

“Sudah bangun?” Suara yang sangat dikenalnya itu membuatnya terjaga penuh.

Gadis sedang duduk di kursi malas, dengan memakai kaos dan underwear saja.

Rambut cokelatnya ia biarkan tergerai indah sehingga terlihat semakin cantik, ia memandangi Raka dengan lekat sehingga membuat Raka tertegun tidak menjawab.

“Gw mau mandi! lo mau mandi nggak?” tawaran Gadis yang tiba – tiba membuat Raka terperangah seperti orang bodoh. Mulutnya tidak kuasa menutup. Mulutnya mengangga dan matanya melotot, terperanjat akan ajakan yang dirasa ditujukan untuk mengejeknya, untuk mengingat kembali kenangan indah mereka bersama di apartemen Gadis.

“Pintu kamar mandi nggak gw kunci ya… kalau mau nyusul… nyusul aja!”

Tidak ingin tampak lebih bodoh lagi dihadapan Gadis, ia segera memakai pakaiannya, mengambil telepon genggamnya yang sudah mati dan segera keluar dari kamar Gadis untuk pulang.

Sepanjang perjalanan pulang ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbuat terlampau jauh. Ia tidak dapat menolak pesona Gadis. Sekarang dirinya adalah pria beristri, seharusnya ia dapat menjaga kesetiaannya pada pernikahannya.

✈ ✈ ✈

“Mas baru pulang dari mana saja? aku khawatir semalaman mas nggak ada kabar?”


“Iya dek anggota ada yang buat pelanggaran mas baru selesai ngurusin pagi tadi, kamu belum berangkat praktek?”


“Aku nunggu kamu pulang dulu mas, ya sudah mas mandi dulu baru sarapan aku sudah siapkan”


“Sarapannya nanti saja dek, mas mau mandi dulu terus tidur, kepala mas lagi pusing mungkin karena bergadang”

“Ya sudah aku berangkat habis mas selesai mandi saja”


“Iya Dek”
Raka masuk ke dalam kamarnya dan mencharger iphone-nya yang mati dari tadi malam dan langsung menuju kamar mandi.

“Mas aku berangkat dulu yaa, sudah ada panggilan dari klinik” Laras masuk ke dalam kamar hendak mengambil telepon genggamnya yang ketinggalan di dalam kamar, ketika ia melihat di layar iphone Raka sebuah pesan masuk “Dari Gadis? Kenapa perempuan itu masih saja menganggu suamiku!” batin Laras menjerit cemburu. Namun ia segera menepis kecemburuannya dengan berpikir “Sekarang mas Raka sudah menjadi suamiku dan sangat mencintaiku, pasti perempuan itu saja yang masih belum bisa melupakan suamiku” Ia segera bergegas pergi menuju tempat prakteknya.

✈ ✈ ✈

 

“Kamu dimana Dis?” pesan whatsapp dari Raka masuk ke ponsel Gadis. Gadis hanya melihat sekilas dan mengacuhkannya.

10 menit kemudian masuk pesan kedua.

“Kenapa pesan saya tidak dijawab? kamu baik-baik saja kan? Kamu dimana?” Gadis mendelete langsung pesan Raka.

Tidak sampai 5 menit, masuk pesan ketiga dan keempat hampir bersamaan.

“Kamu dimana?”


“Saya jemput!”

Merasa jengkel dengan pesan-pesan Raka Gadis mematikan ponselnya.

“Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan…”

Tidak mendapat jawaban, Raka menelepon Gadis dan mendapati ponselnya dalam keadaan tidak aktif.

Dengan bergegas ia mengambil kunci mobilnya dan menuju club yang biasa Gadis kunjungi.

“Ayo pulang…” Raka meraih tangan Gadis yang sedang asyik minum sendirian di bar.

“Lepas, saya belum mau pulang” Gadis menepiskan tangannya.

“Pulang atau aku bopong kamu dari sini!” Raka mengancam Gadis dan kembali menarik tangannya untuk keluar dari tempat itu.

Gadis keluar dengan membanting pintu mobil Raka, Raka mengikuti Gadis masuk ke dalam kamar kosnya.

Gadis berbalik menghadap Raka . “Mau lo apa sih, kesini terus! Lo udah punya istri tau!”

Raka terdiam.

“Jawab!!! mau Lo apa?” Gadis kembali berteriak.

“Aku ingin membantu kamu Dis, mungkin kamu jadi seperti ini karena aku”


“GR kamu!”
Gadis membentak Raka dengan kasar.

“Berhentilah minum Dis” Raka mencoba membujuk Gadis dengan melembutkan suaranya.

“Hak lo apa ngatur – ngatur gw? Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Kamu sudah beristri! Sebaiknya kamu pulang ke istrimu!”


“Aku mohon Dis, dengerin aku. Biarin aku bantu kamu”


“Bantu? bantu apa??? Gw ga perlu bantuan lo!!! Lebih baik lo pulang ke istri lo yang sempurna itu!”

Merasa Gadis tidak akan meluluh kepadanya, Raka Memutuskan untuk pamit.

“Ya sudah aku pulang dulu. Jangan lupa makan dan istirahat. Jangan keluyuran lagi!”

Gadis hanya menatap Raka dengan marah dan tidak berkata apapun.

Beberapa langkah setelah Raka pergi meninggalkan Gadis, ia mendengar suara teriakan, cacian dan tangisan juga suara barang-barang di banting.

Hatinya merasa sakit membayangkan Gadis seperti itu, namun ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Gadis malam ini. Gadis memerlukan waktu untuk menyembuhkan lukanya dan Raka memutuskan untuk segera pergi.

Raka selalu datang di setiap malam, Gadis selalu mengusirnya, terkadang membiarkan dia masuk tetapi tetap mengacuhkannya.

Telah sebulan Raka rutin datang dan menemani Gadis apabila ia sedang tidak bertugas. Raka selalu datang tepat sehabis pulang kerja dan selalu pulang ke rumahnya ketika Gadis telah tertidur.

Raka selalu membawakan Gadis makan malam dan memastikan Gadis tidak pergi keluyuran untuk mabuk.

“Dis ayo makan!” Raka bermaksud menyuapkan nasi ke mulut Gadis.

“Gw bisa makan sendiri!” Gadis menolak suapannya dan mengambil sendok dari tangan Raka.

Gadis selalu menolak kebaikan Raka dengan kasar, hal itu ia lakukan karena ia berusaha melindungi dirinya, karena ia tahu kalau saat ini kembali Raka meninggalkannya lagi maka ia akan sangat hancur dan mungkin tidak akan sanggup untuk hidup.

✈ ✈ ✈

“Dis kamu sudah makan belum?” Tanya Raka di Whatsapp nya.

“Belum laper” Gadis mereply cepat.

“Makan dong nanti kamu sakit loh, hari ini kamu nggak terbang?” Raka melanjutkan pertanyaannya.

“Enggak, standby” jawab Gadis singkat seperti biasa.

“Maaf hari ini aku nggak bisa ke tempat kamu, Laras minta aku temani ke acara nikahan adik juniorku”

Gadis sadar Raka sudah mempunyai istri, jadi wajar dia menghabiskan waktu bersama istrinya toh karena ini adalah hari Sabtu, family day kalau orang bilang. Jadi Gadis tidak membalas pesan Raka dan hanya membacanya saja.

Raka melihat tidak ada jawaban dari Gadis walaupun pesan whatsappnya telah terbaca.

“Aku rasa usahaku telah berhasil, sudah sebulan ini Gadis tidak pernah menyentuh alkohol dan pergi keluyuran. Aku rasa Gadis akan pelan-pelan menerima kenyataan ini dan melanjutkan hidupnya” Raka membatin lega di hatinya.

Keesokan harinya Gadis lagi-lagi tidak mendapatkan kabar dari Raka selama seharian, sehingga Gadis berinisiatif menanyakannya.

“Dimana?”

Pesan Gadis terbaca namun tidak dijawab oleh Raka. Dan baru malam Raka membalas pesannya.

“Maaf aku baru kasih kabar. Tadi Laras minta aku temani jalan-jalan. Katanya bosen di asrama. Kamu nggak ke mana mana kan? jangan dugem ya! jangan mabuk mabukan lagi, ok!”


“Bukan urusan lo”
Gadis menjawab ketus.

“Ya sudah jangan lupa makan ya” Raka berusaha membuat Gadis tidak marah kembali.

Gadis hanya membaca pesan Raka dan tidak membalasnya.

✈ ✈ ✈

“Cinta lo dimana sih! Udah lama gw nggak party sama lo! Masih hidup kan lo Mak?” Pesan Derry merajuk.

“Lo dimana babe ? gw suntuk nie, gw susul lo ya!” Gadis menjawab whatsapp pramugara gemulai itu.

“Ya udah lo kesini aja deh! gw mau ngenalin lo sama temen gw… ok?”

Gadis datang ke tempat Derry berada dan berkenalan dengan teman-teman baru Derry, segerombolan anak-anak ABG Jakarta yang sedang datang liburan ke Bali.

Merasa keramaian tidak membantunya melupakan Raka, Gadis kembali memesan minuman favoritnya dan kembali ke kebiasaannya yang lama.

✈ ✈ ✈

Pukul 1, ponsel Raka bergetar beberapa kali, saat Raka sudah terlelap. Raka melihat nama yang tertera dilayar ponselnya “Gadis”

Suara diujung telepon itu tidak berbicara dan hanya menangis terisak. Raka tahu itu adalah suara Gadis yang sedang berada di club, ia mulai kembali merasa cemas. Ia bangun dan berganti pakaian.

Laras terbangun dan menanyakan Raka hendak pergi kemana.

“Senior mas ada yang pecah ban mobilnya di daerah seminyak, mas diminta datang untuk membantu. Nanti mas langsung pulang kok dek”


“Tapi ini sudah jam 1 pagi mas! memang nggak bisa nyuruh anggota aja mas? Atau aku temani ya?”


“Nggak usah dek … sudah malam kamu istirahat aja! lagipula besok kamu kan pagi harus ke klinik”

Ponsel Raka lagi-lagi bergetar dan Raka pun cepat-cepat mengecup kening Laras dan berpamitan pergi.

Laras merasa ada yang disembunyikan oleh Raka tetapi ia masih berusaha berpikir positif tentang suaminya. Ia memutuskan untuk mempercayai suaminya dan kembali melanjutkan tidurnya.

✈ ✈ ✈

“Dis kamu baik-baik kan?” Raka berhasil menemukan Gadis di tempat biasa ia berparty.

Gadis terus menangis membuat Raka semakin cemas.

“Ayo kita pulang Dis” Raka merangkul bahu Gadis membawanya pulang.

Raka mendudukkan Gadis di sofa. Gadis masih menangis tersedu, make up-nya telah luntur dan rambutnya berantakan. Raka mendekati Gadis menghapus airmata Gadis dengan tangannya dan membelai lembut kepala Gadis. Raka merebahkan kepala Gadis ke dadanya dan memeluknya.

Gadis yang mendapat perlakuan sayang dari Raka mulai menghentikan isakannya. Ia memegang wajah Raka dan mulai membelai wajahnya dengan lembut. Gadis memandangi Raka dan mengecup bibirnya, Raka membiarkannya. Gadis semakin berani mencium Raka, namun sadar Raka tidak membalas ciumannya Gadis pun menghentikan ciumannya.

Sorot matanya tampak terluka, gurat-gurat kesedihan sangat tampak jelas di wajahnya. Ia menatap Raka dalam dan berkata sambil terisak “Cintai aku malam ini Raka! cukup malam ini saja, hatiku sangat sakit!” bulir airmatanya pun kembali jatuh dari matanya yang indah.

Melihat wajah Gadis yang sangat terluka, Raka juga merasa terluka dan detik itu juga Raka sadar bahwa Gadis lah dunianya dan dia tidak akan pernah sanggup meninggalkan gadis itu kembali. Ia memeluk Gadis dan mulai mencium bibir Gadis dengan lembut, membelai punggungnya dan ia menggendong Gadis ke ranjang.

Malam itu Raka melupakan semuanya dan di dunianya hanya ada Raka dan Gadis.

✈ ✈ ✈

 

Raka yang baru saja pulang setelah Gadis tertidur, terkejut melihat Laras menunggu kedatangannya di ruang tengah.

“Mas… kamu dari mana saja? Kenapa kamu pulang lama sekali. Ini sudah hampir subuh mas! Akhir – akhir ini kamu sering sekali keluar malam. Kamu dugem ya? atau kamu selingkuh? Kamu ini perwira mas, bagaimana kalau ada yang lihat, bisa jadi masalah kamu mas!” Laras mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini ia simpan.

“Tadi kan Adek denger sendiri… senior mas pecah ban, mas datang bantu. Terus mas ngobrol sama dia sampai lupa waktu” Raka berusaha meyakinkan istrinya.

“Siapa nama senior kamu?” Laras berkata dengan ketus.

Raka mendekati Laras berusaha meredakan kemarahan Laras. Dan menjawab “Adek nggak percaya sama mas ? Mas bener nggak ngapa-ngapain dek.”

Laras membalikkan badannya, memunggungi Raka dan tidak menjawab.

Raka memeluk Laras dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu Laras “istri mas memang makin cantik kalau lagi marah -marah begini” tidak mendapat tanggapan Raka melanjutkan “jangan marahin mas lagi yaa dek, mas jadi sedih kalau Adek marah – marah begini”.
Raka membalikkan tubuh Laras sehingga mereka saling berhadapan. Mereka saling berpandangan.
“Jangan marah lagi yaa istri mas yang paling tersayang” Raka mengecup lembut kening Laras.
Laras pun luluh seketika dengan perlakuan Raka.

“Mas janji ya jangan keluyuran begini lagi? kalau dilihat anggota atau junior kamu bagaimana mas? Aku takut kamu diomongin orang-orang mas!”

“Iya mas janji, dan mas akan lebih perhatiin istri mas yang cantik ini”. Raka marajuk memasang muka pura2 memelas dan jail agar Laras tidak marah.

Laras pun kembali luluh dan berkata “iya iyaa… aduh kalau suamiku sudah merajuk mana bisa adek marah lagi”

“Ya sudah … mas mandi dulu kemudian shalat subuh” Laras melanjutkan.

“Iya habis mas shalat, kita sarapan terus aku anter kamu ke klinik yaa istriku”


“Iya aku buatin mas sarapan dan kopi yaa, mas mandi dulu sana !”

Sepulang mengantarkan Laras dari klinik, Raka teringat Gadis, ia belum memberikan kabar kepada Gadis sejak kepulangannya fajar tadi. Ia mengirimkan pesan kepada Gadis.

“Gadis…kamu sudah bangun?”


“Iya sudah, mas Raka sudah makan?”
Gadis menjawab pertanyaan Raka dengan sikap yang jauh lebih baik dibandingkan sikapnya dulu kepada Raka, namun ia masih belum berani melangkah lebih jauh, takut kejadian tadi malam hanyalah mimpi.

“Iya mas sudah makan, hari ini kamu terbang kemana?” Raka kembali bertanya.

“Hari ini aku terbang ke Incheon menginap 3 hari disana, kalau sudah pulang nanti aku kabari”


“Iyaa hati-hati yaa”
Raka segera menghapus pesannya, ia harus bertindak hati-hati agar istrinya tidak mencurigainya seperti tadi pagi.

✈ ✈ ✈

“Mas Raka lagi apa? Aku baru sampai hotel, aku istirahat dulu yaa, biar jet lag ku cepat hilang” Gadis yang baru landing di Incheon mengabari keadaannya kepada Raka.

“Gadis istirahat dulu yaa … jangan lupa makan dan jangan keluyuran malam – malam disana!”


“Iya mas. Mas juga jangan lupa makan”

Raka yang hendak membalas pesan Gadis terkejut mendengar suara Laras yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

“Mas sudah siap?”


“Eh iya dek”
Raka menjawab dengan kikuk dan segera menyimpan ponsel itu disaku celananya.

“Mas lagi berkirim pesan dengan siapa? Kok kayanya serius amat, sampai kaget dengar suaraku” Laras bertanya melihat Raka yang kikuk menjawab pertanyaannya.

“Ini adek asuh mas tanya-tanya tentang tes Diklapa 1?” Raka berusaha menetralkan suaranya.

“Siapa mas?” tanya Laras.

“Adik asuh mas dek” Raka berpikir mencari sebuah nama yang Laras tidak kenal.

“Ya namanya siapa mas? Adek asuh mas kan beberapa aku kenal juga. Mungkin aku bisa minta bantuan bapak untuk membantu dia” Raka yang enggan menyebutkan nama membuat Laras semakin penasaran dan kembali bertanya.

“Iya dek… nanti mas minta dia ngadep bapak”


“Nanti adek telepon bapak, namanya siapa mas, letting berapa dia?”
Ia kembali menuntut sebuah nama.

Raka berpikir dalam hati “hmmm… sepertinya Laras tidak mengenal Teguh, jadi dia tidak mungkin menanyakan ini kepada Teguh” Raka khawatir apabila ia salah menyebutkan nama dan Laras mengenalnya pasti Laras akan segera mengkonfirmasikan ini dengan yang bersangkutan. Merasa yakin Laras tidak mengenal nama itu maka Raka pun menjawab pertanyaan istrinya “Adek nggak kenal sama dia, namanya teguh, adik letting satu klik dek” Dan tidak lama Raka menjawab, ponselnya bergetar kembali.

“Kok nggak diangkat mas?” Laras merasa heran melihat Raka terlihat enggan mengangkat panggilan itu.

“Oh iya dek” Raka melihat layar ponselnya sebuah video call dari Gadis. Ia terkejut dan tidak menyangka Gadis akan menghubunginya kembali setelah mengakhiri percakapannya tadi, apalagi dengan sebuah video call pada saat ia sedang berhadapan dengan istrinya.

“Kenapa bengong, kok tidak diangkat?” Laras kembali bertanya melihat Raka bersikap aneh, seolah enggan mengangkat panggilan tersebut.

Raka buru-buru berkata “Dari Adrian… nanti saja mas hubungi dia kembali setelah mas antar kamu kerja.”


“Angkat saja nggak papa, masih ada waktu kok aku kan nggak minta dianter buru-buru”


“Nanti saja mas hubungi dia kembali”
Raka kembali bersikeras dan mematikan panggilan video call tersebut.

✈ ✈ ✈

Raka baru saja pulang dari kantornya, hari ini ia pulang lebih cepat dari biasanya karena Laras memintanya untuk makan malam bersama di rumah.

Laras membuka pintu untuk suaminya yang baru saja datang. “Mas sudah pulang…” Laras mengambil tas kerja Raka dan mencium tangannya. Raka membalas dengan mencium kening istrinya.

“Adek buatin kopi dulu ya mas, mas Raka mandi dulu saja … kopinya nanti aku taruh di meja makan”


“Iya makasih dek, mas mandi dulu ya”

Raka masuk ke dalam kamar, meletakkan dompet dan ponselnya di atas meja rias. Ia mengambil pakaiannya di dalam lemari dan segera bergegas menuju kamar mandi.

Laras yang hendak menaruh tas kerja Raka di dalam kamar mendengar ponsel Raka bergetar berulang kali. Takut itu adalah panggilan penting, Laras melihat siapa yang telah menelepon suaminya berkali-kali. Nama Gadis tertera di layar ponsel Raka.

“Gadis… Kenapa ya dia telepon mas Raka terus? Apa jangan-jangan mas Raka masih berhubungan dengan Gadis ya?” Firasat Laras bekerja, ada sesuatu yang tidak beres. Laras pun meletakkan kembali ponsel Raka dan berusaha bersikap tenang menunggu Raka selesai mandi.

Raka yang telah selesai mandi menghampiri Laras yang sedang menonton tv.

“Dek kita shalat Maghrib dulu yaa baru kita makan malam”


“Iya mas”
Laras menjawab singkat.

Setelah shalat berjamaah mereka menyantap makan malam, selesai makan malam ponsel Raka kembali bergetar. Raka mengambil ponselnya, raut wajahnya berubah, nama Gadis muncul di layar ponselnya. “Dek, mas angkat telepon dulu yaa” Raka berjalan keluar rumah.

Semakin nyatalah firasat Laras bahwa Raka kembali berhubungan dengan Gadis.

“Iya kenapa Dis?”


“Aku sudah di Bali. Mas di mana? Temenin aku dinner bisa nggak?”


“Alhamdulilah kamu sudah sampai, tapi mas lagi banyak kerjaan Dis, mau ada UKP”

Gadis bergumam “Emmmm… Bagaimana kalau besok? Besok kan hari sabtu, weekend, nggak harus nemenin kondangan lagi kan?” Gadis bertanya dengan nada menyindir.

Raka lama menjawab “iya aku usahakan ya”

Suara diujung sana mematikan teleponnya.

Raka masuk ke dalam rumah. Laras menunggunya dengan raut wajah kesal.

“Siapa sih mas yang teleponin kamu terus?”


“Dari kantor. Anggota dek”


“Bukan Gadis?”

Raka terkejut “Gadis?”


“Iya mantan pacar kamu”


“Bukan, ini dari kantor masa kamu ga percaya banget sih!”


“Ya kali aja masih berhubungan”


“Enggak bukan, nggak mungkin lah aku kan pria beristri”
Laras terdiam.

“Ya sudah… mas ke kamar dulu ya dek, mau ngerjain kerjaan dari kantor yang tadi belum selesai.” Raka memilih untuk pergi menghindari pertanyaan lain dari istrinya.

✈ ✈ ✈

Laras sedang menonton berita malam di televisi ketika suaminya datang menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya. Raka sedang berusaha mencari alasan kepada istrinya untuk dapat keluar malam ini menemui Gadis.

“Dek, mas izin keluar yaa malam ini, ada kumpul letting”


“Kumpul letting lagi mas? bukannya minggu kemarin kalian sudah kumpul juga ya?”


“Iya dek kita mau bahas persiapan kursus”


“Tempatnya di mana mas ?”


“Warung Made”


“Warung Made yang di Kuta atau Seminyak?”


“Yang di Kuta sayang”


“Ya sudah aku ikut”


“Dek… kamu tau kan kalau kumpul letting itu isinya laki-laki semua, nggak ada yang ngajak istrinya, apa kata letting ku kalau aku bawa istri. Besok saja yaa mas ajak kamu jalan-jalan”


“Ya sudah”
setengah mengambek Laras mengiyakan permintaan Raka.

Setelah selesai mengganti pakaiannya Raka mencium kening istrinya kemudian berpamitan pergi. Tidak lama Raka pergi Laras mengeluarkan mobilnya dan membuntuti Raka.

✈ ✈ ✈

“Gadis kamu dimana?”


“Aku di kosan, mas kita nggak jadi pergi dinner yaa! aku lagi kurang enak badan, kita makan di kamarku saja yaa?”


“Kamu sakit?”


“Cuma kurang enak badan sedikit kok mas, karena mungkin di Incheon kemarin aku kurang istirahat. Tapi sudah mendingan kok”


“Ya sudah… mas ke sana ya! kamu mau dibeliin obat nggak atau mau mas bawain makanan atau buah?”


“Makasih mas nggak usah, aku sudah siapin makanan disini kok, aku tunggu dikosan ya”


“Iya”
Raka menutup teleponnya.

✈ ✈ ✈

15 menit kemudian Raka tiba dan ia mengetuk pintu kamar Gadis.

“Assalammualaikum Dis”


“Iya mas”
senyuman Gadis merekah ketika ia membukakan pintu untuk Raka. Gadis memakai blouse one shoulder berwarna biru memamerkan sedikit kemulusan bahunya dengan short pants putih yang tampak serasi. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah. Seminggu tidak bertemu membuat jantung Raka berdesir halus melihat kecantikan Gadisnya.

“Mas Raka sudah laper belum? makan dulu yuk mas aku sudah laper banget nih!”.Suara Gadis terdengar merdu di telinga Raka.

“Iya” Raka menjawab singkat menutupi kegugupannya.

“Ini Gadis yang masak semuanya loh mas” Gadis memamerkan menu western food yang dimasaknya kepada Raka, Grilled Chicken with Barbecue sauce, Broccoli with Mushroom Gravy dan Carbonara Spaghetti yang tanpak menggoda untuk dinikmati.

“Oh yaa?! terima kasih yaa cantik” Raka tersenyum menggoda.

“Hmmm… Mulai kumat deh gombalnya” Gadis mencibirkan mulutnya yang menggemaskan.

“Hahaha…” Raka menjawab Gadis dengan tawanya yang ringan.

Sudah lama sekali rasanya Raka dapat menjadi dirinya sendiri, menertawakan hal yang ringan bersama Gadis yang dicintainya, tanpa perlu memikirkan beban berat dipundaknya.

“Bagaimana enak nggak masakanku mas?”


“Enak… enak sekali.. mungkin karena yang masak cantik yaa ! jadi terasa enaaaakk… sekali”
Raka tersenyum jahil.

“Mulai deh… Raka si penggombal” Gadis berseri-seri mendengar pujian Raka.

Mereka terus bersenda gurau sambil menyelesaikan makan malam mereka.

Setelah selesai membereskan peralatan makan mereka, Raka bertanya “Gadis.. kamu yakin nggak mau kemana-mana nih?”


“Disini saja ya mas… kita nonton DVD saja ya? Mas Raka sudah pernah nonton Dear John belum?”

 

Gadis menunjukkan sebuah cover DVD kepada Raka.

“Belum… Gadis mau nonton itu?”


“Iya kalau mas belum pernah, kita tonton film ini saja yaa!”


Raka dan Gadis pun duduk berdampingan di sofa dan mulai menikmati film romantis itu.

Ditengah film, Gadis menoleh kepada Raka, menghela nafas “Duh… bagus banget filmnya yaaa mas, aku paling suka waktu Savannah bilang lebih baik mengucapkan “Sampai bertemu lagi” daripada memilih mengucapkan selamat tinggal pada John”

Raka memandangi Gadis yang tersenyum kepadanya, membuatnya mabuk pada senyuman Gadis. Raka mendaratkan bibirnya menyentuh bibir Gadis. Mereka pun berciuman, kemudian Gadis menghentikan ciuman Raka “Kamu tidur disini yaa! malam ini saja… aku kangen sekali sama kamu”

Terpesona dengan kecantikan Gadis dan suaranya yang merajuk manja, Raka pun mengangguk singkat dan melanjutkan kembali ciumannya yang sempat terputus.

✈ ✈ ✈

Sementara itu Laras yang telah memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang sebuah rumah kosan, mencoba menghubungi Raka. Ia menelepon suaminya selama beberapa kali namun berkali-kali itu pula panggilannya masuk ke dalam voice mail. Laras memukul-mukul kemudi mobilnya, melampiaskan rasa marah dan frustasi yang melandanya.

“Kenapa mas Raka berbohong kepadaku” batinnya menjerit.

Tidak merasa memiliki pilihan lain, Laras memutuskan menunggu di dalam mobil untuk memergoki perselingkuhan suaminya. Tiga jam telah berlalu Laras tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Ia keluar dari dalam mobil, ketika melihat seorang laki-laki paruh baya yang kemungkinan adalah penjaga rumah kosan ini.

“Maaf Pak, kamar Mbak Gadis nomer berapa ya?”

 

“Saya temannya mbak Gadis, saya ada janji dengan dia. Tapi dari tadi saya telepon hpnya tidak aktif”

“Oh temennya mbak Gadis ya? Kamar mbak Gadis, kamar nomer dua dari sebelah kiri, dari sini kelihatan kok non” penjaga itu menunjuk pintu kamar yang dimaksud.

“Kalau mobil itu, mobilnya siapa ya pak?” Laras menunjuk mobil Raka yang terparkir di samping pintu gerbang.

“Kalau itu mobil pacarnya mbak Gadis, non. Sering datang ke sini kok non! kalau datang ke sini seringnya malam – malam”


“Terima kasih ya pak”
melesat cepat Laras menuju pintu yang dimaksud penjaga itu.

✈ ✈ ✈

Dug… Dug.. Dug… Dug… Dug suara ketukan keras dan cepat itu membangunkan Gadis yang sedang tidur berpelukan dengan Raka. Ia memakai bajunya dan menjawab ketukan tidak sabar itu.

“Iyaaa sebentar” khawatir terjadi keadaan darurat, Gadis bermaksud untuk segera membukakan pintunya.

“Itu benar suara perempuan, itu pasti Gadis!” Laras kembali mengetuk pintu dengan tidak sabar.

Pintu terbuka, seorang perempuan yang Laras yakini sebagai Gadis, membuka pintu itu.

“Minggir” ia menabrak Gadis dan menerobos masuk ke dalam kamar.

Ia melihat Raka yang sedang tidur terbaring tanpa mengenakan atasan dengan tubuh bagian bawah yang hanya ditutupi oleh selimut.

Mengambil pakaian Raka yang berserak di sofa, Laras bergegas menghampiri Raka yang terlelap.

Laras melempar pakaian itu ke wajah Raka. “Pakai pakaian kamu.. saya tunggu di rumah” tatapnya penuh amarah.

Raka tersentak “Laras…”

Laras menatap Raka penuh amarah “Saya tunggu kamu di rumah!”

Laras berbalik menatap Gadis penuh rasa marah dan jijik “Penganggu rumah tangga orang” selesai mengucapkannya Laras segera meninggalkan tempat itu.

Raka segera memakai pakaiannya, kemudian menghampiri Gadis dan memegang tangannya “Mas pulang dulu ya, nanti mas hubungi kamu” lalu Raka pun keluar menyusul istrinya pulang.

✈ ✈ ✈

 

Malam itu Laras mengamuk hebat. Laras menatap Raka penuh benci dan amarah.

“Kamu jahat mas! Tega kamu begitu sama aku. aku muak sama kamu mas. aku tidak habis pikir serendah itu kamu mengkhianatiku”


“Mas minta maaf”
Raka hanya dapat meminta maaf tanpa bisa berkata apapun.

“Kamu sudah khianati pernikahan kita mas. Sejak dulu selalu Gadis… Gadis dan Gadis… Apa kurangnya aku dari dia mas … dibandingkan perempuan yang menurut ibumu tidak setara denganmu” Laras yang terluka sengaja merendahkan Gadis di hadapan Raka.

“Maafkan mas, mas khilaf”


“Khilaf mudah sekali kamu berkata khilaf, kamu anggap apa pernikahan kita?”


“Maafkan mas yang salah dek”
Raka berusaha mendekati Laras dan meraih tangannya.

Dengan kasar Laras segera menepis tangan Raka “Sudah berapa lama kalian berhubungan, sudah berapa kali kalian tidur bersama?”

Raka terdiam dan tidak menjawab.

“Jawab!!! Dasar kamu laki-laki Brengsek!. Aku tidak bisa memaafkan kamu!!!” Laras masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamar dengan kencang.

Raka tahu perbuatannya tidak dapat dimaafkan oleh Laras, ia duduk termenung di ruang tengah, beberapa jam telah berlalu ia hanya duduk termenung, kepalanya yang penat meminta untuk diistirahatkan. Ia membaringkan tubuhnya di sofa dan tertidur, sampai ia mendengar suara teriakan perempuan.

“Laras…” Raka bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Laras yang berada di atas ranjang sedang memegangi perutnya dan darah segar merembes dari celana panjang Laras mengotori bed sheet tempat tidurnya. Malam itu Raka segera melarikan Laras ke rumah sakit.

✈ ✈ ✈

“Aku tidak ingin berada di dalam satu ruangan denganmu mas” Raka tertunduk sedih.

“Biarkan mas mendampingimu dek” Raka menggenggam tangan Laras yang gemetar.

Laras memalingkan wajahnya dan terisak “Apa kamu sudah cukup puas membunuh darah dagingmu sendiri, Pembunuh!” kemudian ia menepis tangan Raka.

“Aku tidak tahu kalau kamu hamil” Raka tertunduk dalam, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Tolong aku tidak mau melihat kamu didekatku mas. Kalau saja kamu lebih peduli denganku mungkin sekarang anak kita masih hidup” Laras menangis,air matanya dan luka hatinya begitu mendera.

Raka keluar ruangan dengan langkah gontai. Ia menunggui Laras di depan kamarnya hingga kedua orang tua Laras datang menjenguk ke rumah sakit. Raka meminta izin untuk mandi dan pulang membawakan barang-barang yang dibutuhkan Laras dari rumah mereka.

✈ ✈ ✈

Ketika Laras sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, Ayah Laras meminta waktu untuk berbicara dengan Raka.

“Raka… bapak mohon pengertian kamu. Laras … baru saja kehilangan anak kalian dan hal itu sangatlah berat untuk Laras, tolong biarkan Laras untuk pergi ke Jakarta, memulihkan tubuh dan pikirannya. Nanti bapak juga akan bantu bicara dengan kesatuan kamu agar memberikan kemudahan kamu untuk mengunjungi Laras. Mungkin Laras merasa sedih bila berada di rumah kalian dan kembali teringat kejadian ini, oleh karena itu laras meminta bapak untuk membawanya kembali ke Jakarta untuk sementara waktu. Bapak harap, Raka bisa mengerti keputusan Laras. Berilah ia waktu”

“Iya Pak” karena merasa bersalah Rak tidak sanggup untuk menolak permintaan istri dan mertuanya.

“Bapak akan bantu bicara pada atasanmu mengenai masalah ini dan sebaiknya kamu mengambil cuti jika ingin mengantar Laras ke Jakarta”

“Baik Pak” Raka menyetujui saran mertuanya.

Raka pergi mengantar Laras dan mertuanya kembali ke Jakarta dan setelah dua hari ia pun kembali pulang ke Denpasar.

“Dis” Gadis terkejut mendengar suara ketukan pintu dan suara yang sangat dikenalnya.

“Raka” Gadis tertegun tidak percaya melihatnya. Sejak kepergian Raka malam itu, Gadis terus menunggunya dengan cemas karena Raka tidak kunjung mengabarinya selama berhari-hari. Dan pada malam ini ia datang dengan wajah kusut dan kalut.

 

Gadis memberikan Raka segelas air dan duduk disampingnya menunggu Raka untuk bercerita.

“Boleh aku berbaring di ranjang Dis, kepalaku pusing”

Raka berbaring menatap langit-langit kamar sedangkan Gadis duduk di pinggir ranjang dan terus memandangi Raka, kembali menunggunya untuk bercerita. Selama beberapa jam Raka hanya terdiam dan kemudian ia memandang Gadis dengan sedih. Gadis mendekatkan diri dan berbaring bersamanya, memandang wajah Raka dalam diam. Gadis membelai lembut kepala Raka seolah memberikan kekuatan untuk Raka bercerita.

Raka bergumam pelan “Aku baru saja kehilangan anakku Dis… Laras keguguran” kemudian Raka pun menangis terisak, Gadis yang tidak pernah sekalipun melihat Raka menangis merasa sangat iba.
“Raka pasti sangat terluka” pikirnya, Gadis meraih dan memeluk Raka erat, membelai lembut kepalanya. Kemudian Raka pun menumpahkan tangisan kesedihannya dipelukan Gadis, hingga dirinya lelah dan jatuh tertidur.

✈ ✈ ✈

“Mas Raka bangun mas ini sudah pagi … Kamu tidak ngantor mas?”

Raka membuka matanya dan berkata dengan lirih “Kepala aku pusing Dis”

Melihat wajah Raka yang pucat, Gadis menghampirinya dan meletakkan tangannya di dahi Raka mencoba mengukur suhu tubuhnya.

“Badan kamu panas mas!”

Gadis pun mengambil ponselnya untuk mengabari crew scheduling bahwa dirinya sakit sehingga ia tidak dapat menjalankan tugasnya hari ini.

Gadis segera mengambil handuk kecil untuk mengompres dahi Raka. Menyeka keringat yang jatuh menetes walaupun suhu ruangan di kamar Gadis dalam keadaan sejuk. Gadis memasakkan bubur untuk Raka dan membujuknya untuk makan.

“Kapan terakhir kali kamu makan mas?” Raka diam tidak menjawab.

“Ayoo makan sedikit saja ya mas, biar Gadis yang suapin” setelah berkali – kali Gadis membujuknya Raka mulai membuka mulutnya untuk makan.

Selesai makan Gadis ikut berbaring bersama Raka. Gadis memandangi wajah Raka dan mereka saling memandang.

“Jika mencintaiku memberatkanmu maka lepaskanlah” seraya berkata seperti itu Gadis membelai lembut wajah Raka. Dalam hal ini, Gadis tahu siapa yang lebih mencintai diantara mereka. Sudah terlalu banyak yang Raka korbankan untuk hidupnya demi memuaskan ego orang-orang yang ia sayangi. Gadis kembali melanjutkan “Apa yang terjadi dihidup kita ini salah, mungkin kita tidak ditakdirkan bersama mas, mungkin aku bukanlah jalanmu”.

Raka memegang tangan Gadis menghentikan sentuhannya, dan membawa tangan itu ke depan dadanya.

“Jangan tinggalkan aku… Aku mohon!!!” Gadis melihat Raka yang sedang rapuh dengan perasaan iba, ia segera memeluknya erat, seolah dengan memeluknya dapat menghilangkan penderitaannya.

Malam itu untuk pertama kalinya Gadis dan Raka hanya saling menguatkan satu sama lain akan kisah cinta mereka yang tragis.

✈ ✈ ✈

 

Raka mulai menerima kenyataan yang terjadi dihidupnya. Gadis telah membantunya mengatasi kesedihannya. Setelah selesai memakan sarapan pagi yang disiapkan oleh Gadis Raka berpamitan untuk pulang.

“Mas pulang dulu ya Dis, mas harus pergi ngantor cuti mas sudah habis dan sudah 2 hari mas tidak pulang”


“Iya mas, jangan sampai sakit lagi”


“Iya mas janji”

Gadis tersenyum dan mengantarkan Raka keluar dari kamarnya. Raka menggenggam tangan Gadis erat. Gadis pun membalasnya dengan berjinjit mengecup pipi Raka dengan sayang.

✈ ✈ ✈

Seminggu berlalu Raka mulai kembali menata hidupnya, menyibukkan diri dalam pekerjaannya. Raka mencoba menghubungi Laras, namun selalu tidak ada jawaban dari Laras, hingga beberapa saat masuklah sebuah pesan whatsapp ke ponsel Raka.

“Assalammualaikum mas Raka… Sebelumnya aku minta maaf, kalau saja dulu aku tidak memaksa kamu untuk memilihku mungkin kita tidak akan saling menyakiti seperti ini. Aku tahu bahwa sebenarnya kamu menderita hidup menjalani pilihan orang tuamu dan tekanan dariku. Meskipun ragamu menjadi milikku tetapi aku tahu bahwa hati dan jiwamu telah sejak dulu kau berikan kepada perempuan itu. Kamu telah banyak berkorban baik untukku maupun orangtuamu. Maafkan aku yang terlalu mencintaimu hingga menjadi egois dan menyakitimu. Jika dulu cintaku memenjarakanmu maka biarlah sekarang cintaku membebaskanmu. Aku sudah mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku akan menceraikanmu dan merekapun telah menyetujuinya. Ku harap kamu bisa menerima keputusanku dengan hati ikhlas seperti aku yang mencoba ikhlas melepaskanmu. “

“Maafkan mas yang brengsek ini dek! Mas tidak tahu harus berkata apa, hanya permintaan maaf yang dapat mas sampaikan” Pesan Raka terkirim, terbaca tetapi tetap tidak pernah terbalas.

Orangtua Raka yang telah mendengar proses perceraian yang diajukan oleh Laras merasa sangat terpukul, ibunda Raka seringkali menghubungi putranya, meminta Raka untuk mengajak Laras kembali rujuk.

“Le… Kamu tidak bisa meminta izin komandan mu untuk pergi ke Jakarta dan membujuk Laras agar kembali pulang bersamamu”

Raka menghela nafas lelah “Raka sudah berusaha sekuat yang Raka bisa Bu untuk membujuk Laras kembali, tapi Laras tidak pernah mau membalas pesan Raka”

“Lalu apa sebenarnya masalah kalian, kalau ini tentang anak, ibu tahu hal ini sangat berat bagi kalian, tapi kaliankan bisa mencobanya lagi” tidak terdengar Raka menjawab.

Ibunya kembali melanjutkan “Kamu bisa minta bantuan mertuamu untuk pindah tugas ke Jakarta, jika tidak berjauhan maka akan semakin mudah kamu membujuk laras merubah keputusan dan mencabut gugatan cerainya.”

“Tidak semudah itu Bu untuk pindah, Raka pun tidak ingin merepotkan orangtuanya Laras” Raka menolak ide ibunya untuk mengejar kembali Laras.

“Ya sudah nanti ibu akan bicara dengan Laras” Ibu dan ayah Raka yang tidak mengetahui alasan perceraian mereka yang sebenarnya masih berusaha membuat mereka untuk rujuk.

Begitu juga dangan kedinasan Raka, secara prosedur komandan Raka mencoba merujukkan Raka dan Laras.

Namun Laras tetap pada pendiriannya menolak untuk rujuk kembali. Memang Laras tidak menceritakan yang sebenarnya kepada siapapun bahkan kepada orangtuanya sendiri. Ia hanya mengatakan sudah tidak ada kecocokan diantara mereka berdua dan jika melihat Raka maka ia akan selalu teringat sakitnya kehilangan anak mereka. Dan dengan berat hati akhirnya orangtua Laras meluluskan keinginannya untuk bercerai.

✈ ✈ ✈

Sebulan sudah Raka mencoba melupakan masalah perceraiannya dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan. Dan selama sebulan pun Raka mencoba menghubungi Gadis, namun panggilannya selalu masuk ke dalam voice mail.

“Ah mungkin schedule terbangnya sedang padat dikarenakan peak season atau musimnya orang-orang pergi berlibur” Raka mencoba untuk berpikir positif. Memang Raka sengaja tidak mengunjungi tempat tinggal Gadis karena ia tidak ingin Gadis menjadi pembicaraan orang sebagai penyebab hancurnya rumah tangganya. Ia sengaja menunggu waktu yang tepat untuk menemuinya.

Dan ketika proses perceraiannya telah selesai, ia berniat mendatangi tempat tinggal Gadis untuk menceritakan kepadanya bahwa sekarang ia telah menjadi pria bebas dan tentang Laras yang telah mengikhlaskannya. Raka menunggu waktu yang tepat dan hari ini adalah waktu yang tepat menurutnya. Ia mengarahkan mobilnya menuju tempat tinggal Gadis.

“Dis… assalamualaikum Dis” beberapa kali Raka mengetuk pintu kamar Gadis, lalu ia kembali mencoba menghubunginya, panggilannya masuk ke dalam voice mail. Kembali ia mengetuk pintu dengan tidak sabar sehingga membuat Derry sahabat Gadis yang tinggal di kamar sebelah, keluar dari kamarnya.

“Ah kamu temannya Gadis kan, kamu tahu sekarang Gadis lagi dimana? Apakah dia terbang atau sedang pergi?” Raka mencecar Derry dengan banyak pertanyaan.

“Alemong… Mas nggak tahu kalau Gadis sudah pindah airlines? Upps keceplosan gw”

“Maksud kamu Gadis sudah tidak disini lagi, pindah ke mana dia?”


“Duh aku nggak tau om eh mas… Aku nggak boleh cerita eh aku nggak tahu kemana dia pindah”

 

Derry yang berulang kali keceplosan berbicara mengenai Gadis berusaha kabur dengan menutup pintu kamarnya.

Tetapi gerakan refleks Raka menahan pintu kamar Derry untuk tertutup. Dengan mudah Raka mendorong pintu kamar Derry dan masuk ke dalam untuk menginterogasinya.

“Bener mas… Gadis nggak cerita apa-apa sama aku tentang dia pindah ke mana.. doi tahu kali yaa gw sering ember makanya dia nutup-nutupin kepindahannya”


“Tolong beritahu saya… Gadis ada dimana?”


“Bener om nggak tahu… ”


“Kalau nomer hp nya kamu tahu tidak?”


“Dia ganti nomer kayanya om, aku telepon juga masuk voice mail terus”


“Bener kamu nggak bohong?saya benar-benar minta tolong”


“Sumpah bener deh om… mana berani aku bohongin om tentara”
Derry merajuk manja.

“Ya sudah… kamu catat nomer saya saja, kalau Gadis kasih kabar tolong hubungi saya secepatnya”

Raka membatin di dalam perjalanan pulang “Gadis kemana lagi kamu pergi?” Raka tahu kali ini Gadis kembali pergi… menghilang dan entah kapan ia bisa bertemu dengannya lagi… Gadis… Gadisku…

✈ ✈ ✈

 

Satu tahun terlewati sudah. Pagi itu matahari Solo terasa sangat panas lebih dari biasanya. SMA 1 Solo atau biasa dikenal dengan nama SMANSA Solo sedang padat dikunjungi.

Pengunjung sudah mulai berdatangan, tidak sabar untuk mengenang masa-masa indah mereka di sekolahnya. Termasuk juga seorang laki-laki yang sedang asyik memandang gedung yang bernilai sejarah bagi hidupnya.

Undangan reuni Akbar SMANSA Solo itu pertama kali ia dapatkan dari Pandu teman semasa SMA nya dulu. Pandu yang dahulu terkenal sangat periang itu menghubunginya dengan antusias.

“Assalammualaikum Pak Komandan pripun kabare?” terdengar suara pria dengan logat Jawa di ujung sana.

“Waalaikumsalam baik-baik saja, maaf ini siapa ya?”


“Iki aku Pandu… teman SMA mu, aku ganti nomer mas!”

“Kamu toh Du… Aku pikir siapa”


“Ka… kamu sudah tahu belum ? bulan depan Ono reuni, aku masuk dadi panitia, konco-konco sudah dapat kabar semuanya, terus aku inget kamu… kok nggak ada kabarnya! jangan-jangan belum dikasih tahu”


“Iya matur nuwun sudah inget aku pak hehehe…”


“Kan Kowe konco ku yang paling dekat hehehe… Kowe iso toh ngadiri reuni Ka?”


“Reuninya bulan depan tanggal berapa Du?


“Hari Sabtu tanggal 12”


“Iya sepertinya bisa sehabis lebaran toh itu? Bisa bisa.. sopo ae seng iso datang? Gunawan Karo Sakti bisa datang juga kan Du? Kangen aku”

“Konco kita iso dateng kabeh! Nanti undangannya tak kirim ke rumah ibumu.Yo wes sampai ketemu yo ka, salam buat keluarga” Pandu mengakhiri panggilannya.

Masa-masa SMA ku masa – masa terindah bersamanya. “Gadisku…” Raka bergumam dalam diam, setahun sudah ia habiskan untuk menunggu Gadisnya kembali. Gadis yang kembali pergi dan tidak meninggalkan jejak. Tapi Raka berkeyakinan bahwa suatu saat bahwa mereka akan kembali bertemu.

***

“Pak komandan datang juga! Kita kira sudah jadi komandan sibuk, sampai-sampai nggak punya waktu untuk mengunjungi kita wong cilik” Raka yang sedang melamun di depan pintu gerbang sekolahnya tersenyum menanggapi sapaan yang datang dari teman-teman perempuannya.

Ketika Raka hendak masuk ke dalam, suara seseorang menghentikannya.

“Komandan… datang juga akhirnya! “

Pandu, Sakti dan Gunawan sudah cengar-cengir melihat Raka yang sedang dikerumuni teman – teman yang sebagian besar adalah kaum hawa.

“Lagi sibuk jumpa fans Ka?” Pandu tertawa renyah, menghampiri Raka dan menepuk pundaknya.

“Kalian…” Raka menyalami teman – temannya itu. “Hmmm aku lagi sibuk lihat – lihat… Sepertinya SMA kita ini tidak banyak yang berubah yaa? semua masih sama seperti waktu kita sekolah dulu!” Raka pun memandangi sekelilingnya.

“Iya benar seperti baru kemarin rasanya kita mengikuti upacara di lapangan itu” Gunawan menunjuk lapangan yang berada di tengah-tengah gedung sekolah itu.

Mereka pun serempak memandang obyek yang ditunjuk Gunawan. Kemudian tiba – tiba Raka menepuk pundak Sakti dan bertanya kepadanya “Oiya kamu ingat tidak Ti… kamu pernah dihukum karena ketahuan loncat dari pagar itu karena datang terlambat, akhirnya kamu diminta untuk piket membersihkan kelas sehabis pulang sekolah dan kamu paksa aku buat nemenin kamu di kelas!”

“Iyaa dan terpaksa juga kekasihmu Gadis ikut menemanimu dan…” melihat Raka yang tiba -tiba menunduk dan raut wajahnya berubah sendu, Sakti menghentikan ceritanya. Seolah mengerti pembicaraan mereka membuat mood Raka berubah, ia memegang pundak Raka dan kembali melanjutkan “… dan memang masa – masa itu aku yang paling nakal yaa diantara kalian.”

Teman-teman Raka itu memang sedikit banyak mengetahui mengenai Gadis mantan kekasih sahabatnya itu menghilang tanpa kabar selepas SMA. Oleh karena itu ketika melihat Raka yang berubah menjadi murung, Pandu segera mengalihkan perhatiannya dengan pertanyaannya. “Oia Ka… ngomong -ngomong kamu dateng sendiri? itu istri dan anak-anakku”, Pandu menunjuk seorang wanita dengan 2 anak kecil yang memakai baju berwarna merah.

Bibir Raka tersenyum kecut, tangannya menggaruk kepalanya. “Itu loh Ndu .. aku sudah pisah sama istriku, ya panjanglah ceritanya, nanti saja kita ngobrol-ngobrol lagi, kayanya itu acaranya sudah mau dimulai”


“Maaf Pak bukan maksud kami untuk membuka lukamu”
Gunawan mencoba memahami perasaan sahabatnya itu.

“Iya tidak apa – apa kok Gun, yuk kita masuk saja ke dalam, acaranya mungkin akan segera dimulai” mereka pun mulai mengikuti Raka bergerak menuju ruangan tempat acara dilangsungkan.

✈ ✈ ✈

“Baik, sekarang kita menuju acara selanjutnya, makan siang bersama…”

Suara MC acara menutup sesi acara hiburan. Raka pun hendak berpamitan dengan teman-temannya untuk pulang lebih awal dari acara tersebut.

“Du… To… Gun aku pamit duluan yaa … Nanti malam aku harus kembali ke Denpasar, pesawat ku berangkat jam 7 malam. Ada yang masih harus aku urus dirumah ibu”


“Kamu tidak makan dulu Ka?”
Sakti menoleh Raka yang hendak bersalaman dengannya.

“Aku tadi sudah sarapan di rumah, jadi masih belum lapar Ti. Ok Gun aku pamit dulu ya”

Setelah usai berpamitan, Raka pun keluar dari ruangan itu, ketika itu kakinya terhenti melihat perpustakaan sekolahnya dan tanpa di komando ia pun melangkah masuk ke dalam perpustakaan itu.

“Di sana pertama perkenalanku dengan Gadis” Mata Raka terpaku di rak-rak buku yang menyimpan buku – buku pelajaran bahasa asing.

“Gadis… Mengapa kembali takdir memisahkan kita” Raka bergumam pelan dan beranjak menuju pintu keluar. Ia pun berjalan dengan pikiran yang dipenuhi dengan bayang-bayang Gadis. Tanpa terasa ia tiba di depan parkiran.

“Duh bagaimana saya mau masuk mobil, kalau mobil ini parkirnya mepet sekali dengan pintuku. Siapa sih orang yang tidak bisa memarkir mobil dengan benar ini!” batin Raka mengumpat kesal.

“Ah maaf… mau masuk mobil yaa pak?”

Deg suara itu … Raka langsung menoleh cepat ke arah sumber suara.

“Dis …?” Raka memanggil nama Gadis, meyakinkan dirinya bahwa itu benar Gadisnya tercinta.

“Mas Raka…?” mata Gadis membulat sempurna, terkejut melihat Raka berdiri di depannya.

“Dis…” Raka bergumam kembali seakan tidak percaya bayangan itu hadir kembali di hadapannya. Ia melangkah mendekati Gadis yang terdiam terpaku. Langkahnya seketika terhenti ketika seorang laki-laki tampan meletakkan tangannya merangkul pundak Gadisnya.

“Sudah ketemu Sayang? Yuk kita masuk! kita kan sudah terlambat nanti acaranya keburu berakhir” Seraya berkata seperti itu, laki – laki tampan itu membimbing Gadis untuk masuk menuju ke sekolahnya. Gadis pun dengan patuh mengikuti tangan laki – laki tampan itu yang mengenggamnya semakin menjauhi Raka yang terpaku melihat kejadian itu.

Gadis semakin menjauh dari pandangan Raka. Raka terdiam memandang bayangan Gadis yang semakin memudar, ia tertegun, haruskah ia mengejar Gadisnya kembali ke dalam sekolah dan memperjuangkan cintanya ataukah membiarkannya berlalu pergi bahagia bersama laki–laki yang berjalan disampingnya

“Gadis… Aku ingin kamu”

 

 

Credit :

Anastasia Anderson – Kaskus.co.id

Based on True Story

2018

https://www.kaskus.co.id/thread/5bc015fc54c07a212b8b4579/tamat-gadis-pramugari/

Post a Comment

You don't have permission to register