YOUR INDONESIA CITIES GUIDE

banner-image

Gadis Pramugari Part 1

Note : 21+ Only!!!

 

Oooohh.. Aaaaaahhh..” lenguhan itu berasal dari bibir tipisnya, disusul dengan erangan keras laki-laki itu. Aroma percintaan yang beruar diruangan kamar hotel itu semakin menambah panas percintaan keduanya, semakin meningkat di setiap gerakan hingga di satu hentakan keras membawa keduanya ke jurang yang tak bertepi, menenggelamkan keduanya jauh ke dasar paling dalam.

 

Next week end schedule kamu kemana Dis?”

 

Pembicaraan basa basi sesudah orgasme yang seperti ini adalah jenis pembicaraan yang paling dibenci Gadis, namun ia menjawab juga dengan senyum menawan “Biasa Capt, nyerep, maklum FA 1 baru rilis, pasti dapat schedule begini sudah nggak heran”

 

“Kalau kamu nggak kena terbang kita ngedate ya?”

 

Ngedate? Huh, kalimat yang sangat halus untuk ajakan nge Fuck pikir Gadis.

 

“Sure Capt” jawab Gadis sambil berlalu pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

 

Gadis tahu bahwa ketertarikan diantara keduanya hanyalah ketertarikan secara fisik, tanpa memerlukan percakapan untuk lebih mengenal pribadi masing-masing. Hubungan yang tidak lebih dari sebuah SEKS YANG HEBAT.

 

Capt Hendra hanyalah satu diantara banyak nama yang telah menjadi teman tidur Gadis di waktu day off nya.

 

Ya, Gadis Ginanti adalah seorang pramugari sebuah maskapai ternama di Indonesia. Karirnya di mulai ketika ia mencoba peruntungannya untuk menghadiri walk in interview di kota kelahirannya, Solo.

 

Berbekal paras yang cantik dengan kulit kuning langsat khasnya perempuan jawa serta kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni, Gadis berhasil lulus menjadi salah satu trainee di maskapai tersebut. Untuk mengikuti training, Gadis pun berpindah domisili ke Ibukota DKI Jakarta dimana ia hidup seorang diri di kosan nya yang sederhana.

 

Masa-masa training pun dijalaninya. Tidak pernah terbayangkan oleh Gadis betapa sulitnya menjadi seorang pramugari, di otaknya yang awam ia berpikir mudah untuk menjadi seorang pramugari, hanya diperlukan wajah yang cantik dan senyum yang ramah untuk melayani penumpang di pesawat.

 

“Aku ndak tau loh Rin ternyata menjadi Pramugari itu sulit ya Rin! Mesti belajar Aviation Knowledge, Aviation Security, Fire Fighting, Emergency Evacuation Drill, belum lagi Type Rating pesawat yang ngejelimet “ Aku Gadis polos dengan logat Jawa nya yang belum tergerus kehidupan di Jakarta.

 

“Belum Dis, ini belum apa-apa, kata mbak ku yang sudah jadi pramugari beneran, nanti pada saat training wet drill kita akan loncat ke air dan berenang menuju perahu karet dengan membawa penumpang untuk diselamatkan,walaupun penumpangnya adalah rekan kita yang berperan menjadi penumpang disaat itu” Rini menambahkan dengan berapi-api.

 

“Memangnya ada Pramugari yang ndak beneran Rin? Kamu tuh ada-ada aja! tapi yang aku dengar juga begitu sih Rin. Ya sudah kita jalani aja Rin dengan sebaik-baiknya agar kita bisa cepat terbang dan menghasilkan uang” Gadis menjawab sambil memikirkan nasib ibunya di Solo.

 

Seorang penjual pecel pincuk yang bertekad menjadikan putrinya orang yang berpendidikan, tidak seperti dirinya yang hanya tamatan sekolah Dasar. Dinikahkan muda dan berakhir ditinggalkan suami yang kepincut perempuan lain di kota sebelah. Betapa Gadis ingin segera membahagiakan si mboknya yang malang.

 

“Iya Dis, aku pingin cepat terbang biar cepat ketemu pilot-pilot ganteng terus nikah dech sama salah satunya” Rini berkata dengan membayangkan pernikahan idamannya.

 

“Iyaa Rin, kalau aku sama kamu kan beda tujuan hidupnya, kalau kamu ingin bertemu jodoh impianmu, kalau aku kepingin cepat kirim uang buat si mbok biar ndak perlu jualan lagi dipasar Rin”

 

“Eh Iyaa Dis mudah-mudahkan cita-cita kita cepat tercapai yaa. Yuk kita kembali ke kelas Dis ! jangan sampai kita terlambat nanti kita bisa kena omel instruktur Inflight Service” Rini cepat-cepat mengalihkan pembicaraan ketika ia melihat air mata Gadis mulai menggenang.

 

Sekilas percakapannya dengan Rini ketika menjadi trainee melintas dipikirannya. Gadis pun cepat-cepat menyudahi pikirannya yang melayang jauh ke masa lalu dan segera berpakaian.

 

Ketika Gadis keluar dari kamar mandi, ia mendapati bahwa kamar hotel itu telah kosong. Matanya terpaku melihat secarik kertas dan sepuluh lembar uang seratus ribu yang ditinggalkan di meja. Secarik kertas itu bertuliskan “I’m having a great time, I hope to see you soon – Hendra”

 

Lembaran uang dan kertas itu pun digenggamnya erat. Gadis bukanlah pelacur, setidaknya itulah yang selalu ia katakan dalam hati. Yang ia butuhkan bukan lah lembaran uang yang selalu ditinggalkan teman tidurnya setelah sesi percintaan mereka berakhir ataupun kenikmatan yang selalu ia dapatkan dari percintaan itu. Yang sebenarnya ia butuhkan adalah rasa yang dapat mengisi kekosongan di dalam jiwanya yang hampa.

 

Gadis sudah lupa kapan terakhir kali ia berdoa, mungkin berhari-hari setelah malam itu. Malam yang mengharuskan Gadis melepas satu-satunya kebanggaan dirinya, kebanggaan yang selalu ia jaga selama 20 tahun hidupnya dan ia agung-agungkan, meski Ia menyandang predikat sebagai anak janda penjual pecel pincuk yang miskin.

 

✈ ✈ ✈

 

“Lettu Inf Raka Wardhana, selamat bergabung di kesatuan kami”


“SIAP KOMANDAN”
teriak Raka antusias

 

“Sekarang kamu dapat menemui Kapten Lukman untuk penugasan pertamamu”

 

“SIAP KOMANDAN” Raka menberikan sikap penghormatan yang tegas dengan postur tubuh yang tegap. Ia segera menemui orang yang dimaksud untuk melaksanakan tugas pertamanya sejak dipindah tugaskan dari Solo.

 

Ah Jakarta … meskipun merupakan kota kelahirannya, kota ini tetap menjadi tempat yang asing bagi Raka. Raka yang dibesarkan di Solo merasa lebih sesuai dengan kehidupan disana dibandingkan dengan kota Jakarta yang keras dan modern.

 

Ayah Raka adalah seorang Perwira TNI Angkatan Darat. Sosok ayahnya yang tegas dan berwibawa, tidak menjadikannya sebagai seorang yang menakutkan di dalam keluarganya. Sebagai seorang ayah ia tetap melimpahkan kasih sayangnya kepada istri dan anaknya, menjadikan ia sebagai panutan hidup bagi Raka.

 

Raka merupakan putra pertama dari pasangan Tuan Siswanto Wicaksono dan Nyonya. Sulastri. Ia lahir di Jakarta ketika Ayahnya bertugas di kota itu, kemudian setelah berpindah-pindah kota mengikuti penugasan ayahnya akhirnya keluarga mereka menetap di Solo. Sedari kecil Raka tumbuh di lingkungan militer sehingga ia bercita-cita mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi seorang abdi negara.

 

Untuk mencapai cita-citanya Raka belajar dengan giat dan tekun, sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan dengan membaca di perpustakaan. Di sanalah ia melihat sosok Gadis Ginanti … Gadis cantik yang langsung memikat hatinya dipandangan pertama.

 

Raka hanya berani memandang Gadis dari kejauhan tanpa berani menegurnya, berharap suatu saat akan datang kesempatan untuk berkenalan dengannya. Dan pada suatu hari, kesempatan itupun akhirnya datang juga. Ketika itu Gadis hendak mengambil salah satu buku yang berada di rak paling atas.

 

“Perlu bantuan untuk mengambil buku itu?” Sapa Raka malu-malu kepada Gadis.

 

“Oh Iya boleh … kalau ndak merepotkan kamu” Gadis refleks menoleh dan menjawab tawaran tersebut.

 

“Buku yang ini ya?”

 

” 10 Jurus jitu Belajar Bahasa Inggris dengan Mudah” Raka membaca judul buku tersebut dan menyerahkannya kepada Gadis.

 

“Iya benar, terima kasih” senyuman Gadis membuat jantung Raka berdebar halus.

 

“Hmmm… kamu suka pelajaran bahasa Inggris ya?” Raka mencoba melanjutkan percakapan dengan gadis idamannya.

 

“Tentu saja .. memangnya kamu tidak suka?” Gadis balik bertanya kepada Raka, tanpa menunggu jawaban Raka, Gadis pun melanjutkan

 

“Cita-citaku menjadi seorang pramugari, jadi bahasa Inggris ku harus bagus, makanya aku harus belajar extra keras dari  siswa yang lain” senyuman Gadis makin membuat jantung Raka melompat-lompat.

 

“Oh begitu!” senyuman Gadis menular kepada Raka.

 

“Oya.. Kamu Raka kan siswa kelas 3 IPA 1?” Gadis memberikan senyuman manisnya.

 

“Iya benar.. kamu kok tahu?” jantung Raka berdebar makin kencang menanti jawaban Gadis.

 

“Waktu pemilihan OSIS, saya ikutan milih kamu untuk menjadi ketuanya” “Jadi kamu menang berkat suara saya juga kan?”

Jawaban Gadis yang terdengar seperti alunan melodi indah ditelinga Raka memberikan suntikan keberanian kepada Raka untuk melanjutkan pertanyaannya.

 

“Nama kamu Gadis ya?”

 

“Oya betul … kita belum berkenalan secara resmi ya? Raka kenalkan nama saya Gadis Ginanti” Gadis mengulurkan tangannya dan segera disambut dengan jabatan tangan Raka yang erat.

 

“Kamu tinggal di mana Dis? Boleh saya antar kamu pulang nanti?” Raka bertanya dengan harap-harap cemas menanti jawaban Gadis

 

“Boleh … Tapi rumah saya jauh loh Raka! kamu yakin mau mengantar saya pulang?” Gadis menjawab dengan wajah berseri.

 

“Tentu .. tidak menjadi masalah buat saya. Saya tunggu kamu didepan gerbang sekolah yaa” jawab Raka antusias.

 

“Baik Raka, kalau begitu sampai bertemu lagi nanti” Gadis melambaikan tangannya, berpamitan dan pergi meninggalkan Raka.

 

Sejak saat itu Raka dan Gadis seperti tidak terpisahkan. Di sela waktu belajarnya Raka selalu menyempatkan diri untuk menemui Gadis. Mereka belajar bersama di perpustakaan sekolah, bersenda gurau, dan menghabiskan waktu bersama di kantin sekolah. Hampir setiap hari Raka mengantar Gadis pulang dan menghabiskan waktu bersamanya hingga akhirnya mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih.

 

✈ ✈ ✈

 

“Suh, Minggu depan jadi yaa nganter gw ke bandara Soetta, nggak usah naik mobil dinas, pakai mobil gw aja nanti lo pakai aja dulu di mess”. Pertanyaan Adrian teman seletting Raka membuyarkan lamunan Raka tentang Gadis.

 

“Siap beres Suh” Raka mengangkat tangannya membuat gerakan hormat.

 

“Lo pake aja mobil gw, sesekali lo ajak Laras jalan-jalan naik mobil pribadi, jangan naik motor trill trus, kasian masa anak Jendral lo anter jemput pakai motor dinas, gengsi donk sama bapaknya” Adrian menambahkan kata-katanya dengan suara dengusan tertahan.

 

“Jadi calon istri tentara itu harus bisa prihatin Suh, hidup bersahaja. Bisa terima hidup apa adanya, siap ditempatkan dimana saja dan mendampingi suami di kala susah dan senang. Sesuai dengan singkatan TNI : Terima Nasib Ini” papar Raka panjang lebar disertai tawanya yang ringan.

 

“Ah, cangkem mu Suh! Lagian juga mobil bapak lo banyak kenapa juga nggak lo bawa satu dari Solo, masa dokter cantik lo anter jemput pake motor”

 

“Itu kan punya orangtua ku Suh, lagipula naik motor itu lebih fleksibel di Jakarta, cepat, irit dan nggak kena macet” Raka tersenyum maklum melihat keheranan Adrian mendengarkan penjelasannya.

 

“Untung aja muka lo lumayan ganteng Suh, makanya dokter Laras yang anak Jendral mau diajak susah sama lo! coba kaya si kipli udah muka ngepas, otak ngepas, dompet ngepas, cuma modal seragam doank, cewek-cewek jaman sekarang juga mikir – mikir dua kali buat jadi pacarnya”

 

“Lagi ngomongin apa Suh? kok gw denger nama gw disebut – sebut Suh” Kipli yang bernama asli Andika baru saja masuk ke ruangan dan bertanya dengan memandang Raka dan Adrian secara bergantian.

 

“Nggak papa suh, kita cuma muji kegantengan lo aja Suh” tambah Raka dengan senyum geli yang ditahannya.

 

“Ah mana mungkin!!! Telek lo Suh” Kipli tidak percaya kepada Adrian dan Raka yang memujinya, Kipli pun menambahkan ‎”Mending lo traktir gw aja di kantin, uang remun telat turunnya nie!”

 

“Nah apa kan gw bilang, tentara ngepas gini yang bahaya, mesti dapet istri anak pengusaha biar hidup lo tenang Kipli” Adrian segera kabur karena dilempar sepatu PDL oleh Kipli.

 

Raka yang sudah sering melihat adegan Tom & Jerry seperti ini diantara kedua teman lettingnya segera beranjak mengikuti keduanya yang sedang berkejaran menuju kantin.

 

✈ ✈ ✈

 

“Flight Attendant, Take Off Position” mendengar Command dari Captain Gilang, Gadis pun bersiap melakukan “One Minute Silent Review”. Kegiatan yang mengharuskan pramugari memusatkan konsentrasinya pada saat pesawat lepas landas. Pramugari wajib mengingat kembali secara singkat mengenai hal-hal yang berhubungan dengan evakuasi penumpang dan keadaan darurat yang mungkin terjadi pada saat itu. Karena saat kritis terjadinya kecelakaan adalah pada saat pesawat melakukan take off atau landing, hal itu biasa disebut sebagai critical phase.

 

Ketika “Lampu tanda kenakan sabuk pengaman” dimatikan. Gadis sebagai FA 1 atau pramugari senior dipenerbangan itu memberikan announcement kepada penumpang untuk tetap menggunakan sabuk pengaman demi keselamatan mereka. Setelah melakukan announcement ia pun mengambil handset dan menekan tombol interphone untuk berkomunikasi dengan pilot, meminta akses masuk ke dalam flight deck.

 

Setelah kehadirannya di Flight Deck diketahui oleh Captain dan co pilot nya, Gadis menawarkan membuatkan minuman untuk mereka.

 

“Dis, saya mau minum kopi panas gula setengah krimer satu yaa” Capt Gilang yang pertama memesan jenis minuman yang dihapal Gadis sebagai minuman favorit Captain  muda itu.

 

“Baik Capt, kalau Mas Budi mau diambilkan minum apa mas?” Gadis menanyakan co pilot senior ber bar 3 itu dengan suara yang dibuat semenarik mungkin. Budi merupakan co pilot yang belum pernah ditidurinya, ia selalu menolak pesona Gadis, menurut desas desus dikalangan pramugari, laki-laki ini lebih tertarik kepada perempuan yang jauh lebih tua dibandingkan usianya. Ia lebih suka mengencani pramugari yang sudah menyandang status janda. Mungkin karena fetish atau mungkin karena biasanya pramugari yang sudah bercerai tidak akan menuntut macam-macam mengenai kelanjutan hubungan diantara keduanya. Cukup dengan saling memenuhi kebutuhan masing-masing secara fisik dan kenyamanan berhubungan. tanpa perlu melangkah ke jenjang yang lebih lanjut.

 

Setelah memberikan minuman keduanya, Gadis menempatkan diri duduk di kursi observer dan mencoba membuka pembicaraan dengan mereka.

 

“Bagaimana kabar Yudha, Captain? Jadi masuk ke SMP Don Bosco?”.

 

“Iya sudah masuk Dis, uang masuknya mahal banget sekarang. Nanti kalau lo nikah, ikut KB aja Dis, anak jangan lebih dari dua, biaya pendidikan jaman sekarang mahal banget, nggak mungkin kan kita tega menyekolahkan anak kita ditempat yang biasa – biasa aja” ujar Captain Gilang yang terkenal pelit dikalangan Pramugari. Ia mendapatkan predikat Captain pelit karena ia tidak pernah sekalipun mentraktir crewnya apabila mereka sedang terbang dan menginap diluar kota. Ia selalu mencari cara untuk menghindar apabila ada ajakan pergi keluar bersama crew nya untuk mencari makanan di luar hotel mereka menginap.

 

Alasan Captain Gilang tidak pernah mengeluarkan uang bukan karena ia miskin tetapi karena istrinya tidak pernah memberikan uang sepeser pun.

 

Hal tersebut bertujuan agar suaminya tidak bermain gila dengan perempuan lain terutama dengan pramugari-pramugari yang cantik. Menurut teori istrinya, tidak akan ada pramugari yang mau dipacari oleh pilot yang tidak punya uang. Tetapi ternyata hal tersebut tidak terbukti benar seratus persen. Captain Gilang punya seribu cara untuk mematahkan teori istrinya.

 

Cara Pertama yang dilakukan Captain Gilang adalah dengan menyembunyikan sebagian uang Ron nya(Remain over night) di buku manual yang selalu ia simpan di lockernya yang berada di ruangan Flight Operation. Istilah dikit-dikit lama-lama menjadi bukit adalah pedoman yang ia pegang. Ia pun tidak pernah memberitahukan istrinya apabila terjadi kenaikan uang ron bagi crew. Ia hanya menyerahkan sebagian uang Ron nya agar sang istri tidak menaruh curiga.

 

Cara kedua adalah dengan mendekati pramugari-pramugari muda yang senang bercinta dengan Captain muda dan tampan. Ia pun meminta pramugari-pramugari itu untuk merequest schedule menyamakan schedule mereka dengannya agar mereka dapat berkencan di kamar hotel tempat mereka menginap di luar kota atau luar negeri.

 

Dan Captain Gilang menempuh cara kedua untuk dapat tidur dengan Gadis. Tetapi karena istri Captain Gilang yang sangat over protektif sehingga menyulitkan Captain Gilang dan Gadis untuk menyamakan schedule mereka. Sehingga percintaan mereka hanya terjadi sekali saja.

 

“Mas Budi Kapan nie melepas masa lanjangnya? Engga kepingin ada yang ngurus di rumah mas?” Gadis bertanya untuk memancing reaksi Budi yang dari tadi enggan ikut berbincang dan memilih untuk menyibukkan diri membaca manual.

 

Demi kesopanan Budi menjawab dengan cepat “Nanti saya kirimin undangan kalau saya menikah mbak”

 

“Kapan tuh Bud, jangan kelamaan nanti keburu lumutan tuh batang” Captain Gilang menggoda Budi yang terkesan enggan membahas masalah pribadinya

 

Melihat Budi yang mengacuhkan dirinya, Gadis pun akhirnya menyerah dan memilih untuk kembali ke cabin untuk mengecek keadaan penumpang.

 

✈ ✈ ✈

 

“Mbak Gadis, ada penumpang yang meminta obat sakit kepala kepada saya mbak. Saya kasihkan atau bagaimana mbak?” tanya Yuni, Junior Zero hour yang baru pertama kali bertugas dipenerbangan setelah lepas dari masa trainingnya.

 

Bertujuan mendidik Juniornya, Gadis tidak langsung mengiyakan tetapi balik bertanya kepada Yuni “Prosedurnya bagaimana Yun kalau ada penumpang yang meminta obat kepada kita?”

 

“Saya harus berbicara agak keras agar terdengar oleh penumpang lain, mengulang kembali permintaan penumpang tersebut” jawab Yuni yakin kemudian menambahkan “Seperti ini mbak : Apakah benar bapak meminta obat sakit kepala? Obat sakit kepala apa yang biasa bapak minum? Dan apakah sebelumnya bapak sudah mengkonsumsi obat?”

 

“Dan jika bapak itu sudah mengkonsumsi obat kamu jawab apa?” tanya Gadis kembali.

 

“Saya akan bilang : tunggu 6 jam pak setelah bapak minum obat lagi agar tidak berbahaya bagi kesehatan bapak. Dan jika bapak itu menolak, maka sebaiknya kita umumkan di cabin apakah ada dokter di pesawat untuk membantu memeriksa pasien” papar Yuni kembali menjawab pertanyaan Gadis.

 

“OK …  kalau begitu lakukan prosedurnya Yun” perintah Gadis tegas.

 

“Baik mbak, Yuni akan tanyakan kepada penumpang tersebut dan melaporkan kembali kepada mbak Gadis” tambah Yuni

 

“Ok saya akan report masalah ini ke Captain, Yun”.

 

Setelah beberapa saat Yuni melaporkan bahwa penumpang tersebut belum meminum obat apapun dan menyebutkan salah satu nama obat yang biasa ia minum. Mendengar itu Gadis pun memerintahkan Yuni untuk memberikan obat yang dimaksud dan memastikan untuk mengecek terlebih dahulu tanggal expired obat tersebut.

 

“Mbak Gadis mau Yuni buatkan teh manis mbak?” Yuni yang baru saja selesai mengantarkan obat kepada penumpang masuk ke dalam galley dan menawarkan membuatkan minuman untuk seniornya yang terkenal karena kepintaran dan kecantikannya di maskapai ini. “Tidak terima kasih Yun, kalau kamu mau buat aja Yun, boleh minum juice juga kok, jangan malu-malu yaa” Selain cantik Gadis juga terkenal sebagai senior angel, yang selalu baik dan tidak rese kepada junior-juniornya selama mereka menjalankan pekerjaannya secara profesional.

 

“Yuni mau buat kopi saja mbak” Yuni mengambil kopi sachet dari dalam handbag nya.

 

Aroma kopi segera menyeruak di galley itu.

 

“Hehehe… Kamu bawa kopi sendiri ya, kamu minum kopi setiap hari Yun?”

 

“Tidak setiap hari mbak, malahan dulunya aku nggak suka ngopi, tapi sejak training aku jadi kecanduan ngopi mbak biar nggak ngantuk di kelas”.

 

“Hahaha… Iyaa aku ngerti banget, apalagi kalau besoknya ada ujian, malamnya pasti kita nggak tidur karena belajar semalaman”.

 

“Tapi tadi malam kamu tidur cukup kan Yun?”.

 

“Sebenarnya tadi malam aku nggak bisa tidur mbak, nervous karena  first flight, untungnya waktu kenalan sama mbak dan crew yang lain di flight operasional room (FLOP) aku mulai tenang mbak karena crew aku ternyata baik-baik mbak, nggak seperti cerita senior-senior di tempat training”.

 

“Yun … Semua orang pada dasarnya baik, mungkin pola pengajaran dan pengarahan di lapangannya saja yang kadang berbeda, sehingga ada istilah senior angel, killer, bully, laknat lah. Tapi kamu ingat saja satu hal, kita tidak bisa merubah orang lain yang bisa kita rubah yaa diri kita sendiri. Jadi kalau kamu profesional dan kompeten, aku rasa semua senior akan menjadi senior angel untuk kamu”.

 

“Iya mbak terima kasih nasehatnya mbak, memang awalnya Yuni gugup banget mbak karena first flight tapi setelah dijalani, Yuni suka sekali mbak jadi pramugari”.

 

“Iya Yun, apalagi nanti kalau kamu cuti terus lama nggak terbang, pasti kamu kangen banget terbang. Kata crew terbang itu seperti candu, kalau kebanyakan dosisnya bisa mati kalau terlalu sedikit atau jarang bisa ketagihan hehehe…”

 

“Kayanya Yuni nggak papa deh mbak kelebihan dosis karena kan makin kita banyak terbang uang kita juga makin banyak mbak, soalnya Yuni pingin nabung buat beli rumah. Keluarga Yuni masih tinggal di rumah kontrakan mbak”.

 

“Iya mbak doakan supaya mimpi kamu cepat tercapai amiiinn…”.

 

“Amiiinnnn…”.


“Yun kita cek kabin dulu yuk, kita sudah mau landing nih”.


“Baik mbak”.

✈ ✈ ✈

 

“Terima kasih atas kerjasamanya sehingga penerbangan ini dapat berjalan dengan baik. Apakah ada complaint atau compliment dari penumpang Gadis?” tanya Captain Gilang kepada Gadis selaku senior pramugari pada penerbangan itu.

 

“Tidak ada complaint Captain, tetapi kita mendapatkan compliment tertulis untuk Yuni karena telah membantu penumpang yang menderita sakit kepala, seperti yang sudah saya report tadi pada saat penerbangan Capt” Gadis berkata seraya memberikan surat compliment yang dimaksud olehnya tadi.

 

“Ok Good Job Yuni..” Captain Gilang menatap Yuni dan memberikan tanda Ok dengan tangannya sebagai pujian langsung kepada Yuni. Kemudian ia menoleh kepada Gadis “Dis kamu yang pimpin doa yaa”.

 

“Baik rekan-rekan sekalian, mari kita berdoa bersyukur kepada Allah karena telah diberikan penerbangan yang lancar dan telah selamat sampai ke tujuan”.

 

“Amiiinn” seru crew Captain Gilang serempak menutup doa mereka.

 

Seluruh crew pun menarik koper mereka turun dari pesawat dan menuju mobil jemputan maskapai yang akan mengantarkan mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing.

 

Ketika Gadis hendak menaikkan kopernya ke mobil jemputan, suara sapaan ragu-ragu terdengar “Dis???”

 

✈ ✈ ✈

 

Ketika Gadis hendak menaikkan kopernya ke mobil, suara laki-laki menyapanya dengan ragu-ragu “Dis???”

 

Seketika itu Gadis mengurungkan niatnya menaruh koper ke dalam mobil dan menoleh ke arah sumber suara itu.

 

“Apakah itu benar kamu … Gadis? Gadis Ginanti???”

 

“Mas Raka?” wajah Gadis memucat seketika melihat Raka di tempat itu dan ia refleks mengepalkan jemari tangannya, menutupi kegelisahan yang tiba-tiba melandanya.

 

“Dis, benar ini kamu kan? selama ini kamu kemana Dis? kenapa kamu menghilang? kenapa ibumu bilang kalau kamu jadi TKW ke Arab?” serentetan pertanyaan diajukan Raka dengan cepat.

 

Gadis menghela nafas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Ia pergi menghampiri supirnya dan meminta maaf.

 

“Pak Toni, mohon maaf yaa, saya tidak jadi pulang pak. Nanti saya pulang sendiri saja pak, maaf merepotkan bapak yaa”

 

Gadis meminta supir maskapainya untuk segera meninggalkan tempat itu agar tidak mencuri dengar pembicaraannya dengan Raka, karena gosip dari supir airlines mengalahkan gosip di berita entertainment, makin digosok makin sip. Makin ditambah bumbunya makin meluas beritanya.

 

“Maaf mas Raka, sebaiknya kita bicara ditempat lain saja yaa, aku pakai baju seragam nggak enak kalau di tempat umum begini dilihatnya” bujuk Gadis kepada Raka untuk membawanya ke tempat yang lebih tertutup.

 

“Kita ke mobil” tanpa menunggu jawaban Gadis, Raka meraih pegangan koper Gadis dan menariknya cepat, tidak sabar untuk segera tiba di mobil.

 

Di dalam mobil keduanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Seolah dengan menambah kecepatan dapat membuat pikiran Raka tenang, ia membawa mobil itu membelah jalan tol dengan kecepatan tinggi dan membawa mereka ke pusat Jakarta.

 

“Aku anter kamu pulang, kamu tinggal dimana?” Raka lebih dulu memecahkan kesunyian diantara mereka.

 

“Sudirman Hill” Gadis menyebutkan salah satu nama apartemen mewah di kawasan Sudirman.

 

Mereka masuk ke kawasan apartemen yang mewah itu dan Raka segera memarkirkan mobilnya di basement. Ia membuka pintu mobil dan membantu Gadis mengeluarkan kopernya dari bagasi, kemudian berjalan mengikuti Gadis menuju lift.

 

Tidak ada percakapan yang terlontar ketika mereka berada di lift menuju unit apartemen Gadis. Gadis mempersilahkan Raka untuk masuk dan duduk di sofa, sementara ia masuk ke kamar tidur untuk mengganti baju seragamnya.

 

Raka berkeliling mengamati apartemen Gadis yang jauh dari kesan sederhana. Apartemen mewah dengan dua kamar tidur itu didominasi dengan warna putih gading dan abu-abu, Warna favorit Gadis batin Raka. Ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang tamu dilengkapi dengan sofa besar yang nyaman untuk diduduki. Tidak ada satupun foto atau hiasan yang terpajang di dinding. Hanya terdapat satu TV LED yang terpasang di dinding, menutupi kekosongan di dinding tersebut.

 

Ruangan itu tampak kosong meskipun dilengkapi dengan furnitur mahal dan berkualitas. Sekosong tatapan Gadis ketika berjalan bersama Raka menuju apartemennya.

 

Dada Raka berdebar kencang ketika ia melihat seorang perempuan yang ia yakini sebagai Gadis, memakai seragam pramugari di parkiran bandara. Menahan emosi yang berkecambuk didadanya, Raka segera menahan Gadis itu untuk berlalu pergi. Dan di sinilah ia sekarang menunggu gadis itu memberikan penjelasan, mengapa ia menghancurkan hati Raka bertahun-tahun lalu dengan menghilang dan meninggalkannya tanpa jejak.

 

Gadis keluar dengan menggunakan baju terusan tanpa lengan berwarna hijau toska yang membuat kulit wajahnya tampak lebih cerah dari yang diingat Raka.

 

“Kamu mau minum apa mas?” tanya Gadis mengalihkan tatapan Raka dari wajahnya.

 

“Air putih saja, terima kasih” Raka menatap kembali Gadis yang sedang menyiapkan minumannya.

 

Jantung Raka makin berdegup kencang, seperti saat pertama kali mereka bertemu di perpustakaan sekolah. Gadis yang ia tatap sekarang adalah Gadis yang selalu hadir mengusik mimpinya. Gadis yang semakin cantik, rambutnya bertambah panjang, rambutnya yang dahulu berwarna hitam alami sekarang berganti warna menjadi coklat terang dan terkesan lebih modern. Pembawaan Gadis yang semakin tenang semakin membuat Raka gelisah menanti kedatangannya di sofa ini.

 

“Silahkan diminum mas” Gadis menyerahkan gelas yang berisi air putih.

 

Untuk menghilangkan kegelisahannya Raka meneguk air tersebut sampai habis, melupakan tata krama jawanya untuk menyisakan sedikit minuman yang disuguhkan oleh tuan rumah.

 

“Mau saya tambahkan lagi mas?” melihat gelas Raka yang kosong, Gadis kembali menawarkan minuman kepada tamunya.

 

“Tidak terima kasih” tolak Raka halus.

 

Dan kembali keheningan diantaranya tercipta.

 

“Sekarang Mas Raka tugas dimana?” kali ini Gadis yang mencoba mencairkan suasana hening diantara mereka.

 

“Saya bertugas di Gambir. Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi Dis?” tukas Raka cepat dan tidak sabar.

 

Pertanyaan? Ooo … maksud mas Raka pertanyaan yang tadi di parkiran bandara?” Gadis menjawab pertanyaan Raka diikuti oleh senyum yang terlihat dipaksakan.

 

Dengan menatap wajah Raka, Gadis meminta maaf kepadanya.

 

“Saya mohon maaf apabila mas Raka tersinggung dengan tindakan saya, saya yang minta ibu saya untuk tidak memberitahukan kepada siapapun dimana saya berada. Saya ingin mengejar karir dan mimpi saya mas”

 

Raka menatap Gadis itu lekat, mencoba mencari kebohongan dikedua matanya.

 

Raka tidak menemukan kebohongan disana, Gadis yang sudah piawai berbohong berhasil membuat Raka percaya akan setiap perkataan yang ia katakan.

 

“Karena karir kamu meninggalkanku….” batin Raka berteriak, namun kalimat itu urung dikeluarkan olehnya. Ia memilih melanjutkan pertanyaannya.

 

“Jadi sekarang mimpi kamu sudah tercapai?” Raka mencoba menekan emosinya sehingga kalimatnya terdengar lirih bergetar.

 

Mencoba mengabaikan tatapan mata Raka yang terlihat menyedihkan, Gadis berkata dengan lugas “Ya seperti kamu lihat… kehidupan saya sekarang lebih baik dibandingkan ketika di Solo”

 

Mencoba menekan rasa kecewanya, Raka kemudian berdiri dan berniat untuk pamit. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Gadis mengulurkan tangannya, seketika itu juga Raka menarik tubuhnya mendekat dan memeluknya erat.

 

“Tolong tetaplah seperti ini, walau hanya beberapa menit saja” pinta Raka dan ia semakin mengetatkan pelukannya. Entah apa yang membuat ia menarik Gadis ke dalam pelukannya, mungkin karena kerinduan yang menyesakkan hatinya membuat otaknya jadi kacau. Kehangatan tubuh Gadis membuat jantungnya berdebar kencang dan membuat ia merasa dadanya akan pecah. Harum aroma Gadis membuat Raka semakin terlena dan menenggelamkan wajahnya di rambut Gadis. Melepaskan kerinduan yang selama ini dipendamnya.

 

“Maaf mas Raka, tapi aku tidak bisa mas!” kalimat bernada penolakan yang dilontarkan Gadis membuat kesadaran Raka kembali timbul.

 

“Maaf… maafkan aku yang lepas kendali Dis. Sekali lagi maafkan aku! aku mohon agar kamu tidak marah” seperti orang yang kebingungan Raka meminta maaf dan melepaskan pelukannya. Ia menyesali tindakan kurang ajarnya. Ia dan Gadis sudah tidak lagi berhubungan, jadi ia tidak lagi berhak melakukan perbuatan itu. Namun kerinduannya membuat akal sehatnya mati.

 

Setelah berhasil menguasai dirinya, Raka bertanya dengan suara lirih “Tapi bisakah kita tetap berteman Dis?” melihat tatapan Raka yang penuh harap, Gadis pun tidak sampai hati menolak permintaan itu. Dan dengan berat hati Raka pamit pulang dan sekali lagi mengulangi permintaan maafnya.

 

✈ ✈ ✈

 

“Gadis … batas tipis antara nyata dan fantasiku”

 

Selama perjalanan menuju mess-nya Raka seolah tidak percaya telah menemukan Gadis kembali. Memang benar katanya bertemu dengan seseorang dari masa lalu itu lebih menakutkan daripada hantu. Bahagia, lega dan bingung bercampur dibenak Raka sekarang. Bahagia karena dapat bertemu kembali kepada gadis kecintaannya itu, lega karena tahu meskipun Gadis menolaknya tapi Gadis dalam keadaan yang jauh lebih baik dari keadaannya dulu. Dan bingung karena keadaannya yang tidak seperti dulu, dengan bebas dapat melepaskan kerinduannya.

 

Hatinya ingin sekali memperjuangkan kembali cintanya yang telah kembali itu, tetapi Gadis secara jelas telah menolaknya. Setelah sekian lama berpisah, sangat tidak mungkin jika Gadis tidak memiliki seseorang dihidupnya. Seperti Raka yang telah bersama Laras saat ini, meskipun jika Gadis tidak menolaknya tadi maka tanpa ragu Raka akan segera memutuskan hubungannya dengan Laras.

 

✈ ✈ ✈

 

Raka mungkin akan sangat terkejut apabila mengetahui efek dari pelukannya begitu meluluhkan hati gadis. Dengan berat hati Gadis menolak pelukan hangat dari pria yang sangat dirindukannya itu.

 

Bahkan tangannya tampak gemetar ketika menutup pintu apartemennya. Jantungnya berdetak kencang dan lututnya terasa lemas sehingga ia harus bersandar dibalik pintu.

 

“Raka tidak boleh tahu. Aku harus menjauhinya, aku sudah berjanji” bibir Gadis bergumam pelan memastikan kata-katanya tertanam kuat dibenaknya.

 

Gadis masuk ke dalam kamarnya, ia butuh berbaring menidurkan otaknya, mengendurkan syaraf – syarafnya yang tegang karena dipaksa berpikir terlalu keras. Ia terbangun ketika hari telah berganti malam. Kepalanya masih terasa berat, ia bangun dan mengambil aspirin di atas nakas untuk meredakan sakit kepalanya. Suara alarm dari telepon genggamnya berbunyi nyaring meminta untuk dimatikan. Ia meraih telepon genggamnya, mematikan alarm dan melihat 5 pesan yang masuk dan belum terbaca. Pesan dari Raka yang berisi permintaan maaf yang diulang-ulang.

 

“Aku harap kamu nggak marah Dis, maafin aku – Raka”


“Dis … aku minta maaf, maafin aku”


“Dis, maafkan aku yang bodoh ini, aku benar-benar minta maaf”


“Dis.. Aku nggak maksud kurang ajar sama kamu, maafin aku Dis”


“Dis .. sekali lagi aku minta maaf, tolong jangan benci aku Dis”

 

Setelah membaca kata-kata penyesalan dari Raka, Gadis menaruh telepon genggamnya disampingnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, termenung sambil menatap langit-langit kamarnya dengan mata nanar.

 

Kemudian ia bergumam sendiri “Ah Raka betapa tragis kisah kita” Kisah lama itu kembali membayanginya.

 

“Kamu Gadis? teman dekatnya Raka?”


“Saya Ny. Sulastri, ibunda Raka”

 

Siang itu Ibunda Raka mengunjungi Gadis di rumahnya, berbekal alamat yang diberikan oleh Kepala Sekolah Raka yang merupakan teman satu sekolah ayah Raka dulu di SMA.

 

Ibunda Raka memperhatikan sekeliling rumah Gadis. Rumah tua yang sudah reyot itu berada di perkampungan kumuh. Dengan dinding-dinding yang catnya sudah mengelupas, dan pintu kayu yang sudah termakan rayap dan usia, membuat Ny Sulastri semakin mantap dengan kedatangannya.

 

“Iya ibu, saya Gadis bu” Gadis yang merasa terkejut atas kunjungan tiba-tiba Ibunda Raka menjawab dengan gugup.

 

“Silahkan masuk bu” Ny Sulastri mengikuti Gadis masuk ke dalam rumahnya.

 

Silahkan duduk, ibu mau minum apa? Biar Gadis ambilkan dahulu” Gadis berusaha menenangkan dirinya dan tersenyum mengusir kegugupannya.

 

Ny. Sulastri, ibunda Raka menatap Gadis dengan tatapan menyeluruh. Sekilas gadis itu tampak biasa-biasa saja pikirnya, seperti gadis Jawa pada umumnya. Wajahnya ayu, bermata bulat dan berkulit kuning langsat.Tetapi ada sesuatu didalam diri Gadis yang membuat semua orang terpesona dengan senyumannya yang manis dan tutur katanya yang hangat membuat Ny. Sulastri melembutkan suaranya.

 

“Tidak perlu repot-repot nak Gadis, ibu hanya ingin menyampaikan sesuatu”

 

Ny. Sulastri segera menahan Gadis yang hendak beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman untuknya dan ia pun segera melanjutkan maksud dan tujuannya datang menemui gadis itu.

 

“Nak Gadis, ibu mohon maaf sebelumnya apabila perkataan ibu ini membuat nak Gadis tersinggung atau kecewa. Tetapi Ibu harus memberitahukan ini kepada nak Gadis”

 

Mendengar nada suara Ny. Sulastri yang serius, senyuman di wajah Gadis perlahan menghilang dan berganti dengan ekspresi yang serius.

 

“Iya Bu, silahkan jika ada yang ingin ibu sampaikan kepada saya, insyallah saya dengan lapang dada akan menerimanya” Gadis menjawab ibunda Raka dengan suara lirih.

 

“Putus lah dengan Raka !!! Ibu mohon agar nak Gadis menjauhi Raka dan ibu minta agar pembicaraan kita ini tidak diketahui Raka”


“Kalau boleh saya tahu alasan ibu meminta kami putus karena apa Bu?”
Jawab Gadis dengan air mata yang tertahan.

 

Dengan berat hati Sulastri mengutarakan hatinya. “Kamu gadis yang cantik dan baik namun… kami, saya dan ayahnya Raka berpendapat kamu tidak cocok menjadi calon menantu kami”

 

Gadis tahu maksud dari penolakan orang tua Raka. Bibit bobot bebet yang baik merupakan hal yang penting bagi orang Jawa dalam mencari calon menantu dan Gadis tidak memiliki itu. Sampai matipun ia tidak akan memiliki itu. Ia sadar diri, dirinya hanyalah anak dari janda miskin penjual pecel pincuk di pasar, jika dibandingkan dengan keluarga Raka yang berasal dari keluarga berada sangatlah timpang keadaannya. Apalagi dirinya yang hanya tamatan SMA dan belum bisa melanjutkan kuliah karena alasan biaya jika dibandingkan dengan Raka yang sedang menempuh pendidikan di akademi militer di Magelang makin membuat perbedaan mereka terlalu mencolok. Orang tua mana yang menginginkan calon menantu seperti dirinya, ditambah ayahnya yang tidak jelas keberadaannya sekarang.

 

Gadis yang merasa sakit hati karena merasa direndahkan berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia menguatkan hatinya, memandang Ny. Sulastri dengan lekat dan berkata dengan suara lirih “Baik Bu saya mengerti, saya berjanji saya akan menghilang dari hidup mas Raka”

 

“Terima kasih nak, ibu mohon agar kamu tidak memberitahukan Raka mengenai pembicaraan kita ini” Ny Sulastri mengenggam kedua tangan Gadis dengan erat, seolah meminta pengertian Gadis mengenai keputusan yang diambilnya.

 

Dan Gadis menepati janjinya. Ia menghilang dari Raka ketika berhasil lolos seleksi menjadi pramugari dan pindah ke Jakarta, ia segera mengganti nomer teleponnya dan meminta ibunya untuk berbohong kepada Raka mengatakan ia pergi merantau ke Arab Saudi untuk menjadi seorang TKW.
Raka yang tidak percaya bahwa Gadis secara tiba-tiba menghilang dari hidupnya, mencoba mencari Gadis melalui teman-teman dekatnya namun tidak satupun dari temannya yang mengetahui keberadaan Gadis. Seolah perempuan yang bernama Gadis itu hilang ditelan bumi, tanpa bekas dan tanpa jejak.

 

Gadis mencoba melupakan Raka, cinta pertamanya yang kandas di tengah jalan. Ia bertekad untuk memulai hidup baru. Gadis bekerja keras melebihi siapapun, mengikuti training dengan sungguh-sungguh, menyimak semua penjelasan instruktur yang mengajarkan materi-materi baru yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Ia merasa memiliki tujuan hidup baru, mengejar mimpinya hingga berhasil lulus dan menjadi seorang pramugari. Agar tidak ada lagi orang yang akan merendahkan dirinya.

 

Hingga hidup kembali mempertemukannya dengan Raka. Menorehkan kembali luka lama yang coba dihapus Gadis dari ingatannya. Bukan karena kata-kata ibunda Raka di masa lalu, tetapi karena kenyataan memang tidak akan bisa dirubah.

 

✈ ✈ ✈

 

“Mbak Gadis, mba aku lagi butuh uang nich buat bayar cicilan mobil aku”.  Angel pramugari junior berusia 20 tahun, berperawakan tinggi dan langsing dengan kulit putih dan berwajah oriental. Ia terkenal pandai membidik laki-laki berduit meski hanya dengan melihat penampilan luarnya.

 

“Mbak … aku mau cari penumpang kaya aja ah, mau ku ajak tidur buat bayarin cicilan mobil aku” Gadis hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah juniornya yang akan segera menjalankan misinya di penerbangannya ini.

 

“Tapi jangan sampai buat skandal yaa dipenerbangan ini! Hati-hati dan jangan buat gw repot” tambah Gadis mengingatkan.

 

Berdasarkan pengalaman Gadis bertahun-tahun menjadi seorang pramugari, sangatlah sulit mengarahkan junior-juniornya yang masih sangat muda dan labil untuk bertindak sesuai dengan arahannya. Ia harus menjadi seorang teman untuk dapat mengerti dan memahami mereka sehingga dapat bekerja sama dengan baik sebagai satu tim. Meski kadang sikap dan tingkah laku mereka yang kadang impulsif harus dapat ditaklukkan oleh Gadis sehingga tidak menyebabkan skandal dalam sebuah penerbangan.

 

Seperti misalnya aksi Angel yang telah sukses mendapatkan mangsanya. Seorang penumpang setengah baya dengan perut buncit dan berwajah oriental yang sudah bertukar nomer telepon dengannya dan sudah menyepakati untuk berkencan malam ini, setelah pesawat mereka mendarat nanti.

 

“Mbak Gadis …” Angel menari-nari dengan senang dan merangkul pundak seniornya itu “aku sudah dapat mbak, penumpang no 3D, nanti malam dia mau check in di hotel kita. Aku minta 5 juta buat bayar mobil kata dia ok nanti dibantu” Angel tersenyum lebar membayangkan salah satu masalah keuangannya akan segera terselesaikan.

 

“Hati – hati loh ya, jangan mau di rekam, trus lo pastiin dia pakai pengaman”. Gadis kembali mengingatkan.

 

“Iya tenang aja mbak, aku kan bukan anak perawan kemarin sore hehehe..” Angel tertawa seakan tindakan Gadis mengingatkannya adalah suatu hal yang sangat konyol, mengingat dia adalah seorang yang pro dibidang ini.

 

“Ya, gw nggak mau aja ada pramugari viral, apalagi dari maskapai kita. Image kita yang sudah jelek di masyarakat nanti tambah jelek lagi”. Gadis tidak ingin masyarakat memandang jelek terhadap profesinya, karena tidak semua pramugari seperti dia atau Angel. Masih banyak pramugari baik-baik yang masih menjunjung tinggi adat timur dengan menjaga keperawanan mereka untuk suaminya kelak. Bukan salah diprofesinya tetapi orang yang memilih melakukannya, pikir Gadis dalam hati.

 

Ia ingat ketika ia masih junior dan masih perawan, ia terbang dengan Captain Abdul yang terkenal sangat playboy. Gadis merasa sangat gugup ketika diminta untuk datang ke flight deck untuk memberikan minum kepada Captain Abdul. Tangannya berkeringat dan gemetar ketika ia memberikan minuman yang diminta Captain playboy itu.

 

“Ini first flight kamu sama saya ya?” Suara Captain Abdul yang serak dan terdengar kasar makin membuat kegugupan Gadis bertambah. Gadis pun menautkan jari jemarinya dan memainkannya, terlihat makin gelisah. Captain Abdul yang terus memandanginya, mengetahui kegelisahan pramugari cantik di depannya, ia melanjutkan pertanyaannya “Sudah pernah berciuman di atas 34.000 kaki belum?”

 

Gadis yang sudah mendengar tentang reputasi Captain Abdul semakin gelisah dan berkeringat mendengar ucapan tersebut. Semua doa ia rapalkan dalam hati dan mencoba mengingat-ingat trik yang diajarkan oleh salah satu seniornya mengenai cara menghindar dari pilot-pilot genit dan situasi seperti ini.

 

Berusaha bersikap tenang Gadis menjawab dengan percaya diri “Belum Captain, tapi maaf terima kasih”

 

“Terima kasih apa? maaf apa? Memangnya saya nawarin kamu?” Kekehnya senang karena merasa berhasil mem-bully pramugari baru.

 

“Terima kasih karena sudah bertanya dan maaf karena saya belum pernah” lanjut Gadis berusaha menjawab dengan penuh keberanian.

 

Mendengar jawaban Gadis, co-pilot Rahmat yang sejak tadi hanya menyimak saja tidak dapat menahan dirinya untuk tertawa. Merasa kesal ditertawakan, Captain Abdul bangkit dan berdiri dari seat nya “Minggir, saya mau ke lavatory, nanti gw cium baru tahu rasa lo. You take control Mat, jangan kebanyakan ketawa nanti gigi lo kering”

 

✈ ✈ ✈

 

“Mas Raka… Mas… Mas Raka.. Mas!!”


“Eh iyaa dek, ada apa? maaf ya dek, mas lagi memikirkan pekerjaan!”

 

Panggilan Laras membuyarkan pikiran Raka tentang Gadis. Sejak pertemuan mereka, tidak satu detik pun Raka berhenti memikirkan Gadis, meski kini ia sedang bersama kekasihnya.

 

“Tadi aku bilang … Bapak nanyain Mas Raka, kata Bapak tumben Mas Raka jarang ke rumah akhir-akhir ini. Aku bilang mas lagi sibuk sama kerjaan kantor” Laras yang merasa akhir-akhir ini Raka bersikap lain dari biasanya mencoba menutupi kejanggalan sikap Raka di depan ayahnya.

 

“Iya dek terima kasih atas pengertianmu, karena jabatan yang baru aku pegang membuat pekerjaanku menumpuk, aku harap kamu sabar ya dek” Raka meraih tangan Laras dan menggenggamnya mencoba meyakinkan pernyataannya.

 

Raka menekan perasaan bersalahnya kepada Laras. Laras yang selalu ada untuknya, wanita yang mengobati hatinya yang luka karena ditinggalkan Gadis. Dan kini ketika Gadis kembali hadir kekehidupannya, Raka dipenuhi rasa bersalah karena merasa tidak mencintai Laras dengan cukup, sehingga hati dan pikirannya dipenuhi oleh bayangan Gadis.

 

Raka ingat pertama kali berkenalan dengan Laras, seorang perempuan cantik yang sedang menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran. Pada saat itu Raka baru saja menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer dan ditempatkan di Solo. Lettu Sitanggang, Senior Raka yang memiliki kekasih bernama Elizabeth bermaksud menjodohkan Raka dengan sahabat Elizabeth.

 

“Sudah Adek asuh, kau mau saja kujodohkan sama sahabatnya pacarku. Namanya Laras, calon dokter, cantik dan seiman dengan kau”


“Sudah kau lupakan saja pacar SMA mu itu yang tidak tahu rimbanya?”
dengan logat Sumatera Lettu Sitanggang berusaha membujuk Raka yang sedang patah hati untuk membuka dirinya kepada Laras.

 

“Besok kau pakai pakaian dinas saja, cewek-cewek paling suka lihat pria berseragam”


“Ah Abang ini memangnya kita mau ngadep komandan pakai seragam segala!”
Raka yang sebenarnya enggan berkenalan dengan Laras menolak saran seniornya untuk memakai seragam di waktu liburnya.

 

Di rumah Elizabeth lah Raka datang menemui Laras. Seorang perempuan cantik dengan pemikiran modern, cerdas dan santun. Jika saja hati Raka belum dimiliki sepenuhnya oleh Gadis maka Raka akan dengan senang hati memberikan seluruh hatinya untuk perempuan dihadapannya itu.

 

Laras lah yang berinisiatif meminta nomer Raka dan selalu menelepon disetiap kesempatan. Memberikan perhatian dan dukungan bagi Raka. Sehingga hubungan mereka menjadi dekat dan perlahan membuat Raka melupakan Gadis.

 

Hari-hari yang dilalui Raka bersama Laras sangatlah damai, ibaratnya Laras adalah sejuknya udara pegunungan. Laras yang pengertian membuat hubungan mereka harmonis tanpa ada pertikaian. Tanpa ada gejolak emosi cemburu dan amarah, yang ada hanya rasa kasih dan pengertian.

 

Jika Laras adalah pegunungan maka Gadis adalah Pantai bagi Raka. Selalu panas menggulung hatinya baik saat bersama maupun jika berjauhan. Selalu ada panas cemburu membakar Raka apabila melihat Gadis dekat dengan laki-laki lain. Ataupun rasa rindu yang membara bagaikan panasnya tengah hari di pantai.

 

Ketika Gadis menghilang, sosok Laras mampu menyejukkan hati Raka yang terbakar rindu dan kehilangan. Mengobati lukanya dengan perlahan dan penuh kasih. Membangun kedekatan mereka menjadi sebuah hubungan yang harmonis.

 

Namun meskipun hubungan mereka sudah berjalan lama, Raka enggan menceritakan tentang Gadis kepada Laras. Bagi Raka, Gadis akan selalu menjadi sebuah elegi, kisah yang akan selalu ia simpan rapat-rapat di hatinya. Gadis merupakan luka sekaligus candunya. Tanpa Gadis, Raka seolah sampan yang hilang arah, tanpa tujuan dan hanya berlayar mengikuti riak sungai, hingga tiba di muara bernama Laras.

 

Raka menghentikan lamunannya dan kembali meraih tangan Laras dan mengenggamnya erat “Mas janji mas akan segera menyelesaikan pekerjaan mas, sehingga Adek tidak akan merasa dinomor dua kan lagi”. Raka berjanji didalam hatinya bahwa ia akan melupakan Gadis dari hati dan pikirannya.

 

Raka mencurahkan pikirannya untuk melupakan Gadis dengan bekerja dan disetiap kesempatan Raka berusaha untuk menemui Laras, menjalin kembali hubungan yang sempat renggang karena kehadiran Gadis diantara mereka. Hingga kemudian hidup Raka kembali lagi bersinggungan dengan Gadis.

 

✈ ✈ ✈

 

Malam itu telepon genggam Raka berbunyi dan terdengar salam dari lawan bicaranya. Dengan tutur halus ia menjawab ibundanya di seberang sana.

 

“Iya Bu … Raka jadi pulang besok dengan penerbangan pertama ke Solo”


“Ndak Bu … Laras ndak bisa ikut karena belum bisa cuti!”


“Baik Bu”

 

Raka mengakhiri pembicaraannya dengan ibundanya di telepon dan berjalan ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke Solo esok hari.

✈ ✈ ✈

 

Pagi hari itu langit terlihat cerah, Bandara Soekarno Hatta dipenuhi oleh penumpang yang sedang boarding menuju pesawat yang akan mengantarkan mereka ke kota tujuannya.

 

“Mbak Gadis, penumpangnya masih kurang satu ya?” Mas Irwan petugas ground handling melapor kepada Gadis setelah selesai melakukan cross check penghitungan jumlah penumpang.

 

“Tapi orangnya sudah check in belum mas ?” Tanya Gadis kepada petugas ground handling itu di depan pintu pesawat.

 

“Sudah mbak, sudah saya umumkan juga, mungkin lagi ngopi atau ke kamar kecil mba. Kita tunggu 5 menit saja mbak, saya sudah info Captain juga kok”

 

“Oh … Itu dia penumpangnya mbak!” mas Irwan berseru senang karena tugasnya hampir berakhir. Terlihat seorang laki-laki yang sangat dikenal Gadis sedang berlari di garbarata menuju ke arahnya.

 

“Mas Raka?” Mata Gadis membulat sempurna, terkejut melihat penumpang yang ditunggunya.

 

“Mbak Gadis kenal dengan penumpang itu” tanya mas Irwan dengan penuh ingin tahu.

 

“Eh iya teman saya mas” Gadis menjawab dengan cepat menghindari pertanyaan lanjutan dari mas Irwan.

 

Raka terkejut melihat Gadis, nafasnya yang belum pulih sehabis berlari bertambah sesak sehingga ia mengira akan terkena serangan jantung.

 

“Silahkan masuk mas, pesawat kita akan segera berangkat” Gadis mempersilahkan Raka untuk masuk ke dalam kabin dan meminta boarding pass untuk melihat nomer kursinya.

 

“Mas duduk di kursi 2C di kabin depan kelas bisnis” Gadis mengembalikan boarding pass Raka dan tanpa sengaja jarinya menyentuh tangan Raka. Dan seolah ada sengatan listrik di antara keduanya membuat mereka langsung memisahkan diri dengan cepat.

 

Raka menyimpan kopernya di lugage bin dan Gadis mulai membacakan welcome announcement, sambutan selamat datang bagi para penumpang.

 

Selama penerbangan Raka mencoba untuk tidur dan melupakan bahwa Gadis berada sangat dekat dengannya. Harum tubuh Gadis yang berjalan melewatinya, tercium sangat jelas seolah – olah ia adalah anjing pelacak yang sedang mengintai buruannya. Ia menginginkan Gadis, sangat menginginkannya. Ia merasakan bara menyala dalam dirinya dan ia merasa gelisah. Ia tahu ia telah berjanji kepada Laras untuk melupakan Gadis, walau janji yang dia ucapkan sendiri dalam hati. Tetapi melihat Gadis yang sangat dekat dengannya membuat otaknya kembali kacau.

 

Merasa percuma dengan kepura – puraannya, Raka pun mengambil inflight magazine dan mulai membacanya. Tidak lama kemudian ia melihat Gadis mulai menawarkan makanan dan minuman kepada para penumpang yang juga berada di kelas bisnis. Gadis sangat cantik. Masih sama seperti Gadis yang dulu dikenalnya tetapi wajahnya tampak lebih dewasa ditambah dengan tatanan rambut croissant khas pramugari dan seragam yang melekat pas ditubuhnya yang indah.

 

Melihat Raka sedang memandanginya, Gadis berjalan ke arahnya dan menawarinya makanan dan minuman yang disediakan di penerbangan bisnis. Raka yang merasa tidak lapar hanya meminta segelas kopi.

 

5 menit kemudian Gadis membawakannya kopi hitam tanpa gula kesukaan Raka. “Ah ternyata ia masih ingat” pikirnya.

 

Raka menerima kopi tersebut dan mulai meminumnya. Ia mengalihkan pikirannya dari Gadis dengan mencoba melihat sekelilingnya. Kelas bisnis yang hanya ditempati oleh 6 orang penumpang dari 12 kursi yang tersedia membuat suasana kabin itu tampak lenggang. 3 penumpang di kelas itu adalah sebuah keluarga yang sedang berpergian bersama dan sedangkan 2 orang lainnya adalah sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Pandangan Raka terpaku pada keduanya yang saling berpelukan, laki-lakinya mencuri kecupan dari kekasihnya, perempuan itu tersipu malu karena terlihat orang. Melihat kemesraan diantara keduanya, Raka kembali mengingat Gadis dan kenangan bahagia bersamanya. Mata Raka mulai mencari keberadaan Gadis yang kembali memenuhi pikirannya.

 

Raka melihat Gadis berdiri di depan kabin bersama rekannya yang terlihat lebih muda darinya dan tanpa berpikir panjang ia pun berjalan menuju ke tempat mereka.

 

Gadis yang melihat Raka mendekat, refleks menanyakan keperluannya secara profesional.

 

“Ada yang perlu saya bantu mas?”

 

“Bagaimana kabarmu Dis?” Raka bertanya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

 

“Baik mas” Gadis menjawab dan menyambut tangan Raka.

 

“Oiya mas kenalkan ini Pamela, rekan kerja aku”

 

“Pamela” junior Gadis itu mengulurkan tangannya dan tersenyum genit kepada Raka.

 

“Raka” Raka membalasnya dengan senyuman singkat.

 

“Mas Raka temannya mbak Gadis ya?”


“Iya saya teman SMA nya”
jawab Raka menatap Gadis dengan intens.

 

“Mas Raka kerja di Solo?” Pamela merasa penasaran dengan sosok Raka yang tampan.

 

“Saya tugas di Jakarta, lagi mau nengok ayah saya yang sakit di Solo”

 

“Sakit ap ..” belum selesai pertanyaan dilontarkan Pamela, Gadis langsung memotong pertanyaannya “Mas Raka …apakah ada yang bisa kita bantu? karena kalau tidak, mas sebaiknya kembali ke tempat duduk karena sebentar lagi kita akan segera mendarat”

 

“Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu, tetapi lebih baik saat kamu tidak sedang bekerja, sampai kapan kamu berada di Solo Dis?”

 

Belum Gadis menjawab, Pamela sudah memotong jawaban Gadis membalas tindakan Gadis sebelumnya “Kita menginap sampai besok sore mas Raka, ajak kita jalan-jalan donk di Solo, mau yaa?”

 

“Iya boleh nanti saya ajak makan bersama Gadis ya, kalian nginap di hotel apa?”

 

Pamela menyebutkan nama salah satu hotel berbintang di Solo tempat crew mereka menginap.

 

“Dis nanti saya telepon kamu ya” Raka melanjutkan dan berjalan kembali ke kursinya.

 

“Mbak Gadis temennya ganteng banget, aku minta nomernya donk mba, tentara yaa mba?” Sepeninggalan Raka, Pamela menarik-narik tangan Gadis meminta nomer Raka kepada Gadis.

 

“Dasar genit, mau dikemanakan mas David pacarmu itu” jawab Gadis gemas menanggapi Pamela yang kekanak-kanakan.

 

“Yaa kan mas David Pilot pacar diudara, kalau mas Raka kan tentara pacar di darat” Pamela membuat tanda victory dengan tangannya.

 

“Hahaha nggak mau ah nanti ketahuan mas David aku yang dimarahin lagi, bukan pacarnya yang buaya darat” tawa Gadis sambil berlalu meninggalkan Pamela yang masih memohon-mohon diberikan nomer Raka.

 

✈ ✈ ✈

 

Setibanya di rumah, Raka disambut ibunya yang bahagia melihat kepulangan putranya.

 

“Kamu sudah tiba Le, kok tidak telepon ibu? Ibu tadi mau minta supir untuk menjemputmu”


“Ndak papa bu, Raka kan biasa pulang naik taksi Bu”


“Ya sudah, kamu sudah istirahat saja dulu di kamar”


“Bagaimana kondisi ayah Bu?”


“Alhamdulilah sudah baikan, sudah bisa makan sendiri tanpa ibu suapi. Tapi ayahmu sekarang sedang tidur setelah meminum obatnya tadi”


“Alhamdulillah ya Allah, Raka mau mandi dan berganti pakaian dulu ya Bu”


“Iya kamu istirahat saja dulu nanti malam ibu siapkan sayur kluweh dan ayam goreng kesukaanmu”


“Baik Bu”

 

Sehabis berganti pakaian Raka beranjak menuju meja disudut kamarnya, membuka laci yang berada di meja itu. Ia mengambil album foto yang berisi foto – fotonya bersama Gadis. Masa-masa bahagianya terabadikan lewat kamera dan hasil foto-foto itu tidak pernah dibuangnya melainkan disimpannya dengan rapi disudut kamarnya.

 

Kembali ke kamar ini membuat Raka mengingat lagi semua kenangannya bersama Gadis. Rasa cinta yang dalam dan bergejolak. Berbeda dengan perasaannya kepada Laras yang penuh rasa sayang dan pengertian. Memang tidak adil membandingkan perasaannya terhadap keduanya. Namun hati kecil Raka terus menjeritkan kerinduan yang menggelora kepada Gadis sedangkan otaknya menyerukan kewarasan untuk tetap setia kepada Laras. Otaknya semakin penat memikirkan hal itu, ia merasa lelah dan jatuh tertidur.

 

Raka terbangun ketika malam beranjak, sehabis menyegarkan diri dengan mandi ia keluar menuju ruang makan, namun disana ia tidak menemui ibunya sehingga Raka menuju kamar orangtuanya. Tanpa sengaja ia mendengarkan percakapan orangtuanya.

 

“Ibu pikir Raka sudah bisa melupakan Gadis itu yah dan sesuai dengan saran ayah, ibu menceritakan tentang Gadis kepada Laras”

 

“Laras bilang, Raka akan meminta kita untuk melamar Laras minggu depan yah” Suara ibundanya pun kembali terdengar. “Walaupun ibu tidak bisa melupakan rasa bersalah ibu melihat wajah gadis itu yang terluka yah, ketika ibu bilang dia harus putus dengan Raka karena bibit bobot bebetnya yang kurang baik”

 

Raka membeku mendengarkan percakapan itu. Bagaimana mungkin orang tuanya tega memisahkan dirinya dengan gadis yang dicintainya, membuat Raka menderita selama bertahun-tahun. Dan terlebih lagi Laras bersikap seolah tidak tahu mengenai semua ini. Darah Raka bergolak, ia pun segera bergeser perlahan meninggalkan pintu kamar itu dan segera mengambil kunci mobil, memacu mobilnya dengan cepat menuju satu tujuannya.

✈ ✈ ✈

 

“Bu kenalkan ini Larasati” Raka memperkenalkan kekasihnya kepada ibundanya. Laras segera mencium tangan ibunda Raka sebagai tanda hormat kepada ibu kekasihnya.

 

Laras yang hari itu memakai gaun berwarna kuning mustard dengan riasan tipis-tipis tampil cantik dan berkelas. Ibunda Raka menatap Laras dengan pandangan penuh rasa kagum melihat kecantikan Laras dan pembawaan dirinya yang elegan.

 

“Cantiknya kamu nduk, mari masuk duduk disini, didekat ibu” ibunda Raka mempersilahkan Laras untuk duduk bersamanya dengan wajah berseri – seri.

 

Raka melihat ibundanya menerima kedatangan Laras dengan tangan terbuka. Berbeda dengan reaksi ibundanya terhadap mantan kekasihnya Gadis, meskipun tidak secara terus terang menolak Gadis didepan Raka, tetapi Raka bisa mengetahui bahwa ibunya enggan mendengar ceritanya mengenai Gadis dan menanggapi dengan sekedarnya. Oleh karena itu Raka berniat untuk memperkenalkan Gadis kepada ibunya tetapi belum niatnya terlaksana, kekasihnya sudah pergi tanpa jejak dan tanpa kabar, meninggalkan Raka dengan rasa sakit yang luar biasa. Ibunda Raka yang mendengar kabar dari Raka bahwa Gadis menghilang hanya dapat diam dan berdoa dalam hati agar pertemuannya dengan Gadis tidak diketahui Raka.

 

“Le, coba kamu minta mbok Sum untuk membawakan minuman dulu untuk Laras” perintah ibundanya membuyarkan lamunan Raka.

 

“Baik Bu” dengan sigap Raka berjalan menuju dapur mengikuti perintah ibundanya untuk menemui mbok Sum.

 

“Mbok… mbok Sum” Raka memanggil – manggil mbok Sum yang sedang berada di dapur.

 

“Masyallah Den… Den.. mbok pikir siapa panggil – panggil mbok Sum siang – siang begini Mbok Sum terkejut melihat kehadiran anak majikannya di rumah.

 

Den Raka kapan pulang, makin hari makin gagah saja Den” Mbok Sum memeluk Raka yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri, melepaskan kerinduan karena telah lama tidak saling bertemu. Mbok Sum yang sebatang kara sudah mengabdi selama belasan tahun sehingga sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga Raka.

 

“Mbok, ibu minta dibuatkan minuman untuk tamu” Raka membalas pelukan mbok Sum.

 

“Ada tamu toh Den? Sopo tamunya Den?” Mbok Sum melepaskan Raka dan mulai membuatkan teh.

 

“Calon istriku!” Raka menampilkan senyuman untuk menggoda mbok Sum yang sedang asyik mengaduk teh di cangkir.

 

Mendengar itu mbok Sum langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Raka dengan raut wajah bahagia.

 

“Mbak Gadis???”

 

Mendengar nama Gadis dari mulut mbok Sum, Raka langsung terdiam dan menunduk lesu, terlihat tidak bersemangat.

 

“Bukan Gadis mbok, tapi Larasati namanya. Gadisku sudah hilang ditelan bumi mbok, saya cari-cari tidak ketemu mbok”

 

Melihat wajah Raka yang tiba-tiba menjadi sendu dan suaranya yang sarat akan kesedihan membuat mbok Sum paham bahwa anak majikannya sedang patah hati “Oalah Den, maafin mbok ya, mbok Sum ndak tau Den”

 

“Bukan salah mbok Sum, tapi salah saya yang tidak berhasil menemukan cinta saya mbok” Raka menyandarkan punggungnya ke sisi tembok karena seolah-olah dengan membicarakan Gadis tubuhnya kehilangan tenaga dan merasa lemah seketika.

 

Mbok Sum maju mendekati Raka dan mengelus-elus sayang rambut Raka. “Serahkan saja sama Gusti Allah Den, mintakan yang terbaik untuk Den Raka, insyallah pasti akan diberikan yang terbaik”


“Terima kasih mbok, mbok saya ke depan dulu ya kasihan Laras mungkin sudah lama menunggu”


“Baik Den”
Mbok Sum yang sudah sangat mengenal Raka luar dalam mengetahui bahwa Raka masih sangat mencintai Gadis. Mbok Sum kembali mengingat betapa Raka suka sekali menceritakan semua hal mengenai Gadis, tentang kegiatan yang dilakukannya bersama kekasihnya, tentang kebiasaan-kebiasaan Gadis yang Raka anggap lucu.

 

Mbok Sum ingat Raka selalu ceria dan penuh semangat ketika sedang menceritakan Gadis, sehingga Mbok Sum yang belum pernah bertemu dengan Gadis merasa seolah-olah sudah sangat mengenalnya.

 

Raka telah kembali duduk di samping Laras ketika mbok Sum membawakan minuman mereka. “Laras kenalkan ini mbok Sum, mbok Sum sudah seperti ibuku sendiri”

 

Laras segera berdiri dan mencium tangan mbok Sum, mbok Sum yang merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan hormat dari Laras segera menarik tangannya dengan sopan dan tersenyum menundukkan kepala dengan hormat. Kemudian mbok Sum pun berlalu menuju dapur.

 

Setelah selesai menyesap teh mereka, ibunda Raka berdiri “kita makan dulu Le, kasihan nak Laras pasti sudah lapar dari tadi menemani ibu mengobrol” ibunda Raka yang telah menyiapkan hidangan, mengajak mereka menuju ruang makan.

 

“Makan yang banyak nduk, Raka… coba kamu bujuk Laras untuk makan yang banyak biar tidak mudah sakit, kalau dokternya sakit nanti yang mengobati pasiennya siapa?” Ibunda Raka menepuk bahu Raka mengingatkan Raka untuk lebih memperhatikan kesehatan Laras.

 

Baik Bu Raka mengangguk mengiyakan permintaan ibundanya. Melihat hal itu Laras merasa bahagia karena perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh calon ibu mertuanya. Dan membuat Laras merasa diterima sebagai bagian dari keluarga Raka.

 

Raka telah banyak bercerita mengenai Laras kepada ibunya, termasuk latar belakang keluarga Laras dan ayahnya yang seorang Jenderal Angkatan Darat. Hal ini membuat Ibunda Raka merasa bahagia. Akhirnya Raka mendapatkan calon pendamping yang sesuai dengan keinginan orangtuanya yaitu bibit, bobot, bebet yang baik. Profesi Laras sebagai dokter juga dapat menunjang karir Raka sebagai abdi negara.

 

✈ ✈ ✈

 

Setelah jamuan itu, Laras kerap berkunjung ke rumah orang tua Raka, meskipun tidak bersama dengan Raka. Ny. Sulastri yang tidak memiliki anak perempuan merasa sangat bahagia dapat melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh ibu dan anak perempuannya bersama Laras. Mereka berbelanja pakaian bersama, pergi melihat pameran lukisan, mengikuti kelas merangkai bunga bersama. Bahkan Laras dan ibu kekasihnya juga memiliki hobi yang sama yaitu menghabiskan waktu senggangnya dengan merajut.

 

Dan pada hari itu ketika Laras berkunjung untuk membawakan brownies kukus buatannya, ibunda Raka merasa tiba saatnya untuk memberitahukan Laras mengenai Gadis, mantan kekasih yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Raka.

 

“Gadis namanya nduk” ibunda Raka menutup ceritanya dengan mengamati ekspresi wajah calon menantunya. Laras yang masih merasa terkejut, hanya terdiam memproses cerita ibunda Raka. Kemudian ragu-ragu dan akhirnya urung mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

 

“Kalau kamu penasaran nduk, ndak apa-apa tanya saja sama ibu, Ndak usah sungkan”

 

Melihat Laras yang ragu-ragu ibunda Raka meyakinkan Laras untuk bertanya.

 

“Iya Bu, sekarang Gadis itu dimana Bu? Mas Raka masih belum bisa melupakan dia Bu?”

 

Pertanyaan yang diajukan Laras tanpa persiapan dijawab dengan lugas oleh ibunda Raka.

 

“Gadis itu telah menghilang dari hidup Raka, ibu sendiri yang memintanya untuk pergi dan ibu berani menjamin itu”

 

Masih banyak pertanyaan yang ingin diajukan Laras tetapi ia takut untuk mengetahui jawabannya, sehingga ia hanya terdiam dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa Gadis itu adalah masa lalu dan Laras adalah masa sekarang dan masa depan Raka.

 

✈ ✈ ✈

 

“Mas Raka, bapak sudah menanyakan kapan mas Raka datang ke rumah untuk melamar?” Pertanyaan yang dilontarkan Laras dengan tiba-tiba membuat Raka gelisah, ia memijat pelipisnya dan menjawab dengan ragu-ragu “Iya dek insyallah setelah mas sekolah di Bandung, mas minta orangtua mas untuk ke rumah kamu”

 

“Benar yaa, mas tidak akan mundur-mundur lagi nanti” mendengar jawaban Raka yang ragu-ragu Laras semakin mendesak Raka untuk berjanji melamarnya secepatnya.

 

Iya doakan saja mas lulus tes seleksinya Raka berusaha meyakinkan Laras yang terlihat tidak tenang.

 

Nanti aku bilang Bapak untuk membantu kamu di tes seleksi nanti


Tidak usah merepotkan bapak dek, insyallah mas akan berusaha semaksimal mungkin untuk lulus tes seleksi.


Aku yakin bapak malahan senang, kalau mas Raka sekali-kali meminta bantuan bapak


Iya tapi mas yakin kalau kita berusaha keras dan didukung dengan doa, insyallah jalan kita akan dimudahkan dek, kasian bapak sudah banyak urusannya. Jangan sampai mas ikut merepotkan bapak juga


Ya sudah terserah kamu saja mas! asalkan jangan jadikan ini alasan untuk memundurkan janjimu

 

Percakapan ini sering kali terjadi diantara mereka dan selalu Raka memiliki alasan untuk menolak permintaan Laras untuk menggunakan bantuan ayahnya. Meskipun demikian Laras bertekad untuk tidak melepaskan Raka kepada siapapun, bahkan kepada Gadis sekalipun. Walaupun jauh didalam hatinya, Laras mengetahui bahwa Raka masih belum dapat melupakan Gadis sepenuhnya. Namun karena rasa cinta Laras yang sangat mendalam membuat Laras menutup mata dan hatinya. Laras tidak dapat membayangkan hidup tanpa Raka. Ia akan berusaha keras untuk membuat Raka menjadi miliknya, meskipun harus memakai pengaruh ayahnya.

 

✈ ✈ ✈

 

“Mas Raka sering makan disini ya mas?” Pamela menatap Raka kemudian kembali menyuapkan ceker ke mulutnya yang tidak berhenti mengunyah sejak gudeg ceker pesanannya datang.

 

“Iya” Raka menjawab pertanyaan Pamela dengan singkat dan memilih menatap Gadis yang sedang asyik memainkan sendok yang berada didalam gelas es teh manisnya.

 

Tatapan Raka menyiratkan ketidak sabarannya, jika saja Pamela tidak ngotot untuk ikut pergi bersama mereka, maka Raka sudah mengajukan seribu pertanyaan yang mengganjal dibenaknya.

 

Setelah mendengar percakapan antara ibu dan ayahnya, Raka segera menuju hotel tempat Gadis menginap.

 

Setibanya di Lobby Hotel Raka mengirimkan pesan kepada Gadis untuk mengajak bertemu. Raka yang pantang ditolak memaksa Gadis untuk menemuinya, ia mengancam akan mengetok setiap pintu kamar di hotel ini sampai Gadis setuju untuk menemuinya. Karena khawatir akan menimbulkan keributan Gadis mengajak Pamela untuk menemui Raka. Dan disinilah mereka bertiga menikmati makan malam di Warung Gudeg Ceker Bu Mari yang berada di Jalan Gatot Subroto.

 

Warung Gudeg yang terkenal ramai dikunjungi malam itu tampak lebih ramai dari biasanya. Pelayan yang sibuk menghidangkan sajian kepada pelanggannya dan suara obrolan pengunjung yang sayup-sayup terdengar membuat Raka mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Gadis disitu.

 

“Mas Raka tidak makan?” Gadis yang merasa sedang diperhatikan melihat bahwa Raka hanya sibuk memperhatikannya dan tidak menyentuh hidangannya.

 

“Sebenarnya aku sudah makan Dis sebelum kesini”


“Kalau tahu mas Raka sudah makan, kenapa kita tidak pergi ke coffee shop saja mas?”

 

“Tadi kan Pamela bilang kalian belum makan malam. Makanya aku ajak kalian ke sini karena selain warung gudeg ini merupakan salah satu warung yang terkenal enak makanannya di Solo, warung ini juga buka 24 jam” di depan Pamela Raka berpura-pura menjelaskan kepada Gadis mengenai warung ini. Seolah-olah ia tidak pernah mengajak Gadis makan di tempat favorit mereka ini.

 

“Iya benar mas Raka… disini Gudeg nya enaaak banget tidak kalah deh sama gudeg Jogja. Apalagi cekernya empuk bangeett!” Pamela menambahkan dengan antusias dan segera menandaskan isi piringnya.

 

“Hush sudah jangan makan banyak-banyak ini sudah malam, nanti berat badan kamu naik kamu bisa kena grounded, tidak boleh terbang baru tahu rasa kamu” Gadis menegur Pamela yang makan seperti orang yang kelaparan.

 

“Biar saja, kan sesekali juga, tidak tiap malam aku makan malam mbak. Lagipula aku masih under weight kok mbak jadi kalau makan banyak berat badanku malahan jadi ideal donk. Jadi body-ku tidak kalah seksi dengan mbak Gadis, iya kan mas Raka?” balas Pamela yang mengerucutkan bibirnya lucu meminta persetujuan Raka.

 

Raka merasa salah tingkah dan tertunduk malu ketika ia menyadari kebenaran dari perkataan Pamela. Gadis yang sekarang berada dihadapannya adalah Gadis dengan paras wajah yang cantik dengan lekuk tubuh yang sangat indah bukan lagi Gadis yang dulu berwajah manis dan bertubuh kurus tidak berisi.

 

Raka menjawab pertanyaan Pamela dengan gugup “Iya saya rasa begitu”

 

Melihat kegugupan Raka, Gadis hanya tersipu malu, entah mengapa meskipun Gadis telah banyak berubah, tetapi ketika berada di dekat Raka, Gadis seolah menjadi Gadis yang dulu yang polos dan malu-malu ketika berhadapan dengan laki-laki.

 

Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya, Raka segera mengantarkan Gadis dan Pamela ke hotel mereka. Pamela yang tampak sangat mengantuk berpamitan kepada Raka dan Gadis menuju kamarnya. Gadis juga bermaksud untuk pamit kepada Raka untuk segera masuk ke dalam kamarnya, namun tiba – tiba Raka menahan lengannya.

 

“Boleh aku berbicara secara pribadi dengan kamu Dis?” Raka menatap Gadis dan seolah mata Raka meminta persetujuan Gadis untuk mengizinkannya.

 

“Please Dis, saya janji tidak akan lama” Raka berusaha meyakinkan Gadis yang tampak ragu.

 

Akhirnya Gadis mengalah dan mempersilahkan Raka untuk masuk ke dalam kamar hotelnya. Raka memperhatikan dengan seksama kamar hotel yang ditempati Gadis, ruangan yang berukuran cukup besar itu dilengkapi dengan interior bergaya victorian. Ranjang ukuran king size yang ditempatkan ditengah-tengah ruangan itu semakin memberi kesan mewah di kamar itu.

 

Gadis mempersilahkan Raka untuk duduk di kursi, sedangkan ia memilih untuk duduk di atas ranjang king size tersebut.

 

Raka mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan. “Dis aku mau meminta maaf kepada kamu” Raka menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan perkataannya “Kenapa kamu tidak jujur kepada aku sejak awal Dis. Aku tahu kalau ibu menemui kamu… meminta kamu untuk meninggalkan aku”

 

Gadis tampak terkejut mendengar Raka mengetahui alasan yang selama ini dirahasiakannya. Gadis mencoba menekan rasa sakit hatinya yang tiba-tiba muncul kembali setelah sekian lama. Ia kembali mencoba bersikap tenang dihadapan Raka.

 

“Memangnya kamu tahu darimana mas?” tanpa perlu mendengarkan jawaban dari Raka, Gadis kembali melanjutkan. “Ibu kamu tidak meminta aku untuk meninggalkanmu, malah aku yang sadar diri, sadar akan kekurangan aku dibandingkan kamu. Kamu seorang perwira dan aku hanyalah tamatan SMA yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan mas. Jadi jangan salahkan ibumu akan kepergianku”

 

“Kurang kamu apa Dis! Di mataku hanya kamu lah perempuan yang paling sempurna untuk menjadi pendamping aku” Raka mencoba meyakinkan Gadis akan perasaan hatinya.

 

“Saat itu kita pun tahu mas, hubungan kita hanya sebatas cinta monyet saja, tidak mungkin dibawa kemana-mana. Aku ingin menjemput impian aku mas, jadi ucapan ibumu tidak berpengaruh apa-apa terhadapku mas”

 

Raka yang mengetahui bahwa Gadis berbohong merasa frustasi dan mencoba mendekatinya, ia berjongkok dihadapan Gadis, menatap lekat mata gadis yang dicintainya itu.

 

“Oh Tuhan Gadis… Andaikan kamu tahu betapa menderitanya aku ketika kamu tinggalkan” Suara Raka terdengar sangat terluka, Tangan Raka mendekat, jarinya menyentuh wajah Gadis dengan lembut seolah berusaha meyakinkan Gadis akan perasaannya, membelai pelan pipinya, terus turun dan berhenti tertuju kepada bibir Gadis yang merekah karena merasa terkejut akan sentuhan Raka yang terasa memabukkan.

 

Merasa sentuhannya tidak ditolak Gadis, Raka menangkup wajah Gadis dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya hingga nyaris tak berjarak.

 

Euforia akan kenangan masa lalu pun menyeruak, malam itu ketika gerimis mulai turun, kenangan indah diantara mereka bergemuruh memecahkan kerinduan yang tertahan selama bertahun – tahun lamanya.

 

Bibir Raka menyentuh bibir Gadis dan mereka berdua berpangutan, masing – masing dari mereka berusaha mengobati luka dari kisah cinta mereka yang tidak selesai di masa lalu.

 

Ciuman Raka yang kini merambah ke leher Gadis yang jenjang membuatnya dapat menghirup aroma manis dari tubuh Gadis. Membuat Raka semakin merengkuh erat tubuhnya. Gadis membalas dengan gairah yang sama ketika Raka semakin gencar menciuminya.

 

Dan entah karena kerinduan yang tertahan selama bertahun-tahun atau karena terbawa suasana, Raka bergumam dalam hati “Malam ini kamu harus menjadi milikku Dis

✈ ✈ ✈

 

“Flight Attendant Take off Position” Captain Zul memberikan command kepada para pramugarinya ketika burung besi itu siap mengudara ke langit lepas kembali ke Jakarta.

 

Siang itu Gadis yang sedang bertugas di pesawat tidak berhenti tersenyum memikirkan Raka. Ia kembali membayangkan kejadian semalam yang tidak terlupakan.

 

Seakan tidak pernah puas mencumbu Gadis, Raka membelai mesra rambut Gadis yang tergerai indah. Merasa diberi kesempatan bibir Raka semakin berani menyentuh tubuh Gadis, menciumi lehernya yang jenjang. Raka menggeram dan kembali mencium bibir Gadis menuntut.

 

Tung.. Suara tanda Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dimatikan membuat lamunan Gadis terhenti. Gadis yang saat ini sedang duduk di jump seat, kursi yang di khususkan untuk tempat duduk pramugari semasa lepas landas dan mendarat, segera melepaskan sabuk pengamannya dan bangkit dari kursinya, bersiap untuk memulai pekerjaannya.

 

Setelah Gadis selesai melakukan safety announcementannouncement yang menghimbau penumpang untuk tetap menggunakan sabuk pengaman walaupun lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dimatikan, Gadis menepuk pundak Pamela dan memberikan tugas kepadanya.

 

“Pam, aku mau assist cockpit dulu ya, tolong kamu stand by dulu di Galley depan, jangan lupa mengecek makanan yang sudah aku pre-heat di ground tadi”


“Ok beres mbak”
Pamela segera melaksanakan tugas dari seniornya tersebut.

 

Setelah selesai menanyakan keperluan makan dan minum Captain dan co pilot nya Gadis kembali membantu Pamela yang sedang bekerja di Galley depan.

 

“Captain Zul dan mas Ivan belum mau makan, mereka cuma minta jus apel saja Pam”


“Ok mbak, Pamela bantu siapkan ya”
Pamela pun memberikan jus apel pesanan kedua pilot tersebut kepada Gadis.

 

Setelah selesai mengantarkan minuman ke dalam Flight Deck, Gadis mendatangi Pamela yang sedang menyiapkan minuman di atas trolley makanan. Makanannya sudah ready semua Pam?”


“Sudah mbak, mau dimasukin ke dalam trolley sekarang mbak?”


“Iya boleh… kita rapikan sekarang saja Pam”
Gadis mulai memasukan main dish tersebut ke dalam trolley dan menyusunnya dengan rapi agar mudah disajikan ketika serving makanan dimulai.

 

Ditengah kegiatan mereka, Pamela bertanya dengan mimik wajah serius.

 

“Mbak Gadis … Captain Zul masih kecanduan judi ya mba?”


“Hmmm … sepertinya sih masih Pam, karena tadi sebelum take off aku mendengar Captain Zul menelepon bandar judinya, dia mau pasang judi bola buat malam ini, kalau nggak salah denger sih dia mau pasang Juventus Poor 1/2 ”


“Hah poor ½ maksudnya apa tuch mbak?”
Pamela menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kamu tanya aja sama Captain Zul! Atau tanya sama mas Ivan, kan mereka sama-sama penggemar judi bola Pam”


“Nggak berani ah mbak, nanti aku tanya Pacal ku aja ah”
Pamela memendekkan lidahnya agar terdengar seperti anak kecil yang cadel dan tidak bisa mengucapkan huruf R.

 

“Tanya Mbah Google aja pasti lebih akurat daripada Pacal mu itu” Gadis membalas dengan meniru gaya alay Pamela mengucapkan kata pacar menjadi Pacal.

 

“Ihh mbak Gadis iri tuh aku punya Pacal!!! Mbak Gadis kan nggak punya Pacal!”


“Kata siapa aku nggak punya Pacal?”
Gadis sengaja menggoda Pamela dengan terus memplesetkan kata pacar.

 

“Seriussssan … memang mbak Gadis punya pacar? Siapa mbak? Jangan jangan … Mas Raka yaa? Ayooo tadi malem kalian ngapain setelah aku tinggal tidur?” Pamela mengakhiri kalimatnya dengan mengedipkan matanya.

 

“Kasih tauu nggak yaa???” Gadis semakin menggoda rasa penasaran Pamela.

 

“Pliss mbaak Gadis, aku kepo maksimal nie mbak, ceritain donk mbak, pliss!!!”


“RAHASIA”
Gadis memeletkan lidahnya. “Yuuk ah … kita mulai serving makanan, pasti penumpangnya sudah nggak sabar mau makan karena mencium aroma makanan” Gadis berkata sambil mendorong trolley makanan menuju kabin pesawat.

 

“Iihh mbak Gadis nyebelin banget sih! pokoknya sehabis kita serving makanan, mbak Gadis wajib banget ya cerita semua detailnya sama aku” Pamela yang sudah sangat penasaran memaksa Gadis untuk menceritakan tentang kejadian semalam. Dan Pamela terpaksa ikut menarik trolley makanan tersebut mengikuti instruksi seniornya.

 

Setelah mereka selesai meng-clear-up kabin, Pamela kembali merengek meminta Gadis untuk menceritakan mengenai hubungannya dengan Raka.

 

Mbak Gadis… ayooo donk ceritain aku mbak


Iiih anak kecil mau tahu urusan orang dewasa deh! Gadis kembali menggoda Pamela.


Yaaa sudah dech kalau nggak mau cerita Pamela memajukan bibirnya seperti anak kecil yang kesal tidak dibelikan ice cream. 2 menit kemudian Pamela tidak tahan untuk kembali merajuk kepada Gadis.

 

“Mbak ayooo dong ceritaaaa… Eh tapi tunggu deh mbak… aku tuh udah curiga sama mas Raka. Dari awal ketemu sampai tadi malam tuh cuma ngeliatin mbak Gadis terus… Terus tadi malam itu kayanya aku jadi nyamuknya kalian gitu. Jelas banget dari tatapannya, mas Raka suka banget sama mbak Gadis”


“Masa sih?”
Gadis menjawab kalem.

 

“Iya makanya aku buru-buru aja masuk kamar tadi malem, biar nggak dibilang junior nggak pengertian hahaha… “

 

Pamela tertawa mendengar kalimatnya sendiri.

 

“Terus tadi malem bagaimana…? Cerita donk mbaak… pliss jangan buat aku mati penasaran yaa mbak Gadis yang cantik dan baik hati” Pamela makin membujuk Gadis untuk menceritakan semuanya.

 

“Yaaa kamu maunya bagaimana” Gadis tersenyum usil menanggapi kekepoan Pamela.

 

“Aku maunya mbak Gadis jadian sama mas Raka, habisan mas Raka ganteng banget dan keliatan baik. Satu lagi yang paling penting mbak kalau memilih pacar jangan pilih yang pelit mbak. Dan mas Raka itu orangnya nggak pelit mba, kita aja tadi malem ditraktir makan kan, mana aku makannya banyak banget” Pamela mengelus-elus perutnya yang masih terlihat rata.

 

“Iyaa” Gadis tersenyum lebar.

 

“Iyaa apa mba? Iya aku makannya banyak atau mba Gadis pacaran sama mas Raka?” ekspresi Pamela yang bingung membuat Gadis tidak dapat menahan tawanya.


“Kok malah ketawa mba, aku ini serius loh bukannya lagi bercanda”
Pamela merasa jengkel dengan jawaban ambigu seniornya.

 

“Yaa dua duanya, dasar kamu lola” Gadis mengejek Pamela yang memang terkenal sebagai pramugari lola alias loading lama.

 

“Yeayy… akhirnya mbak Gadis nggak jomblo lagi” suara Pamela yang terlampau keras membuat Gadis terpaksa menutup mulut Pamela dengan tangannya.

 

“Hey Pam … Nggak sekalian kamu announce pakai Public Address System aja Pam, biar sekalian semua penumpang kita bisa ikutan denger” Gadis menyindir Pamela yang terlampau gembira mendengar kabar mengenai Gadis dan Raka.

 

“Kalau Captain kasih izin, aku mau kok buat announcement-nya , Ibu – ibu dan bapak -bapak yang terhormat.. Kami informasikan bahwa mbak Gadis tidak lagi jones atau jomblo ngenes hahahaha….” Pamela menirukan gaya pramugari memberikan announcement pramugari kepada penumpang di pesawat.

 

“Hahaha … kamu ini yaa JULAK – Junior Laknat. Cuma kamu satu – satunya junior yang berani nge-bully senior” Gadis menyeka airmatanya yang keluar ketika ia menertawai Pamela yang dirasa lebih bersemangat mendengar Gadis memiliki pacar dibandingkan dirinya sendiri.

 

“Mbak Gadis… aku merasa seneng bangeeett buat mbak Gadis” Pamela tiba-tiba memeluk tubuh Gadis dan membuat Gadis semakin mengeluarkan air mata karena tertawa lepas.

 

Kemudian tiba-tiba Pamela melepaskan pelukannya dan bertanya “Tapi tadi malem nggak cuma one night stand kan mba?” Pamela bertanya dengan polosnya.

 

Gadis pun hanya tersenyum penuh arti tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan juniornya itu. Pamela yang merasa tidak mendapat jawaban pasti dari Gadis kembali merengek meminta jawaban dari Gadis, hingga akhirnya dengan suara yang teramat pelan dan hampir tidak terdengar Gadis membisikkan jawabannya ke telinga Pamela yang hampir mati penasaran.

 

“Katanya dia cinta aku”


“Hah apa mbak? aku nggak denger!! Tolong ulangin lagi mbak !!!
seru Pamela heboh.

 

Mba Gadis.. mba..” Pamela mengejar Gadis yang asyik ngeloyor pergi meninggalkannya menuju kabin pesawat. Begitu sadar penumpang memperhatikannya, Pamela yang sedang mengejar Gadis segera berpura-pura berjalan dengan anggun di kabin pesawat.

 

✈ ✈ ✈

 

Gadis langsung menyalakan telepon genggamnya ketika berada di dalam mobil jemputan crew yang mengantarkannya pulang ke apartemen. Tidak lama setelah telepon genggamnya menyala masuk pesan singkat dari Raka.

 

“Gadis…. Aku Rindu”


Pesan singkat itu mampu membuat Gadis tersenyum bahagia sepanjang perjalanan.

 

 

We are still kids but we’re so in love
Fighting against all odds
I know we’ll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I’ll be your man
I see my future in your eyes
Baby, I’m dancing in the dark
With you between my arms
Barefoot on the grass
Listening to our favourite song
When I saw you in that dress
Looking so beautiful
I don’t deserve this
Darling, you look perfect tonight

 

 

Suara alunan lagu dari Ed Sheeran yang sedang diputar di radio membuat Gadis teringat kembali sikap mesra Raka selepas mereka bercinta.

Raka mencium kening Gadis dan menarik Gadis lebih dekat ke pelukannya.

 

“Kamu tidak meyesal mas?” Gadis bersuara dan berusaha membuat sedikit jarak dari pelukan Raka yang terlampau erat.

 

Terkejut mendengar pertanyaan Gadis, pelukan Raka sedikit mengendur dan Raka menatap lekat mata perempuan yang sangat dicintainya itu.

 

“Menyesal bagaimana maksud kamu sayang?” Raka memanggil Gadis dengan mesra.

 

“Maksudku apakah kamu tidak menyesal kalau aku sudah tidak.. “ Gadis merasa malu melanjutkan kalimatnya.

 

“Sudah .. tidak perawan” dan akhirnya ia mampu melanjutkan kalimatnya.

 

Raka mencium bibir Gadis dengan kecupan – kecupan kecil “Aku tidak peduli, karena aku sudah terlanjur sangat mencintaimu. Dan aku tidak akan mau lagi berpisah denganmu. Gadis… kau adalah perempuan yang paling aku cintai lebih dari apapun dan siapapun. Raka kembali mencium bibir Gadis dan mengecup keningnya dengan lembut.

 

Hati Gadis berdesir halus, indahnya kata-kata cinta dari Raka, membuat ia berpikir apakah ia bermimpi dapat menjalin kasih dengan laki-laki yang dicintainya dan merasakan hatinya yang beku kembali mencair.

 

Lamunan Gadis terputus ketika telepon genggamnya berbunyi dan tercantum nama Raka dilayarnya. Gadis segera mengangkat panggilan tersebut.

 

“Hallo” suara Gadis terdengar malu-malu mengingat ia baru saja mengenang kejadian tadi malam.

 

“Hallo sayang… kamu sudah landing di Jakarta?” dapat terdengar suara Raka yang sumringah.

 

“Iya sudah mas, mas Raka sudah makan? Ini sudah waktunya makan siang, jadi mas Raka jangan lupa untuk makan ya!” Gadis mencoba terdengar tidak malu-malu ketika memberikan perhatian kepada Raka.

 

“Sayang… Kok kamu nggak panggil aku sayang sih!!!” Raka merajuk seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.

 

“Iya sa.. sa.. sayang” jawab Gadis terbata-bata. Gadis yang selama ini tidak pernah memiliki kekasih, merasa sungkan memanggil laki-laki dengan panggilan sayang. Selama ini hubungan yang ia miliki hanyalah hubungan fisik tanpa melibatkan emosi dan perasaan. Berbeda dengan hubungannya dengan Raka yang sarat dengan cinta.

 

“Iya Gadisku yang cantik, mas nggak akan lupa makan, apalagi nggak akan lupa sama kamu sayang hehehe…”


“Huh dasar mas Raka gombal”


“Kok gombal sih sayang, aku kan nggak pernah gombalin kamu”


Iya dech nggak ngombal cuma pintar merayu


Hahaha…. Raka tertawa senang. Aku selalu merindukanmu! meskipun kamu berada di hadapanku aku masih merindukanmu” Gadis tersenyum dan tersipu malu mendengarnya.

 

“Iya mas Raka ku sayang, jangan lupa makan yaa! Aku juga merindukanmu”


“Kalau saja ayahku tidak sakit, pasti aku sudah menyusul kamu dengan penerbangan siang ini dan menghabiskan waktu bersamamu sepanjang hari”
Terdengar nada kecewa dari suara Raka.

 

“Iya mas Raka, aku doakan ayahmu cepat sembuh, biar mas Raka….” Sengaja Gadis menggantung kalimatnya sehingga Raka merasa penasaran dengan akhir kalimatnya.

 

“Biar aku kenapa sayang?”


“RAHASIA”


“Loh kok RAHASIA???” “Biar aku kenapa sayang, jawab donk!”


“Iya.. iya aku jawab, biar mas Raka bisa aku peluk seharian”


“Hahahaha… Oke kalau mau kamu begitu,nggak usah menunggu ayahku sembuh, sekarang juga aku bisa terbang ke pelukanmu”

 

“Ja… ja… jangan mas, aku cuma bercanda” takut kegilaan Raka kambuh dan benar-benar datang menemui Gadis, cepat-cepat ia meralat perkataannya.

 

“Kenapa… takut yaa aku nekad terbang ke Jakarta?”


“Siapa yang takut!!!”


“Ok aku ke bandara sekarang”


“Ok”


“Tunggu aku yaa”


“Hahaha mas gombalin aku terus nie. Sudah dulu yaa mas Raka, aku baru saja sampai lobby apartemen. Aku turun dari mobil dulu yaa!”


“Ciuman buat aku mana???”


“Aku masih sama driver mas, malu”
bisik lembut Gadis di telepon genggamnya


“Kalau kamu nggak cium, aku nggak mau tutup teleponnya”


“Mas please, aku malu!”


“Aku tunggu sampai kamu cium aku!!!”

 

Dengan sangat terpaksa Gadis memberikan suara kecupan di telepon untuk Raka “muaaaah”

 

“Muaaaah I love you Gadis”


“Me too”
jawab Gadis dengan wajah merona dan ia segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.

 

Pak Rizal driver yang mengantar Gadis hanya senyum – senyum saja mendengar Gadis memberikan kecupan di telepon untuk laki-laki diseberang sana.

 

“Terima kasih Pak Rizal” Gadis memberikan uang tips untuk pak Rizal yang telah mengantarkannya.

 

“Iya sama-sama mbak Gadis, selamat istirahat mbak” senyuman Pak Rizal menyiratkan bahwa ia maklum akan kemesraan yang dilihatnya tadi ketika Gadis menerima panggilan telepon dari Raka.

 

✈ ✈ ✈

 

Ting tung.. Ting tung.. Ting tung.. bunyi bel membangunkan Gadis dari tidurnya, ia melihat ke arah jam yang berada di atas nakas. Jam menunjukkan pukul 7 malam “aku ketiduran” gumam Gadis pelan seraya bangkit dari tempat tidurnya.

 

Setelah selesai mandi Gadis berniat menunggu Raka yang berjanji akan meneleponnya. Gadis merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah setelah menghabiskan malam bersama Raka dan langsung terbang kembali ke Jakarta. Tanpa terasa ia pun tertidur dan terbangun oleh bunyi bel yang ditekan secara berulang-ulang dan terkesan tidak sabar.

 

Gadis segera beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu apartemennya. Ia terkejut ketika melihat buket bunga mawar merah berukuran besar dibawa oleh seseorang.

 

“Maaf dengan ibu Gadis Ginanti? Ini ada kiriman bunga untuk ibu”


“Maaf dari siapa ya pak?”


“Ini ada kartu pengirimnya, sebentar saya lihat ya Bu!”


“Kiriman dari Bapak Raka Wardhana”


“Silahkan ditandatangani disini Bu”
kemudian kurir tersebut memberikan bunga itu kepada Gadis.

 

Gadis membaca kartu ucapan yang terdapat diantara helaian bunga mawar.

 

“Setiap waktu yang aku habiskan bersamamu adalah kebahagiaan. Aku berharap waktu dapat berhenti sehingga kebahagiaan itu tidak akan pernah hilang. Aku cinta kamu – Raka”

 

Gadis merasa bahagia, betapa sempurnanya hari ini. Ia mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan kalimat I love you too Raka ia tersenyum dan menekan tanda send.

 

✈ ✈ ✈

 

Usai mendengarkan pembicaraan antara ibu dan ayahnya, Raka mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju hotel tempat Gadis menginap bersama crew-nya.

 

Sepanjang perjalanan Raka mengingat kembali percakapannya bersama ibundanya ketika Gadis menghilang dulu.

 

“Bu, Ibu tahu Gadis kekasihku kan bu?”


“Iya Le, memangnya kenapa?”
Ibunda Raka merasa gelisah, Raka membuka percakapan mengenai Gadis.

 

“Aku tidak mengerti bu, kemana lagi aku harus mencari Gadis, seolah Gadis hilang ditelan bumi bu” Raka menunduk sedih.

 

Ibunda Raka hanya terdiam dan menunggu Raka menyelesaikan ceritanya.

 

“Apa salahku Bu sehingga dia meninggalkan aku tanpa pesan ?”

 

Hening… Ibunda Raka memilih untuk tidak menjawab pertanyaan putranya.

 

“Dia menghilang tanpa jejak dan aku mengetahuinya ketika aku pulang IB pertama kali dari Magelang. Aku bertanya kepada ibunya, kepada teman-temannya, tidak satupun dari mereka yang memberikan jawaban memuaskan. Sebenarnya apa yang terjadi, aku tidak mengerti Bu” Raka memijat-mijat pelipisnya berusaha menghilangkan sakit kepala yang melandanya.

 

“Ibu mengerti perasaanmu Le… Ibu pun tahu kalau kamu sedang bingung dengan keadaanmu sekarang ini, tapi masa depanmu masih panjang. Kamu sedang menempuh pendidikanmu, coba kamu kesampingkan dulu masalah ini, demi masa depanmu. Kalau memang kamu berjodoh dengan Gadis maka kamu akan bertemu dengannya lagi”

 

“Iya Bu” Raka menjawab patuh.

 

Raka berusaha menuruti nasehat ibunya dan mulai berkonsentrasi kembali pada pendidikannya di Magelang. Namun ketika malam ini ia mengetahui kebenarannya, rasa kecewa terhadap orangtuanya membuat ia merasa sesak. Terlebih lagi kekasihnya Laras pun mengetahui mengenai hal ini, membuat ia merasa terkhianati.

 

Sembilan panggilan telepon dari Laras telah ia acuhkan, hingga pada panggilan kesepuluh akhirnya Raka memutuskan untuk mengangkatnya.

 

“Iya dek, ada apa?”


“Mas Raka lagi dimana?”


“Aku lagi dijalan, mau ketemu senior”


“Kamu nanti pulang jam berapa mas? biar nanti aku hubungi lagi”


“Kamu tidur duluan saja, seniorku ngajak kumpul-kumpul, bisa – bisa larut malam aku baru pulang”


“Iya mas, hati – hati dijalan, jangan pulang malam – malam ya mas”

 

Tut… Raka dengan cepat memutuskan panggilan telepon dari Laras. Dan kembali berkonsentrasi mengemudi.

 

✈ ✈ ✈

 

Setibanya di lobby hotel, Raka menghubungi Gadis memintanya untuk bertemu. Namun Gadis menolaknya, Raka yang hilang akal mengancam akan mengetok semua pintu kamar hotel hingga Gadis mau menemuinya.

 

Dan di Warung Gudeg Ceker Bu Mari, Raka menatap Gadis dengan tatapan tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya dari mulut Gadis.

 

Malam ini Gadis tampak cantik, tidak sedetikpun ia mengalihkan pandangannya dari Gadis, sehingga Gadis merasa jengah dan menunduk malu, memainkan sendok yang berada di gelas es teh manisnya.

 

Raka tidak sabar untuk mengantar Gadis ke hotel meminta waktu berdua untuk berbicara. Kesempatan itu datang, Raka segera masuk ke dalam kamar Gadis. Dadanya berdebar kencang menyadari dia hanya berdua saja di dalam kamar itu. Gerimis di luar membuat kenangan diantara mereka bergemuruh dan menghanyutkan keduanya.

 

Keesokan harinya Raka terbangun dengan Gadis berada di dalam pelukannya.

 

“Selamat Pagi sayang” Raka mengecup kelopak mata Gadis yang baru saja terbuka.

 

“Good morning” Gadis tersenyum hangat kepadanya.

 

“Kamu cantik” Raka membelai lembut rambut indah kekasihnya. “Sayang, kamu terbang jam berapa hari ini?” Raka mengingat bahwa Gadis harus kembali ke Jakarta hari ini.

 

“Wake up call aku satu jam lagi dari sekarang” Gadis menatap Raka dan membelai lembut pipinya.

 

“Kamu mau siap-siap sekarang sayang?” Raka mengecup puncak kepala Gadis.

 

“Mas sudah mau pulang?”

 

“Iya mas harus pulang, hp mas mati .. takut ada telepon dari rumah atau dari kantor. Nanti mas hubungi kamu lagi ya, kalau kamu sudah landing di Jakarta”

 

“Iya mas”


Raka pun mengecup ringan bibir Gadis dan bergegas untuk kembali ke rumah orang tuanya.

 

✈ ✈ ✈

 

“Assalamualaikum Bu” Raka masuk ke dalam rumah dan mencium tangan ibundanya.

 

“Kamu baru pulang Le? Tadi malam Laras menelepon ibu menanyakan kamu dimana”


“Kumpul – kumpul sama senior bu, Raka menginap dirumahnya letting. Ayah sudah lebih baik belum Bu ?”


“Ayahmu sudah baikan jadi minta infusnya dilepas saja”


“Saya mau mandi dulu Bu, kemudian mau ke kamar menengok ayah”

 

Raka menghindari tatapan ibundanya, antara rasa kecewa dan bersalah datang silih berganti di hati Raka sehingga ia memilih untuk segera pergi dari hadapan ibundanya.

 

Ketika Raka berlalu pergi, ibundanya bergumam pelan. “Semoga Raka tidak berbohong” Firasat seorang ibu berkata bahwa Raka menyembunyikan sesuatu, ia berharap bahwa firasatnya hanyalah prasangka buruk terhadap putranya yang tidak memberi kabar semalaman.

 

✈ ✈ ✈

 

“Sudah baikan yah!” Raka memijat kaki ayahnya yang sedang berbaring.

 

“Ayah sudah merasa lebih baik sejak kedatanganmu, ayah tidak ingin membuat kamu dan ibumu repot mengurus ayah”

 

“Jangan dipaksakan yah, kalau memang belum sembuh benar. Tidak baik memforsir diri sendiri yah”


“Menurut dokter, ayah mengalami serangan jantung ringan saja dikarenakan stress akan pekerjaan”
Ayah Raka menjawab dengan lemah.

 

“Ayah jangan menganggap enteng serangan jantung yah. Ayah harus sering check up ke rumah sakit dan menjaga pola hidup sehat”


“Karena ayah sudah semakin tua maka dari itu jantung ayah lemah. Dan sebelum ayah menjadi semakin tua, ayah ingin melihat kamu menikah nak”.

 

Raka hanya terdiam tidak menjawab.

 

“Laras wanita yang baik, cocok untuk menjadi pendamping hidupmu. Menjadi ibu dari anak-anakmu kelak Raka”


“Iya yah”

 

Telepon genggam Raka bergetar, nama Laras muncul di layarnya.

 

“Yah, Raka angkat telepon dari Laras dulu ya”

 

Raka mengangkat panggilan itu dengan setengah hati.

 

“Iya dek”


“Mas Raka, lagi dimana?”


“Aku tadi lagi bersama ayah di kamar”


“Mas Raka sudah makan siang?”


“Iya sebentar lagi”

 

Laras merasa sikap Raka canggung dan menjaga jarak kepadanya.

 

“Mas tadi malam janjian sama senior dimana?”


“Di warung gudeg dek. Kenapa kamu nanyain itu dek?”
Raka mulai merasa risih oleh sikap Laras yang dirasa menginterogasinya.

 

“Mas Raka tolong jujur sama aku mas, tadi malam kamu ketemu sama siapa mas?” terdengar suara Laras menahan tangisnya diseberang sana.

 

“Maksud kamu apa dek?”


“Sahabatku Elizabeth melihat mas Raka makan di warung gudeg dengan dua orang gadis cantik, siapa mereka mas?”


“Aku kebetulan bertemu dengan teman lamaku disana”


“Siapa mas? Gadis?”

 

Raka terdiam, tidak menjawab pertanyaan Laras yang tepat sasaran.

 

“Jawab aku mas, tolong kamu jangan bohongin aku mas”


“Iya”
Raka mencoba bersikap jujur kepada Laras.

 

Tut… dan sambungan telepon diputuskan oleh Laras yang tidak tahan menahan tangisnya.

 

 

 

 

Credit :

Anastasia Anderson – Kaskus.co.id

Based on True Story

2018

https://www.kaskus.co.id/thread/5bc015fc54c07a212b8b4579/tamat-gadis-pramugari/

Post a Comment

You don't have permission to register